BOPM Wacana

Bersemi di dalam Tubuhku

Dark Mode | Moda Gelap
Illustrasi | Angga Pratama
Illustrasi | Angga Pratama

 

Oleh: Angga Pratama

“Aku sudah membunuh, memutilasi, dan memakan seorang lelaki atas permintaannya sendiri”

`Aku lahir di keluarga yang berkecukupan, tinggal dirumah yang besar di satu kota kecil bernama Adenvill, Utah. Sejak kecil aku  bermain dengan teman-teman sekolahku dan gemar berolahraga menunggang kuda.

Suatu ketika, ayah dan ibuku bertengkar kemudian memutuskan untuk berpisah. Ayah meninggalkan aku dan ibuku dirumah itu. Semenjak ditinggal ayah, ibuku menikah lagi hingga beberapa kali. Namun pernikahannya selalu gagal dan selalu ditinggalkan oleh suaminya. Hingga akhirnya ibuku memutuskan untuk tidak menikah lagi. Tinggal dirumah besar itu, aku sangat merasa kesepian. Terlebih lagi aku sudah tidak mendapatkan kehangatan dan kasih sayang dari ibuku. Aku semakin tidak nyaman atas perlakuan ibu yang selalu mengekangku.

Menginjak remaja, aku memasuki masa pubertas. Namun kusadari, aku tidak seperti remaja laki-laki lainnya. Di masa remajaku, aku selalu membayangkan sepupu laki-laki yang aku sayangi. Sepupu laki-laki itu sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Bayangan itu selalu ada di benakku hingga aku beranjak dewasa. Namun hasratku kini mulai menggebu-gebu. Membayangkan untuk memakan laki-laki yang aku sayangi agar tetap hidup dalam diriku hingga aku tidak merasakan kesepian lagi.

Pada suatu hari, aku berkesempatan bergabung dengan tentara di kotaku. Saat menjadi tentara, aku rasa hidupku menjadi normal dan menjalin hubungan dengan seorang wanita. Aku menikahi wanita yang tidak aku cintai itu. Namun, selang beberapa bulan pernikahan kami langsung kandas. Selama 7 tahun aku bekerja sebagai tentara, hingga akhirnya aku pulang ke rumah besar itu untuk merawat ibuku. Kemudian ibuku meninggal akibat serangan jantung.

Aku pun hidup sendiri di rumah besar itu dan mulai merasa bebas tanpa tekanan ibuku. Hasratku yang sudah lama terpendam untuk memakan manusia pun kembali bergejolak. Setiap malam aku selalu browsing di internet dan menemukan situs perkumpulan komunitas kanibal. Aku mempromosikan diriku dan mengutarakan keinginanku untuk memakan daging manusia  yang aku kenal namun secara sukarela.



Setelah sekian lama aku mencari, akhirnya aku menemukan email dari seorang laki-laki yang menawarkan dirinya untuk dijadikan santapan makan malam untukku. Laki-laki itu bernama Joan Sety yang tinggal di kota berbeda denganku. Joan adalah seorang pengusaha sukses yang mengalami kenangan buruk di masa kecilnya. Dia merasa sangat terpukul melihat ibu kandungnya sendiri melakukan bunuh diri di hadapan matanya. Kejadian itu tidak pernah diceritakannya lagi dengan ayahnya. Hubungan Joan dengan ayahnya pun semakin renggang setelah dia mengaku jika dirinya adalah seorang gay kepada ayahnya.

Sebagai seorang pria yang memiliki kelainan seks, pengusaha sukses itu hidup sangat liar. Setiap hari dia berpindah dari klub ke klub untuk melampiaskan hasratnya. Hingga suatu ketika dia sudah tidak bisa bergairah lagi dan ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar seks, agar bisa membangkitkan gairahnya kembali. Saat itu, Joan menemukan situs kanibal di internet. Joan tertarik dengan promosi yang aku tawarkan di situs tersebut. Joan rela menjadikan dirinya sebagai santapan makan malamku.

Akhirnya aku dan Joan menjadwalkan pertemuan untuk merealisasikan keinginan kami. Pagi itu aku menjemput Joan di stasiun kereta api dan pergi menuju rumahku di Adenvill. Sesampainya di rumahku, aku dan Joan berbincang cukup lama untuk mengenal satu sama lain. Hingga akhirnya malam tiba dengan gerimis dan angin yang begitu kencang. Aku mengeksekusi Joan secara perlahan di malam itu juga.

“Apa yang harus aku lakukan kepadamu”

“Sepertinya kita harus ke kamar untuk melakukan hubungan timbal balik, sepertinya cuaca sangat mendukung” jawab Joan.

“Baiklah (berjalan menuntun Joan ke kamar)”

Kami pun melakukannya . Gairahku sangat menggebu-gebu, namun aku tidak melihat hal itu pada diri Joan.

“Sepertinya kau tidak merasakan kenikmatan berhubungan denganku?”

“Aku sudah sering melakukannya, jadi tidak ada yang harus aku nikmati dari hubungan ini” jawab Joan begitu santai.



Karena merasa ketidakpuasan itu, Joan memintaku untuk melakukan hal yang lebih lagi. Joan terlebih dahulu memintaku untuk memotong alat kelaminnya, agar Joan bisa menikmati gairahnya lebih lama. Aku menyetujui permintaan nya tersebut.

Aku langsung memotong alat kelamin Joan menggunakan pisau. Joan terlihat sangat senang dan sangat menikmati saat darahnya mengalir deras dari anggota tubuhnya itu. Lantas, potongan alat kelamin Joan tersebut segera aku masak dan menambahkan bumbu dapur ke dalamnya. Lalu aku menyajikannya di meja makan untuk dimakan bersama, dan menyajikan segelas minuman anggur merah di atas meja.

Beberapa saat kemudian, Joan sudah tidak bisa merasakan kenikmatannya lagi. Akhirnya Joan memintaku untuk melakukan hal yang lebih ekstrim lagi pada tubuhnya. Hal itu dimintanya agar dia bisa merasakan kepuasan saat dirinya disimbah dengan darahnya sendiri dengan banyak. Akupun kembali memgabulkan permintaan Joan dengan melakukan beberapa penusukan ke bagian tubuhnya. Dan aku merekam seluruh kejadiannya dengan video recorder yang akan kusimpan sebagai kenang-kenangan.

Saat darah begitu menyucur deras, aku membawa tubuh Joan untuk dibaringkan di bed up dan menyalakan shower agar darah yang mengalir tersebut menutupi sekujur tubuh Joan atas permintaannya. Saat aku meninggalkan Joan di bed up, beberapa saat kemudian Joan memanggilku.

“Jevon, aku sangat senang karena kenikmatan ini tidak akan aku dapatkan lagi pria lain” ungkapnya dengan nada lesuh sambil tersenyum.

Joan sangat senang tubuhnya dilumuri darahnya sendiri, hingga akhirnya dia merasa kedinginan. Aku langsung memindahkan Joan ke tempat tidur. Pada saat itu, ternyata Joan sudah tidak bernyawa lagi. Aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya hingga beberapa kali. Aku juga berdoa kepada Tuhan bahwa aku tidak tahu ini adalah perbuatan setan atau kehendak Tuhan. Aku sangat memohon ampun kepada Tuhan, bahwa aku tidak mempunyai niat untuk membunuh siapapun.

Beberapa saat kemudian, aku mulai memutilasi tubuh Joan dengan terlebih dahulu memenggal kepalanya. Kemudian memotong-motong bagian tubuhnya yang lain. Lalu aku mencucinya dan membungkus bagian-bagian tubuh tersebut. Kemudian aku menyimpannya ke dalam kulkas untuk persediaan makanan yang bisa aku makan setiap saat.

Komentar Facebook Anda

Angga Pratama

Penulis adalah Mahasiswa Ekonomi Pembangunan FEB USU Stambuk 2020. Saat ini Angga menjabat sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan BOPM Wacana.