BOPM Wacana

Bukan Cerita Detektif Biasa

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Sri Wahyuni Fatmawati P

Judul Buku: The Adventures of Detective Brown

Penulis: G.K. Chesterton

Penerbit: Visimedia

Jumlah Halaman: 334

Tahun Terbit: 2013

 Ini cerita fiksi detektif. Pelaku utamanya seorang pastor katolik. Menyelesaikan masalah dengan sisi-sisi kemanusiaan,kerohanian dan menggunakan hukum Tuhan. Namun sekali lagi ini cerita fiksi detektif bukan cerita religi.

Ialah Brown. Sosoknya selalu digambarkan sebagai laki-laki mungil, menggunakan topi hitam lebar melengkung, klerikal tapi tidak umum di Inggris, juga selalu membawapayung hitam kusam. Dalam novel ini sang pastor-detektif tidak selalu menyelesaikan masalah sendirian, biasanya dia bersama sahabatnya, seorang detektif swasta, Flambeu.

Juga pernah bersama seorang kriminolog termuka yang kerap dimintai pendapat oleh polisi. Dr Orion Hood namanya. Saat itu seorang jemaat Pastor Brown, Maggie MacNab ingin menikah dengan pemuda bernama James Todhunter. Mrs MacNab adalah seorang janda yang memiliki sebuah pondokan yang jarang ditempati orang, dan saat ini Mr Todhunter adalah satu-satunya penyewa di sana.

Tak ada informasi pasti mengenai James, semuanya serba misterius. Asal, pekerjaan dan apa yang dilakukannya selama 24 jam di dalam kamarnya tanpa kelihatan sekalipun, tak ada yang tahu.

Maggie tak sengaja mendengar pembicaraan James dengan seorang laki-laki lain di kamarnya. Suaranya jelas berbeda, James berbicara pelan dengan aksen sementara satunya tinggi dan bergetar. Mereka bertengkar, berdebat mengenai uang. James mengucapkan berulang-ulang, ‘Itu benar, Mr. Glass,’ atau ‘Tidak, Mr. Glass,’ juga ‘ Dua atau tiga, Mr. Glass,’.

Saat berusaha mendobrak pintu, Maggie mendengar suara benda keras dan saat mengintip kedalam Dia menemukan James terbaring meringkuk di salah satu pojokan kamar. Belum terbunuh, namun nyaris terbunuh.

Sebelumnya Mrs MacNab mengatakan kalau Dia sering melihat seorang laki-laki tinggi mengenakan topi sutra yang sekali muncul dari tengah kabut yang rupanya keluar dari laut, melewati taman belakang yang kecil kala senja hingga terdengar sedang bercakap-cakap dengan penyewa kamar.

Hingga diambil kesimpulan, James bertengkar dengan laki-laki tinggi mengenakan topi sutra bernama Mr. Glass. Dugaan ini semakin kuat setelah melihat keadaan kamar sewaan James, terlihat dua buah gelas wine sudah jatuh berhamburan di lantai, sebilah pisau panjang atau pedang pendek, lurus dan berhiaskan ornamen dan menggelinding sebuah topi tinggi laki-laki berbahan sutra.

Dan di sudut belakang, terbaringlah James dengan syal terikat di mulutnya dan enam atau tujuh utas tali mengikat siku dan pergelangan kakinya. Mata cokelatnya tampak hidup dan bergerak awas.

Ada beberapa hal juga yang menguatkan dugaan bahwa Mr. Glass yang melakukan ini semua, pertama ukuran topi sutra terlalu besar untuk kepala James, berarti sudah jelas milik Mr. Glass. Salah satu lokasi pecahan gelas yang terdapat di atas tempat penyimpanan yang terletak di sebelah rak atau perapian, cukup tinggi tempatnya. James yang pendek tidak akan mampu meletakkannya di sana.

Topi yang bersih, tidak ada sisa helai rambut sedikitpun mengatakan bahwa Mr. Glass itu seorang yang botak.

Semuanya merupakan deduksi Dr. Hood. Dengan keramahan dan kesantunan Pastor Brown segera mematahkannya.

Topi sutra tinggi itu milik James. Tak ada laki-laki bernama Mr. Glass.

Topi itu tak pernah digunakan, itulah alasan kenapa tak ditemukan sedikitpun sisa helai rambut. Pecahan kaca yang ada di penyimpanan yang lokasinya tinggi juga perbuatan James sat ia melakukan juggling dengan gelas.

Pisau yang diujungnya juga terdapat sedikit darah juga cocok dengan darah James, yang setelah diperiksa terdapat bekas sayatan di dadanya.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi? James adalah seorang pesulap profesional, juggler, ventriloquis, dan seorang ahli trik menggunakan tali hingga dapat mengikat diri sendiri. Semuanya benar adanya saat James bangkit dari posisi jatuhnya dengan senyum dikulum dan mengeluarkan sebuah poster yang berisi pengumuman tentang penampilan Zaladin, Pesulap, Manusia Karet, Ventriloquis, DAN Manusi Kangguru terhebat di dunia. Rupanya Dia salah satu rombongannya.

Dari sebuah kasus itu dapat digambarkan bahwa Pastor Brown seorang yang rendah hati dan memikirkan semuanya dari segala sisi. Dia juga tenang, meskipun lawan bicaranya memiliki watak keras, Dia mematahkan semua deduksi Dr. Hood tanpa nada sombong. Pastor-Detektif yang sederhana.

Masih ada 11 kasus lagi yang diselesaikan oleh Pastor Brown dalam novel ini. Sebenarnya cerita-cerita ini adalah tulisannya Gilberth Keith Chesterton atau G.K. Chesterton yang ditulis pada rentang 1910-1913. Kisah Pastor Brown bersama Dr. Hood berjudul ketiadaan Mr. Glass (The Absence of Mr Glass) pertama kali dipublikasikan di McClure’s Magazine pada November 1912.

Kemudian dibukukan pada tahun 1914. Hingga sekarang telah lahir lima belas karya audio dan video (film dan serial TV). Yang terbaru diadaptasi menjadi serial TV sepuluh episode dengan judul yang sama dibintangi oleh Mark Williams yang rilis Januari 2013.

Penuturan deskripsi yang panjang membuat membaca buku menjadi membosankan. Berulang kali saya melirik dan menghitung sisa lembar buku yang harus saya habiskan. Entah karena berupa novel terjemahan atau karena memang bahasa yang digunakan -merujuk pada tahun diterbitkannya- cukup klasik dan agak berbelit-belit sehingga susah untuk dipahami.

Untuk penikmat novel terjemahan, genre detektif dan penyuka antologi cerita setidaknya akan lebih menikmati buku ini. Saya pribadi tidak terlalu menyukai antologi cerita, untuk buku ini dikarenakan satu cerita yang rata-rata menghabiskan 14-16 lembar tidak cukup untuk menyajkan satu cerita detektif yang mampu menjabarkan semuanya dengan baik dan dapat dimengerti.

Dengan bahasa yang berbelit dan penuturan deskripsi tidak penting yang terlalu banyak akan lebih bagus kalau satu cerita menjadi satu buku, seperti novel detektif kebanyakan. Sehingga deg-deg-an dan penasaran karena cerita tidak selesai begitu saja dan jadinya berakhir menggantung. Kasus itulah yang terjadi saat memvbaca buku ini.

Namun dari 12 cerita yang disajikan saya menyukai cerita berjudul Ketiadaan Mr. Glass, ceritanya masuk akal, sederhana dan mudah dimengerti serta penyelesaian kasus yang tidak terduga. Cerita ini terletak di awal, setelah membacanya saya berharap akan menemukan cerita yang lebih menarik lagi sesudahnya, namun yang sesudahnya pun semenarik yang pertama saja tidak.

Berulang kali saya membaca penuturan kalau Pastor Brown disandingkan dengan Sherlock Holmes, atau tokoh detektif ciptaan Agatha Christie, di buku ini maupun di resensi lain yang saya temukan saat browsing. Menurut saya Sherlock Holmes dan karya Agatha Christie lebih menyenangkan untuk dibaca daripada buku ini. Lebih sederhana -kisah dan tokohnya-, kisahnya keseharian, pemecahan kasus yang diluar dugaan, dan penyampaian alur serta deskripsi yang mengalir.

Namun, bukan berarti saya tidak menyarankan Anda untuk membaca buku ini. Mungkin saja Anda akan menemukan kenikmatan yang berbeda dengan saya saat membaca buku ini.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).