BOPM Wacana

Kisah Bapak

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Sudah sejam lebih Alex menatap lembaran putih di layar laptopnya. Wahyu yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Ia frustasi. Padahal, besok tugas menulis cerpen yang diberikan Pak Saut—Guru Bahasa Indonesia yang ia takuti—harus dikumpul. Untungnya, tepat sebelum ia menyerah, Alex teringat kisah yang pernah diceritakan bapaknya. Senyum sumringah menggantikan wajah sumpeknya. Tangannya mulai sibuk beraktivitas di papan tik.

Alex menulis kisah hidup bapaknya semasa kuliah. Kisah yang selalu diceritakan bapaknya kepada Alex semasa kecil. Ia sendiri selalu kesulitan mencerna kisah itu. Namun, kini ia coba mengingatnya kembali:

Semasa kuliah, Bapak selalu menjadi mahasiswa idaman. Sikapnya ramah dan mudah bergaul, ditambah wajahnya yang memang menarik, belum lagi fakta bahwa IPK-nya selalu di atas rata-rata, membuatnya mudah dikenali mahasiswa lain.

Sejak masa orientasi, Bapak sudah menarik perhatian berkat keberaniannya bernyanyi di depan teman-teman. Tak sampai di situ, pada semester tiga, Bapak sudah menjadi duta mahasiswa dari fakultasnya. Ketenarannya semakin memuncak pada semester lima, ketika ia mendaftar diri sebagai calon presiden mahasiswa.

Banyak kelompok mahasiswa yang mendukungnya. Bapak pun diprediksi menjadi kandidat kuat presiden selanjutnya. Namun, hidup tak pernah semulus pantat bayi. Tepat sebulan sebelum pemilihan umum, Bapak diperkosa.

Bapak sendiri tak mengingat kejadiannya. Namun yang pasti, ia ditemukan di toilet oleh petugas kebersihan dengan keadaan yang mengenaskan: tanpa pakaian dan sedikit memar di beberapa bagian tubuh. Walau petinggi fakultas sudah berusaha merahasiakan kejadian itu, namun mulut mahasiswa tak jauh lebih tajam dari mulut ibu-ibu kompleks. Berbagai rumor mengenai Bapak menyebar cepat: satu rumor berkata ia diperkosa sesama teman prianya, satu rumor lain bahkan berkata ia diperkosa seorang dosen. Entah memang trauma atau sengaja berbohong, Bapak sendiri mengaku tak ingat siapa pelakunya.

Satu yang pasti, kejadian itu  benar-benar membuatnya depresi, selama berbulan-bulan, hingga akhirnya ia memutuskan berhenti kuliah. Bapak berniat memulai hidup baru. Ia pindah ke Thailand. Di sanalah ia bertemu Ibu. Dan, di sana juga aku lahir.

 

Alex menyelesaikan cerpennya. Singkat dan padat. Ya, bukan hasil terburuk buat anak SMA yang baru pertama kalinya menulis cerpen. Namun, setelah membaca ulang cerpennya, banyak pertanyaan yang muncul di kepala Alex. Ia baru menyadari bahwa masa lalu bapaknya benar-benar menyimpan banyak teka-teki. Ia berdiri, berlari keluar kamar, dan menyerah karyanya pada neneknya.

Alex kini memang tinggal bersama neneknya setelah bapak dan ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Ia pindah ke Indonesia setelah 15 tahun tinggal di Thailand.

Setelah membaca cerpennya, Alex segera meneror si Nenek dengan berbagai pertanyaan terkait masa lalu si Bapak. Raut muka Nenek berubah, kerutannya bertambah. Ia tampak ragu meladeni Alex. Namun, Alex memang tipe orang yang tak gampang menyerah, hingga akhirnya si Nenek yang menyerah.

Nenek bangkit dan mengambil sebuah album foto keluarga. Namun, Alex tak menemukan satupun foto bapaknya. Alex semakin bingung karena bapaknya tak pernah bercerita kalau ia punya saudara perempuan. Saudara perempuan si Bapak terus muncul di berbagai halaman, namun bapaknya sendiri tak pernah ada. Dibolak-balik berulang-ulang tetap tak ketemu. Alex akhirnya menyerah.

“Foto Bapak mana, Nek?”

“Ini bapakmu,” ucap si Nenek, sambil menunjuk foto gadis anggun yang terus muncul di berbagai halaman.

Alis Alex naik. Ia tak mengerti apa yang dimaksud si Nenek. Namun, sebelum Alex kembali meneror dengan berbagai pertanyaan, Nenek coba menegaskan: “Iya, ini bapakmu.”

“Maksud Nenek apa? Aku rasa ini saudara perempuannya Bapak. Wajahnya mirip Bapak, tapi kan… dia perempuan.”

“Bukan, dia bapakmu. Bapakmu dulu memang perempuan, Cu.”

“Bagaimana mung..,” sebelum Alex menyelesaikan kalimatnya, ia kembali teringat kejadian pemerkosaan Bapaknya—bagian yang tak pernah ia mengerti dari kisah hidup si Bapak. Namun, setelah perkataan neneknya, satu persatu penjelasan muncul di kepala Alex—mengisi mata rantai yang hilang dari cerita itu.

“Ibumu sebenarnya bukan ibu aslimu. Melainkan, bapakmu adalah ibumu yang sebenarnya. Memang terdengar membingungkan tapi Nenek kira kamu mulai mengerti apa maksud Nenek.”

Gak Nek, enggak sama sekali. Coba jelaskan!”

“Seperti yang sudah kamu tahu, setelah tragedi pemerkosaan itu, ibumu memutuskan berhenti kuliah. Selain depresi, ia malu. Ia hamil. Bapakmu mengandung kamu. Untuk menjaga nama baik keluarga, ia memutuskan pergi luar negeri, tinggal di Thailand, setidaknya sampai kamu lahir. Namun, di sana ia bertemu Ibumu. Mereka memutuskan berkeluarga. Nenek sebenarnya sudah lama menyadari. Bapakmu merasa tidak nyaman dengan jenis kelaminnya sendiri. Setelah kamu lahir, ia melakukan operasi pergantian kelamin. Ia ingin jadi pria seutuhnya.”

Alex tak tahu harus merespon apa. Ia hanya diam. Nenek tahu Alex pasti marah. Namun, sebenarnya Alex hanya sedang memproses runtunan fakta-fakta absurd yang barusan ia terima dalam otaknya. Kini Alex sadar, ia tak pernah mengenal dirinya sendiri. Ia tak pernah merasa begitu terasingkan seperti saat ini—bukan hanya dari dunia tapi dari dirinya sendiri. Setelahnya beberapa menit diam dalam kebingungan, ia tersenyum.

“Terima kasih, Nek,” ucapnya sambil berjalan santai menuju kamar.

Ia baru menyadari satu fakta penting yang membuatnya tak bisa berhenti tersenyum: ternyata kisah hidupnya sendiri jauh lebih aneh dari berbagai kisah fiksi film-film yang pernah ia tonton.

Komentar Facebook Anda

Surya Dua Artha Simanjuntak

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Stambuk 2017.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4