BOPM Wacana

Dalam Liputan, Media Kurang Perhatikan Wartawan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Renti Rosmalis

 

Aulia Andri saat memberikan materi pada peserta Saresehan Gebyar Jurnalistik, di Halaman Auditorium Unimed, Selasa (7/5). | Gio Ovanny Pratama
Aulia Andri saat memberikan materi pada peserta Saresehan Gebyar Jurnalistik, di Halaman Auditorium Unimed, Selasa (7/5). | Gio Ovanny Pratama

BOPM WACANA — Banyak perusahaan media yang kurang memerhatikan keselamatan wartawannya saat peliputan di daerah konflik atau medan yang berbahaya. Wartawan yang diutus tidak dilengkapi dengan alat keselamatan diri saat melakukan peliputan. Hal ini disampaikan oleh M Hilmi Faiq, Wartawan Harian Kompas dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) yang diselenggarakan oleh Pers Mahasiswa Kreatif Unimed, Rabu (8/5).

Faiq menjelaskan, dalam peliputan di medan berbahaya seperti peliputan investigasi di daerah konflik hal buruk bisa terjadi pada wartawan. Saat ingin memperoleh fakta dari sebuah konflik yang menggunakan senjata, wartawan sebisa mungkin mendekati sumber fakta hingga terlibat langsung dalam kejadian tersebut. Dan jaminan tidak tertembak pun tidak bisa dipastikan.

Masih kata Faiq, paling tidak wartawan peliput konflik dibekali pakaian anti peluru atau peralatan keselamatan lainnya, apalagi untuk wartawan yang membawa peralatan liputan yang berat. Wartawan tersebut harus melindungi alat-alat itu saat keselamatan dirinya juga terancam. Sudah sering terdengar wartawan yang mati tertembak saat meliput konflik. “Tidak ada berita yang seharga nyawa,” kata Faiq.

Selain alat keamanan yang harusnya dibekali oleh wartawan, Faiq menambahkan skill dalam peliputan medan berbahaya dan pemahaman terhadap area peliputan juga harus dimiliki oleh seorang wartawan.

 

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).