BOPM Wacana

Menunggu

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. | Hasrina Arum Maulida
Ilustrasi. | Hasrina Arum Maulida

Oleh: Hasrina Arum Maulida

“Andai aku tahu, tidak semua yang ditunggu akan datang tepat waktu.”

Angin sore berembus pelan, membuat ujung jilbabku bergerak lembut mengikuti arahnya. Suara klakson kendaraan bersahut-sahutan, menyatu dengan deru mesin motor yang lalu lalang di depan Fakultas Kedokteran. Dari tempat duduk, aku melihat mobil-mobil mahasiswa dan dosen keluar satu per satu, seakan kampus itu sedang menghembuskan napas terakhirnya sebelum hari berakhir.

Beberapa mahasiswa yang baru selesai kelas berjalan sambil bercanda kecil, sementara yang lain tampak terburu-buru menghampiri ojek online yang sudah menunggu di pinggir jalan. Ada pula yang berhenti sebentar di dekat gerbang, membeli makanan atau minuman dari pedagang kaki lima sebelum melanjutkan langkah mereka. Di tengah keramaian itu, aku duduk sendirian di trotoar, menunggu satu-satunya kendaraan yang bisa membawaku pulang. Ya, siapa lagi kalau bukan angkot kuning dengan angka yang tampak seperti sembilan terbalik.

Sudah sejak semester satu aku menunggu di tempat ini setiap hari. Hanya angkot kuning itu yang melewati rute menuju rumahku, jadi tidak ada pilihan lain selain menunggunya. Meski terkadang waktu tunggunya membuatku bertanya-tanya apakah kesabaranku sedang diuji.

Pada jam-jam tertentu, terutama saat pulang kerja atau sekolah, angkot ini sering penuh. Semua kursinya terisi, bahkan terkadang ada penumpang yang terpaksa berdiri dekat pintu. Di sisi lain, jumlah armadanya tidak banyak, sehingga ketika sedang tidak terlalu ramai pun angkot ini sering terlambat datang. Rasanya seperti menunggu sesuatu yang pasti datang, tetapi tak pernah jelas kapan.

Sore itu, waktu seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Matahari menggantung rendah, cahayanya jatuh di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan di aspal yang mulai dingin. Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku, mencoba mengusir rasa gelisah. Hampir 30 menit aku menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda angkot kuning itu muncul.

Beberapa angkot lain melintas. Sopirnya memperlambat laju kendaraan sambil mengayunkan telunjuk ke arahku sebagai isyarat menawarkan tumpangan. Aku hanya menggeleng. Mereka tidak menuju rumahku. Aku bisa saja naik lalu menyambung dengan angkot lain, tapi kakiku terasa enggan bergerak. Seperti ada sesuatu yang menahanku tetap di tempat.

Langit perlahan meredup. Warna jingga berubah menjadi abu-abu pucat. Satu per satu lampu jalan menyala. Jalanan mulai sepi, tak lagi seramai tadi. Pedagang kaki lima mulai membereskan lapaknya. Orang-orang yang tadi berlalu-lalang kini sudah pergi entah ke mana.

Aku sendirian. Kukeluarkan ponsel dari saku. Layarnya menyala, memantulkan wajahku yang tampak lelah. Aku membuka aplikasi ojek online, memasukkan alamat rumah dan titik jemput, lalu menatap angka yang muncul di layar. Tidak mahal sebenarnya dan masuk akal. Dengan sekali sentuh, aku bisa pulang sekarang. Jariku berhenti tepat di atas layar.

“Sebentar lagi juga datang,” gumamku pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.

Aku menutup ponsel dan kembali menatap jalan. Angin terasa semakin dingin. Waktu terasa berjalan pelan, seolah ikut menunggu bersamaku. Aku mulai bertanya dalam hati, sejak kapan aku seterbiasa ini dengan menunggu.

Bukan hanya angkot. Aku menunggu banyak hal. Menunggu keadaan membaik. Menunggu keberanian muncul. Menunggu hidup terasa berjalan, bukan sekadar dilewati.

Beberapa menit berlalu, aku membuka ponsel lagi. Kali ini tanpa ragu, jariku menekan tombol pesan. Setelah itu, tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu lagi.

Aku berdiri. Dari kejauhan, sebuah motor mendekat, lalu berhenti tepat di depanku. Helm hitam, jaket hijau, senyum ramah yang tampak lelah.

“Pesanan atas nama…”

“Iya, saya,” jawabku cepat.

Aku melangkah mendekat dan mengenakan helm yang ia sodorkan. Tidak ada perasaan lega. Hanya kelelahan yang sejak tadi menempel.

Baru saja aku menaiki motor, dari kejauhan di antara lampu jalan yang menyala, aku melihat warna kuning yang sangat kukenal. Angkot itu muncul, melaju pelan, seolah tidak tahu betapa lama aku telah menunggunya.

“06!!..”, kejutku dalam hati.

Dadaku terasa berat. Aku menoleh ke depan lagi, menahan sesuatu yang spontan ingin kuucapkan. Tidak ada yang bisa kulakukan selain diam. Angkot itu akhirnya lewat di samping kami, suaranya terdengar jelas, terlalu jelas, lalu menghilang di belakang.

Ternyata begini rasanya ketika sesuatu yang ditunggu hadir tapi datang terlambat. Bukan marah, bukan sedih yang meledak, hanya kecewa kecil yang menetap, seperti debu halus yang sulit dibersihkan

Malam itu aku belajar satu hal kecil. Menunggu tidak selalu salah, tapi terlalu lama menunggu bisa membuat kita kehilangan momen, bahkan ketika akhirnya ia datang. Angin malam menerpa wajahku saat motor terus melaju. Aku tidak menoleh lagi ke belakang. Tidak perlu. Ada beberapa hal yang memang lebih baik ditinggalkan, meski sempat kita harapkan terlalu lama.

Komentar Facebook Anda

Hasrina Arum Maulida

Penulis adalah Mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi FIB USU Stambuk 2024. Saat ini Hasrina menjabat sebagai Staff Reporter BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus