BOPM Wacana

Labirin di Balik Kabut

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Oleh: Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Kabut itu seolah-olah memiliki paru-paru, bernapas tepat di depan wajahku saat aku berdiri di haluan kapal motor yang ringkih ini. Setiap kali ombak menghantam lambung besi, perutku bergejolak, mengirimkan rasa mual yang tidak hanya berasal dari mabuk laut, tetapi juga dari kecemasan yang tidak bisa kujelaskan. Di saku dalam jasku, lencana perak itu terasa dingin dan berat, menjadi satu-satunya hal yang mengingatkanku bahwa aku masih memiliki identitas.

Aku datang ke tempat ini, sebuah gundukan karang terkutuk yang mereka sebut institusi medis, untuk mencari seorang wanita yang hilang. Dia lenyap dari kamar terkunci di fasilitas dengan tingkat keamanan paling ketat di negeri ini. Namun, saat aku melangkah turun ke dermaga yang berlumut, ada sesuatu dalam udara asin ini yang terasa begitu akrab. Seperti mimpi buruk yang kukunjungi berkali-kali.

“Dia tidak meninggalkan jejak, Pak,” kata pria tua dengan setelan jas rapi yang menyambutku. “Seolah-olah dia berjalan menembus dinding.”

Aku menyalakan rokok, berusaha menenangkan tangan yang sedikit gemetar.

“Tembok setebal itu tidak mungkin ditembus manusia, kecuali jika ada yang membukakan pintu.”

Aku mulai menyisir kamarnya. Di bawah lantai kayu yang berderit, kutemukan secarik kertas dengan tulisan tangan yang sulit dibaca.

“Siapa yang ke-67? Aturan keempat. Jangan percaya pada air.”

Kepalaku mulai berdenyut. Migrain itu datang lagi, lebih hebat dari biasanya. Aku melihat kilatan cahaya di sudut mataku. Seperti percikan api yang melahap kain gorden.

Aku melihat bayangan seorang wanita berambut pirang, punggungnya terbakar, memanggil namaku di tengah tamu yang penuh abu. Aku mencoba meraihnya, tetapi jariku hanya menyentuh dinding batu yang lembap dan dingin.

“Anda butuh obat ini,” seorang perawat menawarkan dua butir pil putih. “Ini akan menghentikan halusinasi Anda.”

Aku menatap pil itu dengan penuh kebencian.

“Aku tidak berhalusinasi. Aku sedang bekerja.”

Namun, aku tetap menelannya, karena rasa sakit di kepalaku terasa seolah ada seseorang yang sedang mencoba mencongkel keluar bola mataku dari dalam. Malam itu, badai menghantam pulau dengan amarah yang luar biasa.

Aku berlari menembus koridor yang gelap, melewati sel-sel tempat tangan-tangan kurus menjulur dari celah jeruji, memohon sesuatu yang tidak bisa kuberikan. Aku harus sampai ke mercusuar itu. Eksperimen gila, pemotongan saraf otak, atau apa pun yang mereka lakukan untuk menghapus dosa manusia.

Sepatuku basah kuyup. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung yang tak terlihat. Saat aku akhirnya mendobrak pintu di puncak mercusuar, aku sudah siap dengan senjataku. Aku siap menghadapi monster.

Namun, di sana hanya ada sebuah kantor yang tenang. Seorang pria menatapku dengan tatapan iba yang membuatku ingin muntah.

“Akhirnya, kau sudah sampai,” katanya. “Kau tahu, kita sudah melakukan ini berkali-kali. Ini adalah siklusmu yang kelima dalam dua tahun.”

“Apa yang kau bicarakan? Aku sedang mencari pasien yang hilang!” teriakku.

“Pasien itu hanyalah alasan yang kau ciptakan agar kau tak perlu mengakui bahwa kau adalah salah satu dari mereka.”

Dia meletakkan sebuah foto di hadapanku.

“Lihat foto ini. Katakan padaku apa yang kau lihat.”

Aku melihat foto itu. Awalnya kabur, lalu perlahan menjadi jelas. Itu adalah rumah di tepi danau. Rumahku. Tiga anak kecil dengan pakaian bermain mereka, terbaring kaku di atas rumput hijau yang basah.

Di sana, kulihat diriku sendiri, memeluk istriku yang hancur, sebelum akhirnya aku menarik pelatuk itu untuk mengakhiri penderitaannya. Duniaku runtuh. Mercusuar itu seolah bergoyang.

Tidak ada konspirasi. Tidak ada eksperimen rahasia. Yang ada hanyalah seorang pria yang terlalu pengecut untuk mengingat bahwa dia gagal menyelamatkan anak-anaknya, dan terlalu hancur untuk menerima bahwa dia adalah seorang pembunuh.

“Nama yang tertera di lencana itu bukanlah namamu.”

Suara dokter itu menggelegar seperti guntur.

“Kau menciptakan teka-teki ini, mitra kerja khayalanmu, bahkan seluruh penyelidikan ini hanya agar kau bisa menjadi pahlawan bagi dirimu sendiri. Jika kali ini kau tetap gagal menerima kenyataan, mereka akan melakukan tindakan permanen padamu.”

Aku jatuh terduduk di lantai yang dingin. Kabut di kepalaku perlahan menghilang, menyisakan kekosongan yang jauh lebih menakutkan daripada kegilaan. Aku ingat bau air danau itu. Aku ingat dinginnya kulit anak-anakku.

Aku ingat semuanya. Cahaya matahari pagi terasa menyakitkan saat aku duduk di tangga batu bersama pria yang selama ini kuanggap sebagai rekanku. Dia menatapku, menunggu sebuah tanda. Menunggu untuk melihat apakah investigasi ini sudah berakhir, atau apakah aku akan tenggelam lagi dalam khayalanku.

Aku tahu, jika aku menunjukkan bahwa aku sudah sadar, aku harus menjalani setiap detik hidup dengan bayangan anak-anakku yang mengapung di danau itu. Aku harus hidup dengan rasa bersalah yang tak akan pernah dimaafkan oleh waktu.

Aku menatap perawat yang mendekat dengan nampan berisi peralatan bedah. Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku menyerah pada prosedur itu. Mereka akan memotong bagian dari otakku, mematikan perasaanku, dan mengubahku menjadi mayat hidup yang tenang tanpa kenangan.

Aku berdiri, melangkah menuju mereka yang sudah menunggu untuk menghapus diriku selamanya. Aku memilih untuk melupakan, bukan karena aku tidak tahu, tapi karena aku tahu terlalu banyak.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus