
Oleh: Adilla Juli Azzahra
Pernah melihat seseorang butuh bantuan, tapi justru tidak ada satu pun orang yang bergerak untuk menolong? Ironisnya, hal ini terjadi bukan saat kita sendirian, melainkan ketika ada banyak orang berada di sekitar kita.
Memahami Bystander Effect dalam Psikologi Sosial
Keramaian sering dianggap sebagai sumber keamanan bagi kita. Namun, dalam psikologi sosial, keramaian justru dapat menjadi faktor penghambat pertolongan. Fenomena ini dikenal sebagai bystander effect, yaitu kecenderungan individu untuk tidak menolong orang lain ketika melihat orang lain juga ada di sekitarnya, dibandingkan ketika ia sendirian.
Istilah ini muncul setelah adanya kasus pembunuhan Catherine “Kitty” Genovese di Queens, New York, pada tahun 1964. Kasus ini kemudian mendorong para psikolog sosial, khususnya John Darley dan Bibb Latané, untuk meneliti mengapa manusia sering kali pasif dalam situasi darurat.
Bystander effect dalam kehidupan nyata
Dalam kehidupan sehari-hari, bystander effect bisa muncul dalam berbagai bentuk. Seperti seseorang pingsan di pinggir jalan, tetapi orang-orang hanya berlalu lalang melewatinya. Di jalan raya, ada terjadi kecelakaan, namun para pengendara hanya berhenti sebentar lalu memotret. Banyak orang mengira akan ada orang lain yang bertindak nantinya, ada satpam, petugas, polisi, dan akan ada orang lain di sekitar yang akan segera datang menolong. Pola pikir inilah yang akhirnya membuat tindakan menolong akan tertunda.
Pada masa kini, fenomena ini juga bisa tampak melalui media sosial, saat ada konten berisi kekerasan verbal, pelecehan, atau hoaks dibiarkan tanpa sanggahan. Banyak pengguna memilih menjadi viewers saja padahal sudah tahu bahwa hal tersebut salah, berharap orang lain akan menegur atau melaporkan hal tersebut. Padahal, satu komentar yang membela atau melaporkan dapat menghentikan rantai perilaku negatif tersebut.
Penyebab Bystander Effect
Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan mengapa fenomena bystander effect bisa terjadi, yaitu:
- Semakin banyak orang, semakin kecil rasa tanggung jawab Penelitian menunjukkan bahwa individu lebih mungkin menolong ketika sendirian. Sebaliknya, ketika berada dalam keramaian, tanggung jawab terasa seakan terbagi. Fenomena ini disebut dengan Diffusion of Responsibility, yaitu kecenderungan membagi tanggung jawab kepada orang lain yang ada di sekitar.
- Takut dinilai oleh orang lain Ini disebut Evaluation Apprehension, yaitu ketakutan seseorang akan penilaian orang lain. Individu khawatir jika membantu akan terlihat berlebihan, salah bertindak, atau bahkan mempermalukan diri sendiri saat berada di hadapan publik.
-
Menilai situasi dari reaksi orang lain Ini dikenal dengan Pluralistic Ignorance, yaitu kecenderungan seseorang menganggap suatu situasi tidak begitu darurat karena melihat orang lain tampaknya tenang saja. Padahal, sebenarnya semua orang sama-sama bingung dan saling menunggu siapa yang akan bertindak lebih dulu.
Cara Mengurangi Bystander Effect
Sikap pasif dalam situasi darurat bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya bystander effect :
-
Sadari, “kalau bukan saya, bisa jadi tidak ada yang menolong dia” Mengubah pola pikir ini penting supaya tidak menunggu orang lain bertindak.
-
Mulai dari tindakan kecil Tidak harus membantu dengan tindakan heroik, cukup mendekat dan bertanya “Apa kamu baik-baik saja?”, atau memanggil petugas setempat sudah termasuk pertolongan.
-
Baca situasi, tetapi jangan terlalu lama ragu Keraguan wajar, tapi keraguan yang terlalu lama dalam situasi darurat justru dapat memperparah keadaan.
-
Berani bersuara di ruang digital Melaporkan dan menyanggah ketika melihat ada konten negatif di media sosial juga bentuk intervensi sosial.
-
Latih empati lewat kebiasaan kecil Hal ini dapat membuat kita lebih refleks membantu saat situasi darurat terjadi.
-
Utamakan keselamatan diri Menolong bukan berarti harus membahayakan diri, dapat dimulai dari mencari bantuan resmi seperti nomor darurat atau mencari bantuan orang lain yang dianggap dapat membantu jika situasi dinilai berisiko.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa keramaian tidak selalu menyelamatkan kita. Justru, keberanian satu orang untuk bertindaklah yang sering kali menentukan apakah sebuah situasi berakhir dengan pertolongan atau terabaikan.



