BOPM Wacana

Divergent, Perdebatan Soal Perdamaian

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Fredick BE Ginting

Judul : Divergent
Sutradara : Neil Burger
Naskah : Evan Daugherty dan Vanessa Taylor
Pemain : Shailene Woodley, Theo James, Jai Courtney, Kate Winslet
Tahun rilis : 2014

Perdebatan soal perdamaian sudah terjadi di muka bumi ini sejak lama. Sifat manusia yang bernafsu menguasai manusia lainnya telah menciptakan banyak sejarah perang. Dalam istilah perang, ada adagium menyebut: perdamaian dicapai melalui perang.

 

Trias dan Four berlatih. | Sumber Istimewa
Trias dan Four berlatih. | Sumber Istimewa

Adagium yang sebenarnya menyesatkan itu telah mendorong banyak negara-bangsa di dunia mengutamakan sistem pertahanan dan militer yang kuat dengan dalih demi menjaga stabilitas keamanan.

Sejak lama, banyak negara berlomba mengembangan senjata dan teknologi-teknologi militer. Perlombaan senjata bahkan turut memicu terjadinya peristiwa bersejarah dalam dunia: perang dunia, baik pertama dan kedua.

Meminjam ungkapan Thomas Hobbes, filsuf asal Inggris, pada dasarnya sifat alami manusia adalah suka menindas, membunuh, mencuri, memberontak, dan berdusta. Sifat tersebut pada akhirnya menciptakan kondisi dimana tidak ada rasa saling percaya antarmanusia. Setiap manusia menaruh rasa curiga terhadap manusia lainnya. Hobbes menyebutnya leviathan, yaitu manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

Pemikiran Hobbes tersebut masih relevan hingga kini. Ia memberi penjelasan kepada kita alasan masih berlomba-lombanya banyak negara dalam hal mengembangkan senjata militer.

Meski demikian banyak pula orang yang menganggap pemikiran Hobbes tersebut keliru. Kontrapendapat ini mengatakan: manusia tak berbahaya bagi manusia lainnya. Justru sebaliknya jika antarmanusia saling bekerja sama maka kebaikan dan keteraturan bersama akan tercipta.

Pertentangan pendapat ini pula yang terdapat dalam film berjudul Divergent yang diadaptasi dari novel Veronica Roth berjudul sama. Janine Matthews (Kate Winslet) yang berperan sebagai sosok antagonis menganggap divergent adalah orang yang berbahaya dan mengancam perdamaian di tengah-tengah masyarkat Chicago, setting tempat keseluruhan dalam film ini. Pandangan berbeda berasal dari dua sosok divergent yang diperankan Shailene Woodley sebagai Beatrice “Tris” Prior dan Theo James sebagai Tobias “Four” Eaton.

Shailene Woodley yang berperan sebagai Trias. | Sumber Istimewa
Shailene Woodley yang berperan sebagai Trias. | Sumber Istimewa

Di awal film dijelaskan kondisi di Chicago pascaperang yang membuat para pemimpin di kota tersebut menciptakan sebuah sistem faksi yang membagi masyarakatnya menjadi lima kelompok. Namun tidak jelas disebutkan apa hubungan situasi pascaperang tersebut dengan dikelompokkannya masyarakat.

Janine di beberapa adegan mengatakan sistem faksi merupakan satu-satunya cara untuk mempertahankan perdamaian. Dengan sistem faksi, setiap orang punya peran masing-masing sehingga menciptakan keteraturan dan stabilitas.

Kelima faksi itu adalah Erudite (orang-orang pintar yang menghargai pengetahuan dan logika), Amity (orang yang mengolah lahan, baik, harmonis, dan bahagia), Candor (orang yang menghargai kejujuran dan ketertiban), Dauntless (orang pemberani, tak kenal takut, bebas dan bertindak sebagai pelindung sekaligus polisi), dan Abnegation (orang sederhana yang tak mementingkan diri sendiri dan berdedikasi menolong sesama).

Faksi Abnegation juga dipercaya menjadi pemimpin kota ini. Selain kelimanya ada pula kelompok nonfaksi yang tidak tergabung ke satupun faksi yang ada.

Janine yang merupakan petinggi dari faksi Erudite merasa perdamaian terancam dengan kepemimpinan Abnegation. Abnegation yang bersikap menerima kelompok nonfaksi dikhawatirkan merusak keteraturan yang sudah terbangun. Terlebih Abnegation juga menampung divergent, orang yang menonjol di semua sifat faksi yang ada.

Erudite melihat divergent harus dibunuh. Janine memprediksi dengan kelebihan yang dimiliki divergent. Mirip pendapat Hobbes, Janine juga merasa sifat manusia yang suka menyimpan rahasia, berbohong dan membunuh, bisa saja tumbuh dalam benak divergent yang kemudian menjadi ancaman bagi Chicago.

Erudite berniat melakukan kudeta  dan mengambil alih kepemimpinan dari Abnegation. Janine memanfaatkan faksi Dauntless untuk mengancam dan membunuh faksi Abnegation. Saat itulah, Tris dan Four yang menjadi anggota Dauntless mengetahui rencana tersebut dan berniat menggagalkannya. Usaha divergent menggagalkan rencana Erudite inilah yang menjadi konflik utama film ini.

Neil Burger membuat pilihan pintar mengandalkan Shailene dan Theo sebagai tokoh utama. Shailene dan Theo adalah pendatang baru dalam Hollywood. Dan melalui film ini nama mereka mengorbit berkat kesuksesan mereka memerankan tugasnya. Penampilan keduanya sangat prima dan menghidupkan tipikal action sebagai genre film ini. Keduanya juga terlibat hubungan romansa yang menjadi bumbu tambahannya.

Kelemahan film ini adalah akhir yang terkesan tidak tuntas. Setelah kedua divergent melumpuhkan Janine dan kelompoknya, mereka bersama beberapa orang Abnegation yang tersisa dari pembunuhan lari keluar dari Chicago.

Pada akhirnya, mirip dengan akhir film Insidious, penonton dibuat penasaran dan menantikan kelanjutannya di film kedua yang rencananya akan dirilis tahun depan. Mengikut pada trilogi novelnya, serial kedua akan berjudul Insurgent dan masih dibintangi Shilene.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).