BOPM Wacana

Diderot Effect: Saat Satu Barang Baru Membuat Hidup Serasa Perlu Upgrade

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Oleh: Jennifer Smith L. Tobing

“Celana lama ini kok jadi kelihatan kusam, ya?”

Bayangkan suatu hari kamu membeli kemeja baru yang benar-benar kamu sukai. Begitu mencobanya di depan kaca, kamu tergoda membeli celana baru, lalu sepatu, hingga akhirnya dompet pun ikut terganti. Inilah yang dikenal sebagai Efek Diderot, fenomena psikologis ketika satu barang baru membuat barang lama terasa tidak pantas lagi, sehingga memicu rantai pembelian berikutnya.

Istilah Diderot Effect

Fenomena ini pertama kali dijelaskan filsuf Prancis, Denis Diderot (1713–1784) dalam esai Regrets on Parting with My Old Dressing Gown (1769). Ia bercerita bagaimana hadiah sebuah jubah baru membuat seluruh perabot lamanya tampak memalukan. Jubah itu mendorongnya mengganti kursi, meja, hingga dekorasi rumah, lalu menyesali uang yang terbuang.

Antropolog budaya, Grant McCracken kemudian mengangkat kisah ini pada 1986 dan menamakannya “Diderot Effect”. Fenomena ini menunjukkan kecenderungan manusia untuk terus membeli barang tambahan agar selaras dengan barang baru.

Di Indonesia, efek ini makin terasa lewat media sosial. Tren outfit of the day membuat banyak orang merasa tidak cukup punya satu baju baru; ia harus dilengkapi sepatu, tas, hingga aksesori lain. Begitu pula tren dekorasi rumah estetik di TikTok yang mendorong orang mengganti meja, rak, bahkan lampu agar sesuai dengan standar visual.

Mahasiswa pun tidak luput dari fenomena ini. Media Mahasiswa Indonesia mencatat bahwa tekanan gaya hidup membuat satu pembelian sering berujung pada rantai konsumsi, meski kondisi keuangan terbatas.

Imbas terkena Diderot Effect

Profesor Psikologi Klinis Ross White dalam Psychology Today menjelaskan bahwa Diderot Effect bisa memicu spending spiral atau pusaran belanja: begitu membeli satu barang, kita merasa harus membeli barang lain agar identitas diri konsisten. Menurutnya, hal ini berbahaya karena menimbulkan “ilusi kebutuhan” yang padahal hanya dorongan sosial dan estetika.

Dampak lain ditegaskan penulis buku The More of Less, Joshua Becker. Dalam tulisannya di Forbes, ia menyebut bahwa Diderot Effect berkontribusi pada overconsumption yang menguras keuangan dan menyuburkan budaya materialistis. “Kita mengira barang baru akan membuat kita bahagia, padahal yang terjadi justru kita kehilangan kebebasan finansial,” tulis Becker.

Dari sudut pandang lokal, Nadya Warih juga menyoroti risiko keuangan. Ia menekankan bahwa pembelian tambahan akibat Diderot Effect sering kali dilakukan lewat paylater atau cicilan, sehingga menumpuk utang jangka panjang.

Upaya Meminimalisir Fenomena

Beberapa pakar menawarkan strategi untuk melawan efek ini. Penulis buku Atomic Habits, James Clear dalam artikelnya menyebutkan bahwa kesadaran akan pola konsumsi adalah langkah pertama: sebelum membeli barang baru, kita harus bertanya, “Apakah ini benar-benar kebutuhan atau sekadar pemicu belanja lain?”

Senada, artikel National Geographic Indonesia menekankan pentingnya jeda waktu sebelum memutuskan pembelian tambahan. Dengan menunda satu hingga dua hari, keinginan emosional bisa mereda, sehingga keputusan lebih rasional.

Sementara Tirto.id menyarankan pendekatan gaya hidup minimalis. Menurut mereka, kesederhanaan justru memberi kebebasan: ketika kita berhenti mengejar keserasian sempurna, kita bisa lebih menikmati fungsi dan nilai barang yang sudah ada.

Efek Diderot mengingatkan kita bahwa konsumsi bukan hanya soal fungsi barang, tetapi juga soal identitas, estetika, dan tekanan sosial. Para ahli sepakat: dampaknya bisa berbahaya bagi keuangan dan psikologis, namun bisa diatasi dengan kesadaran, disiplin anggaran, serta gaya hidup yang lebih sederhana.

Pada akhirnya, barang baru seharusnya memberi rasa syukur, bukan menambah beban. Menyadari pola ini adalah langkah kecil namun penting agar kita bisa menikmati apa yang kita miliki tanpa terus-menerus merasa ada yang kurang.

Komentar Facebook Anda

Jennifer Smith L. Tobing

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik FISIP USU Stambuk 2023. Saat ini Jennifer menjabat sebagai Bendahara Umum BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus