
Oleh: Hasrina Arum Maulida
Medan, wacana.org – Girl Up Medan membahas isu grooming sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual terhadap anak dalam rangkaian Kilas Balik Hari Anak Nasional 2026. Pembahasan tersebut disampaikan melalui talkshow dan diskusi publik bertajuk “Guardian of Tomorrow: Celebrating Rights, Empowering Kids” yang berlangsung di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara, Sabtu (22/8/2026).
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi dengan talkshow dan diskusi publik yang menghadirkan dua narasumber, yaitu President Girl Up Medan Mutiara Daulay serta pendiri Sirkulasi Kreasi Perempuan (Sirkam) dan Degil House, Citra Hasan Nasution. Keduanya membahas isu perlindungan anak, khususnya kekerasan seksual dan grooming. Sementara itu, hari kedua dilanjutkan dengan kunjungan ke Panti Asuhan Cinta Kasih Medan.
Dalam sambutannya, Mutiara Daulay berharap kegiatan tersebut dapat mendorong peserta untuk mengambil tindakan dalam melindungi anak. “Harapannya setelah acara ini kita bisa take action untuk melindungi adik-adik kita, karena mereka adalah masa depan kita semua,” ucapnya.
Mutiara menjelaskan bahwa pelaku grooming dapat membangun kepercayaan dan kedekatan dengan anak dengan mencari tahu hal-hal yang disukai korban. “Pelaku itu biasanya mencari tahu kesukaan si anak tersebut. Jadi, misalnya si anak suka hewan, dikasihlah sama pelaku hadiah-hadiah yang berbau hewan,” ujarnya.
Selanjutnya, pemateri kedua, Citra juga menjelaskan bahwa grooming merupakan bentuk manipulasi yang dilakukan untuk membangun kepercayaan dengan target. “Kata kunci sebenarnya grooming itu manipulasi dengan memberikan perhatian, hingga membuat target merasa nyaman sebelum kemudian diarahkan pada tindakan seksual. Ada tindakan yang terlihat, bahkan tidak terlihat, tidak terasa, dan seringnya terlambat untuk terdeteksi,” jelasnya.
Citra juga menambahkan bahwa grooming dapat terjadi secara langsung maupun melalui ruang digital dan tidak selalu dilakukan oleh orang asing. Menurutnya, anak yang mengalami kesulitan berkomunikasi atau tidak merasa aman untuk bercerita lebih rentan menjadi korban. Karena itu, anak perlu diberikan ruang yang aman agar berani menyampaikan hal-hal yang dialaminya.
“Grooming itu khasnya rahasia. Jadi, kita perlu mengajarkan anak-anak untuk tidak memiliki rahasia, dan bagaimana caranya? Yaitu dengan memberikan dia rasa aman untuk bercerita,” sambungnya.
Salah satu peserta, Fauza Azzahra Lubis, mahasiswa Agribisnis USU stambuk 2025, menyampaikan kesannya setelah mengikuti kegiatan tersebut. “Seru banget sih, Kak, acaranya. Itu membuat aku merasa sebagai perempuan ada tempat nyaman untuk menyuarakan suara kita tanpa harus takut,” ungkapnya.



