
Oleh: Muaz Alfattah Fadhani
USU, wacana.org – Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan kegiatan Diploschool 2026 di Aula Mikie Wijaya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) USU, Senin (6/7/2026).
Kegiatan ini mengangkat tema “Global Movement in Digitalization,” yang diikuti oleh sejumlah siswa SMA di Kota Medan sebagai ruang pengenalan awal terhadap isu hubungan internasional, khususnya mengenai perkembangan digitalisasi global.
Director of Research and Development FPCI USU, Samuel Raymond, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu upaya FPCI USU untuk memperluas pemahaman isu internasional kepada pelajar SMA. “RnD melihat urgensi dari adanya sentuhan pertama sebagai inisiatif awal persebaran wawasan kepada siswa di bangku SMA,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa program ini sejalan dengan visi FPCI yang ingin menyebarkan kesadaran mengenai perkembangan kebijakan internasional kepada masyarakat umum. Menurutnya, FPCI selama ini lebih sering menargetkan mahasiswa sebagai sasaran utama, sehingga Diploschool hadir sebagai langkah awal untuk mengenalkan isu global kepada siswa SMA.
Ia menambahkan bahwa Diploschool berjalan sesuai dengan rancangan meskipun masih mengalami beberapa kendala, salah satunya terkait jumlah partisipan. “Diploschool berjalan sesuai rancangannya, walaupun mengalami beberapa kendala seperti kurangnya partisipan. Namun, kegiatan ini masih bisa dikatakan 50 persen berhasil, mengingat acara ini merupakan benchmark dari kegiatan yang menginklusikan siswa SMA,” ujarnya.
Dosen Fakultas Hukum USU, Jelly Leviza, sebagai pembicara utama menyampaikan bahwa isu digitalisasi global perlu dipahami oleh generasi muda karena perkembangan teknologi saat ini turut memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, hukum, ekonomi, hingga hubungan antarnegara.
“Digitalisasi bukan hanya tentang penggunaan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda mampu memahami perubahan global dan menggunakan teknologi secara bijak,” ungkapnya.
Salah satu peserta Diploschool 2026, Queena Nafisah dari SMA Negeri 2 Medan, menilai kegiatan ini penting bagi pelajar SMA karena memberikan wawasan yang tidak selalu didapatkan di sekolah. “DiploSchool juga mengajarkan cara berpikir kritis dengan berdiskusi bersama, sehingga memberikan pengalaman sekaligus pemahaman baru dari berbagai sudut pandang,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa materi yang diberikan relevan dengan tantangan anak muda saat ini, terutama di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. “Saya berharap Diploschool dapat terus menjadi kegiatan yang bermanfaat, menghadirkan pengalaman belajar yang menarik, serta menjadi inspirasi bagi anak muda agar semakin percaya diri dalam mengembangkan potensi diri,” tuturnya.



