BOPM Wacana

Déjà Vu

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Debora Blandina Sinambela

Buih putihnya menggunung dalam gelas keramik putih. Yang membuatnya istimewa dan tak biasa bagiku adalah campuran kayumanis. Aroma kopi, susu dan kayu manis berpadu bak aroma bungamekar saat musim semi. Begitu khas, begitu segar. Lembut dan manis.

“Srupppppp………hmmm” .

Entah apa yang membuatku begitu tergila-gila pada aromanya danhanyut dalam rasanya. Aku menemukan sesuatu yang membuatkubegitu bahagia. Seolah-olah aku pernah merasakannya. Aku termenung.

“Kenapa Ra, ada yang salah?”

“Rara…,Ra…!”

“Em, enggak Ben. Aku baik-baik saja. Hanya aku merasa seolah-olahpernah berada dalam situasi ini. Aku merasa sangat bahagia dengansegala sesuatu yang tak asing bagiku. Tapi di satu sisi ada perasaankehilangan dan kepedihan yang dalam aroma, rasa dan perasaan ini.Apa ini yang disebut déjà vu?”

“Aku tak ingin mengatakan bahwa aku orang yang paling paham soaldéjà vu. Setiap orang pasti pernah mengalaminya dari waktu ke waktu. Namun ketika orang mengalami sensasi ini, kebanyakan langsung melupakannya karena mengganggap ini sesuatu hal yang tak masuk akal. Déjà vu menunjukkan bahwa waktu tidak berlalu. Déjà vu adalah lompatan menuju sesuatu yang sudah kita alami dan sekarang sedang terulang lagi.”

“Apa kita mengulang sesuatu yang pernah kita lakukan dulu?”

“Mungkin saja. Mungkin kau dan aku sudah pernah bertemu dikehidupan sebelumnya.”

Sejenak darahku mendesir mendengar ucapannya. Jantungku mendeguptak keruan. Otakku terkecoh dengan sesuatu hal yang dianggap konyolkebanyakan orang. Antara percaya atau tidak. Namun apa pun itu, saatini aku bersyukur Ben hadir di kehidupanku.

Aku bertemu dengannya saat menghadiri sebuah diskusi soal kekerasanterhadap perempuan di Pendopo kampus. Ada 30-an mahasiswa dariberagam fakultas waktu itu dan ia jadi pemimpin diskusi. Di kalanganmahasiswa, ia dikenal sebagai pribadi yang lantang menyuarakankepentingan masyarakat tertindas.

Ada semacam daya dalam dirinya yang menularkankan rasa semangat, optimisme dan idealisme. Dan itu adalah awal kedekatanku dengannyahingga sekarang. Hingga kami memutuskan menjalin hubungan lebihdari sekadar teman diskusi.

Aku tak akan bosan menghabiskan waktu seharian dengannya. Mendengar ceritanya soal politikus busuk, pejabat korupsi, kekerasanatas nama agama, masalah gender atau opininya soal NegaraDemokrasi. Atau ia akan cerita soal Socrates, Plato, Aristoteles.

Ia juga akan cerita soal masa Inquision di Spanyol abad ke-13. Atausoal perkumpulan rahasia di Eropa Priory of Sion yang baru ia bacadalam novel dari penulis favoritnya. Sebagai mahasiswa filsafat mungkin ia sudah terbiasa dengan itu, meski terkadang aku mual mendengarnya. Namun bagiku, segala yang ada padanya adalah magnet yang membuatku tak bisa jauh darinya.

“Ranisa, aku tak perlu mengatakan aku percaya déjà vu untukmeyakinkanmu bahwa kau akan selalu bersamaku. Baik dulu, sekarangdan yang akan datang. Aku yakin kau akan selalu tetap di sini,” ujar Ben memegang dadanya. Aku menatap kesungguhan dalam matanya. Mataelangnya memancarkan ketulusan dan kedalaman rasa. Aku yakin inibukan rayuan gombal.

“Sekali lagi aku bersyukur karena Tuhan menciptakan mahluksepertimu,” gumamku dalam hati.

***

Pagi-pagi sekali tiba-tiba Ben sudah berada di depan kamar indekos, mengajakku keluar.

“Kita akan ke mana Ben?”

“Tenanglah, tak usah khawatir. Aku ingin membawamu ke sebuahtempat yang sudah lama aku ingin kita berada di sana.”

Apa yang ia akan lakukan terhadapku? Ke mana ia akan mengajakku? Apa yang harus kulakukan? Pikiran-pikiran ini berkelabat di otakku.

