BOPM Wacana

Social Loafing: Menurunnya Usaha Individu dalam Kerja Sama Kelompok

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Oleh: Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Ada kalanya ketika kerja sama kelompok, tidak jarang satu orang memikul beban, sementara yang lain sekadar hadir dalam daftar nama

Berbicara tentang kerja sama tim, siapa yang tidak pernah mengalami drama klasik yang sepertinya sudah menjadi “menu wajib” setiap proyek kelompok? Drama ini adalah sebuah pola yang terus berulang di berbagai situasi, mulai dari tugas kuliah, organisasi, hingga dunia kerja profesional.

Dinamika kerja sama sering kali diwarnai dengan ketimpangan peran dan tanggung jawab. Hal ini menyebabkan hanya segelintir orang yang benar-benar bekerja keras menyelesaikan tugas, sementara sebagian lainnya justru pasif atau nyaris tidak berkontribusi sama sekali. Namun tetap menikmati hasil akhir yang sama tanpa merasa bersalah.

Fenomena social loafing

Orang cenderung untuk mengerahkan lebih sedikit upaya ketika menuju tujuan bersama daripada ketika bertanggung jawab secara individu. Fenomena ini dinamakan social loafing. Fenomena ini bukan sekadar mitos mahasiswa atau bahan gosip tongkrongan semata.

Ini terjadi di dunia nyata, bolak-balik terjadi, tidak hanya di kampus, tetapi juga di kantor atau organisasi manapun. Intinya, selalu ada saja yang bekerja mati-matian, sementara yang lain menempel nama saja, tetapi ikut memanen hasil. Semakin ramai satu tim, biasanya semakin kecil usaha masing-masing orang.

Ketika tugas dikatakan “bersama-sama”, kita langsung berpikir, “Pasti ada yang mengerjakan, santai saja”. Apalagi kalau penilaiannya hanya formalitas, motivasi mengerjakan langsung turun. Pada akhirnya, ada saja yang bersembunyi di balik nama tim, padahal tidak melakukan apa-apa.

Namun, jangan salah paham juga. Adanya social loafing bukan hanya karena tugas mereka terasa besar atau berat. Selama hasil pekerjaan seseorang tidak terlihat jelas, semangatnya juga bisa langsung hilang, bahkan untuk urusan sepele. Jadi, baik pekerjaan berat atau ringan, kemalasan sosial bisa muncul kapan saja.

Social loafing dalam kehidupan nyata

Dalam kerja sama kelompok, selalu saja ada satu atau dua orang yang menancap gas dari awal, sisanya entah ke mana, muncul ketika tenggat sudah mengetuk pintu. Pola seperti ini membuat yang rajin menjadi malas juga, drama internal sangat mudah meledak, apalagi kalau tidak ada yang mengatur.

Tetapi jangan buru-buru mengecap orang-orang ini pemalas. Sering kali penyebabnya justru sistem tim yang acak-acakan, budaya kerja yang toxic, ataupun atasan yang tidak tegas. Orang rajin juga bisa berubah menjadi “ikut malas” kalau lingkungannya memang parah, apalagi kalau target pekerjaannya tidak jelas.

Membicarakan dampak, jelas saja pekerjaan menjadi asal-asalan, produktivitas hancur, nama tim menjadi jelek di mata atasan. Yang bekerja sendirian mengalami burnout sehingga mental yang jadi korban, juga suasana kerja yang semakin keruh.

Agar para perilaku social loafing tidak semakin parah, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Jangan membuat tim terlalu besar Setiap anggota tim kecil biasanya memiliki tugas dan peran yang jelas. Orang lain dapat dengan mudah mengetahui orang yang baik atau memberikan ide, dan penghargaan juga lebih adil.
  2. Bangun kekompakan                           Tim yang kompak berarti setiap anggotanya bekerjasama, saling mempercayai, dan siap membantu satu sama lain saat terjadi kesulitan.
  3. Bagi tugas sesuai minat dan keterampilan                                        Hasil kerjanya biasanya lebih baik dan prosesnya juga akan lebih efisien jika  tugas dilimpahkan sesuai dengan minat dan keterampilannya.
  4. Ciptakan budaya kerja yang saling menghargai                                       Setiap orang berhak memperoleh penghargaan atas kerja mereka, harus dianggap sama tanpa membeda-bedakan.

Singkatnya, social loafing sangat nyata terjadi di tim mana pun. Namun kita masih bisa mengakalinya, jika desain timnya benar dan peraturannya tidak kaku. Yang hanya menumpang nama bisa dicut agar semua orang mempunyai kemauan untuk berkontribusi.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus