BOPM Wacana

Robert Langdon dan Neraka Alighieri

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Fredick Broven Ekayanta Ginting

Judul Buku: Inferno

Penulis: Dan Brown

Penerbit: Bentang

Jumlah Halaman: 643

Tahun Terbit: 2013

Harga: Rp 125.000

Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral. Dalam masa berbahaya, tidak ada dosa yang lebih besar daripada tetap diam.

 Simbolog Robert Langdon kembali menggetarkan penggemarnya medio tahun ini. Setelah sukses menjadi tokoh utama dalam tiga novel sebelumnya, ia hadir kembali yang kali ini mengungkap misteri puisi Dante Alighieri. Sang penulis, Dan Brown memilih kota Florence sebagai latar utama menjalin ceritanya. Seperti biasa, ia memanfaatkan kisah-kisah dan rahasia-rahasia kuno seputaran kota tersebut. Selain Alighieri yang memang lahir di kota itu, ia menambahkan cerita tentang pelukis terkenal Michelangelo, tokoh renaisans Sandro Botticelli, keluarga Medici, sampai ahli politik Niccolo Machiavelli. Kesemuanya berasal dari kota itu.

Dan Brown memang spesialisnya dalam menulis thriller psikologis. Ia seperti Martin Scorsese dalam perfilman Hollywood. Sejak awal cerita, ia langsung memacu adrenalin dan psikologis pembaca dengan alur menegangkan serta konflik yang dialami tokoh utama, Robert Langdon. Ia bermimpi sedang berada di sebuah sungai yang aliran airnya merah seperti darah. Di seberang, seorang wanita bercadar berbisik padanya, “Carilah, maka akan kau temukan.” Tiba-tiba muncul tubuh di sekitar kaki wanita tersebut, kemudian berlipat ganda hingga ribuan dan beberapa hidup. Ada yang menggeliat kesakitan, sekarat, dilalap api, terkubur tinja, dan saling melahap satu sama lain. Percis gambaran neraka.

Robert terbangun, dan menemukan dirinya tergeletak di kamar tidur sebuah rumah sakit. Terakhir kali ia mengingat dirinya hendak pulang setelah selesai mengajar mahasiswanya di Universitas Harvard. Di tengah kebingungannya muncul dua orang dokter, Marconi dan Sienna Brooks. Sienna meceritakan ia terkena tembak di kepala, dan menyebabkannya hilang ingatan jangka pendek.

Robert menyadari bahwa ia telah menjadi buronan sekelompok tentara berseragam hitam. Sienna yang telah terlibat ikut melindungi Robert dari kejaran. Saat berada di persembunyian, Robert menemukan sebuah benda aneh berbentuk silinder logam di kantong rahasia jasnya. Benda tersebut bersimbol biohazard yang dikembangkan oleh Dow Chemical pada 1960-an.

Setelah membuka silinder tersebut Robert dan Sienna mendapatkan ukiran didalamnya yang bergambar iblis bertanduk berkepala tiga yang sedang menyantap tiga manusia, satu orang di masing-masing mulutnya. Di bawah ukiran itu tertulis kata “saligia”, yang merupakan mnemonik latin ciptaan Vatikan pada abad pertengahan untuk mengingatkan pengikutnya pada tujuh dosa besar. Saligia adalah sigkatan dari superbia (kesombongan), avaritia (keserakahan), luxuria (hawa nafsu), invidia (kecemburuan), gula (kerakusan), ira (kemarahan), dan acedia (kemalasan).

Alur berikutnya semakin kencang. Di tengah-tengah pelariannya, Robert dilanda kebingungan luar biasa. Ia tidak mampu mengingat semua kejadian yang menyebabkan dirinya dalam bahaya. Horornya, ia kerap teringat bayang-bayang neraka mengerikan yang muncul dalam mimpinya. Dan Brown tetap mempertahankan karakter ceritanya dengan membangun satu per satu konflik dibumbui dengan sejarah-sejarah kuno. Pada akhirnya antar konflik tersebut saling berkaitan dan perlahan membuka fakta-fakta cerita sebenarnya.

Jika di novel The Da Vinci Code “mengorek” isi Museum Louvre Perancis, di The Lost Symbol dengan isi Gedung Capitol Amerika Serikat, kali ini di Museum Hall of the Five Hundred Italia. Museum tersebut menyimpan karya-karya besar Giorgio Vassari.

Setelah menjalani seluruh perjalanan gilanya, diketahui semua masalah yang dihadapi Robert adalah ulah seorang ahli medis asal Swiss bernama Bertrand Zobrist. Ia berniat menyelamatkan dunia dari ancaman over-populasi dengan menciptakan sebuah wabah patogen yang mampu menular dengan cepat melalui udara. Akibat dari wabah tersebut adalah penderita menjadi mandul dan tak mampu bereproduksi lagi. Wabah tersebut mampu melenyapkan setengah dari populasi dunia.

Zobrist sendiri adalah pengagum sejati Dante Alighieri yang pernah menulis puisi berjudul Inferno (neraka) sekitar tahun 1308. Dalam puisinya itu, Alighieri membuat alegori tentang neraka yang menghukum setiap manusia berdosa. Zobrist menyerukan kepada dunia bahwa setiap manusia harus menyelamatkan bumi dengan berhenti menambah populasi manusia. Sebab menurutnya populasi itu berkembang tak terkontrol akibat dosa dan hawa nafsu manusia itu sendiri. Sehingga manusia harus bertindak segera atau Inferno akan menyambut mereka.

Lalu, apa kaitan kejadian yang dialami Robert dengan rencana Zobrist? Siapa pula pasukan misterius yang mengejar mereka? Apa makna rahasia dalam puisi Alighieri? Ditambah lagi adanya keterlibatan World Health Organization (WHO) dan organisasi misterius Konsorsium dalam masalah ini. Semua dibungkus oleh Dan Brown dalam 104 bab novel ini. Selain mendapat cerita-cerita dramatis, pembaca juga disuguhkan pengetahuan baru tentang fakta sejumlah karya seni, kesusastraan, dan referensi sejarah.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).