BOPM Wacana

Eksotisme Si Pulau Putri

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Yulien Lovenny Ester Gultom

Masih belum terjamah, eksotisme Pulau Putri buat ternganga.

Gradasi warna air laut di Pulau Putri. | Yulien Lovenny Ester Gultom

Pagi-pagi sekitar pukul tujuh kami tiba di Kota Pandan tepatnya di Pantai Bosur. Kota ini berada di Tapanuli Tengah. Dari Medan kami berangkat pukul delapan malam agar bisa tiba keesokan paginya. Dengan membayar sembilan puluh ribu rupiah, kami berangkat dari stasiun menuju Kota Pandan.

Butuh delapan jam untuk menuju lokasi ini. Buat Anda yang tidak mengenal Tapanuli Tengah mungkin wajar, sebab Sibolga lebih dikenal dibanding Tapanuli Tengah.

Niat awal kami mengunjungi Tapanuli Tengah adalah Pulau Mursala— pulau yang dikenal dengan air terjun setinggi tiga puluh meternya. Tapi destinasi kami bertambah sebab saat hendak menyewa kapal, kami bertemu salah seorang pengunjung. Mereka berencana Pulau Mursala dan Pulau Putri.

Satu buah kapal cepat disewa seharian dengan harga dua juta rupiah. Biayanya memang cukup mahal tapi kapasitas kapal untuk menuju pulau ini cukup besar pula, bisa mengangkut dua puluh orang dan untuk tiga jam perjalanan, satu kapal cepat setidaknya membutuhkan tiga jeriken bensin.

Dari Mursala, destinasi kami selanjutnya Pulau Putri. Normalnya, butuh tiga jam untuk tiba di pulau eksotis ini dari Kota Pandan. Tapi kami bergerak dari Pulau Mursala, jadi hanya perlu satu setengah jam menggunakan kapal cepat. Lautan terbentang sangat luas, di sepanjang perjalanan kami bahkan melihat banyak ikan terbang.

Semula tak ada ekspektasi yang tinggi untuk Pulau Putri sebab di Pulau Mursala kami hanya diam di bawah air terjun dan berenang di sekitarnya tanpa sempat menginjakkan kaki ke pulau. Luar biasa, dua kata yang menggambarkan keindahan Pulau Putri. Hamparan pasir putih, air yang jernih, ribuan terumbu karang yang nampak dengan mata telanjang, ikan-ikan kecil yang mengelilingi kaki kita ketika masuk ke dalam air.

Di sisi kanan pulau ada cottage tempat Anda yang mau menginap, cottage ini dikelola oleh salah satu hotel swasta, memarkirkan kapal saja dikenakan biaya sebesar lima puluh ribu rupiah.

Karena saat itu kami juga tidak memiliki biaya, kami hanya duduk-duduk di pantai sebelahnya dan memanggang ikan hasil tangkapan dari sekitar pulau. Jika hanya sekadar duduk kita tak perlu membayar alias gratis.

Belum tiba di bibir pantai, mesin kapal kami harus dimatikan sebab sekitar dua puluh meter dari bibir pantai banyak terumbu karang yang hidup.

Tak perlu kacamata renang, tak perlu alat snorkeling canggih bahkan tak perlu menyelam, Anda langsung dapat melihat terumbu karang dari atas kapal. Tak menunggu waktu lama kami melompat ke dalam air. Di dalam air kami melihat banyak ikan berwarna biru, merah, bening mengitari terumbu karang. Terumbu karang di sekitar berwarna merah kecoklatan dan putih.

Lelah berenang, kami menuju ke bibir pantai. Hamparan pasir putih mengelilingi pulau yang berukuran kecil ini, airnya benar-benar jernih dan biru bahkan di sisi kanannya Anda bisa melihat gradasi warna biru menakjubkan, semakin biru semakin dalam lah lautnya.

Suasana di dalam kapal Nemo. | Yulien Lovenny Ester Gultom

Phami Luddin Tanjung, pengemudi kapal cepat mengatakan bahwa pulau ini diberi nama Pulau Putri sebab menurut legenda si putri  mengasingkan diri ke pulau ini karena dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Di seberang pulau ada gundukan seperti kapal terbalik, konon itu adalah bungkusan yang dibawa raja untuk mencari sang putri, bungkusan tersebut jatuh dan membentuk sebuah pulau kecil.

Selain pulau ini ada juga beberapa pulau yang punya keindahan serupa. Pulau Silabu-labu Na Godang, Pulau Kalimantung, dan beberapa pulau lainnya. Phami katakan di Pulau Kalimantung jauh lebih indah dan lebih besar. Ada banyak terumbu karang dan ikan-ikan cantik. “Ada anemon laut di sana,” paparnya.

Pulau Tungkus, berasal dari kata bungkus. Konon ini adalah bungkusan yang jatuh dari tangan raja ketika hendak mengunjungi putri. | Yulien Lovenny Ester Gultom

Usai bercerita tentang legenda pulau dan bakar-bakar, kami kembali ke Pandan. Pulau Putri benar-benar belum terlalu terekspos karena semuanya masih cukup asri, walau ada beberapa sisa bakaran sampah pengunjung yang datang. Tak banyak pengunjung yang mau berlibur ke sini jika hari-hari biasa, kecuali jika hari libur pengungjung bisa puluhan jumlahnya, biaya kapal cepat yang lumayan mahal nampaknya menjadi kendala.

Pulau Putri menjadi pulau favorit saya setelah Mursala sebab di sini saya bisa dengan puas menginjakkan kaki dan berenang, tak seperti Pulau Mursala kami hanya dapat melihat keindahan air terjunnya saja dari kapal dan  Jika Anda ingin berlibur, si pulau eksotis ini bisa jadi pilihan. Selamat berlibur!

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4