Kebingunganku seketika bertambah saat tempat yang kami tuju adalahsebuah gereja. Jelas ini bukan hari minggu. Pengunjung gereja hanyalansia yang setiap pagi berdoa di sini. Gereja? Apa ia akan inginmenikah denganku hari ini? Aku memang mencintainya, tapi untukmenikah aku sungguh tak siap. Ben, kau sudah gila?

Jangan berpikir macam-macam dulu,” ujar Ben seolah membacapikiranku. Ia menuntunku masuk ke dalam gereja.

Bau dupa yang dibakar Pastor menyeruak memenuhi ruangan. Ben menyalakan lilin dan ia menyuruhku memegang satu. Cahaya lilinmemantul ke mataku dan Ben menunduk di hadapanku.

“Aku mengkhianatimu dengan meninggalkanmu, aku ingin kaumengampuni aku.”

“Menghianati? Aku tak tahu bagaimana mengampunimu kalau aku taktahu apa yang kau lakukan? Ini konyol Ben, aku tak tahu apa yang kaulakukan sekarang.”

“Percaya atau tidak, kau sudah ada di kehidupanku sejak dulu. Akuyakin dengan segala pertanda yang ada sebelum dan setelah kitabertemu. Sejak pertama kali aku menatap matamu. Ada kenangan yang mengingatkanku bahwa dulu aku menyakitimu dengan meninggalkanmu.Dalam setiap mimpi yang kualami dan kenangan yang terlintasdipikiranku. Aku tersiksa dengan penglihatan-penglihatan itu. Ingatbagaimana perasaanmu tadi malam. Sesuatu yang tidak kau ketahui namun ada di hatimu. Kalau perlu, pikirkanlah aroma favoritmu dan biarkan ia menuntunmu ke tempat yang perlu kau tuju.”

“Aku tidak tahu kenapa harus memaafkan pria yang kucintai. Aku tidaktahu bagaimana harus melakukannya. Aku memaafkan semua orang yang bersalah terhadapku. Aku memaafkanmu karena aku tidak tahu apa yang kau lakukan sekarang. Aku memaafkanmu karena terkadang aku mual mendengar ceritamu. Aku memaafkanmu untuk kesalahan yang belum kau lakukan. Apakah ini sudah sesuai dengan permintaanmu?

“Sesungguhnya yang kuinginkan adalah kau memaafkanku secara khusus. Aku sadar bahwa segala sesuatu terhubung, semua jalanbertemu dan semua sungai akan mengalir ke laut yang sama. Aku inginmembebaskan diri dari kebencian dengan cinta dan pengampunan.”

Aku ingin berlari meninggalkannya karena ketakutanku sertaketidakpahamanku. Berkali-kali ia menjelaskan alasannya namun akumasih tak paham. Kembali aku memandangnya matanya dan kembaliaku menemukan kesungguhan dan kedalaman perasaan yang aku tidakmengerti.

“Aku memaafkan waktuku yang habis untuk menunggumu,

Aku memaafkan ketidakmampuanmu memilih,

Aku memaafkan harapan-harapan palsu,

Aku memaafkan semua pengkhianatan,

Aku memaafkan kecemburuan,

Aku memaafkan harapan-harapan yang mati sebelum waktunya,

Aku memaafkan untuk rasa sakit terhadap kehilangan,”

Aku membuka mataku dan melihatnya berlutut di hadapanku. Akumenuntunnya berdiri dan menggengam tangannya. Meski aku takmengerti namun ada rasa damai dalam diriku dan kurasa dalam dirinyajuga.

***

Sepuluh tahun berlalu sejak hari ia membawaku ke gereja. Terakhir akumenggenggam tangannya saat ia pamit ke kampus bertemu dengansekelompok mahasiswa yang sudah menunggunya. Mereka akanmembahas strategi unjuk rasa besar meruntuhkan rezim reformasi yang amburadul.

Namun setelah aksi itu, sejumlah mahasiswa menghilang. Ada yang bilang mereka diculik suruhan pemerintah. Termasuk Ben. Sampai sekarang aku tak tahu kabarnya.

Aku tak perlu mengatakan aku percaya déjà vu untuk meyakinkanmu bahwa kau akan selalu bersamaku. Baik dulu, sekarang dan yang akandatang. Aku yakin kau akan selalu tetap di sini.

Jika ia mampu datang dari masa lampau, maka aku yakin suatu saat dikehidupan yang akan datang ia akan kembali. Menemukanku danmeminta maaf atas rasa kehilangan ini. Aku yakin bahwa segalasesuatu terhubung, semua jalan akan bertemu dan semua sungai akanmengalir ke laut yang sama.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).