
Oleh: Kenny Irenius Surbakti
“Manusia akan pergi, tetapi tulisan akan abadi.”
Kalimat tersebut merupakan ungkapan perasaan Yoel Edward Hasugian, mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) stambuk 2023, saat ditanya mengenai perasaannya dalam menulis. Baginya, menulis merupakan upaya untuk terus diingat dan metode untuk terus mempelajari hal baru.
Pada awalnya, Yoel bukanlah sosok yang memiliki ketertarikan dalam bidang hukum, terutama kegiatan seperti menulis. Yoel yang awalnya berasal dari lingkungan eksakta semasa SMA harus membiasakan dirinya untuk mulai membaca dan menulis sebagai kegiatan sehari-harinya di Fakultas Hukum.
Perjalanan menulis Yoel dimulai dari kebiasaannya untuk menulis ulang hasil pembelajaran di kelas. Seiring waktu, kebiasaan tersebut terus berkembang hingga pada semester tiga ia mulai mengirimkan tulisan populernya ke berbagai media cetak yang berisi kritikan terhadap kondisi sosial di Indonesia.
Ditambah lagi dengan kebiasaannya untuk menulis diary setiap malam, semakin memperdalam ketertarikan Yoel dalam dunia menulis.
Dorongan awal Yoel untuk mulai menulis jurnal bermula dari tugas yang diberikan oleh dosen pada salah satu mata kuliahnya. Dalam tugas tersebut, mahasiswa diminta menyusun sebuah jurnal ilmiah. Awalnya, ia mengaku merasa kesulitan untuk melakukan riset ataupun mulai menulis dalam bahasa ilmiah. Namun, setelah dicoba, Yoel mulai menikmati proses menulis hingga akhirnya berhasil menyelesaikan draf pertama jurnalnya.
Melalui momen tersebut, Yoel merasa sangat disayangkan jika tulisan tersebut hanya berakhir di tangan dosen. Maka dari itu, dirinya berinisiatif untuk menerbitkan jurnal pertamanya. Tanpa disangka, jurnal tersebut berhasil tembus SINTA 3. Dari pengalaman itu, dirinya pun semakin termotivasi untuk terus menulis lebih banyak karya ilmiah.
Yoel sendiri mengaku dalam memilih topik penelitian, dirinya sering berangkat dari keresahan pribadi. “Aku suka mencari gitu isu-isu yang enak untuk dibahas, yang masih ada research gap di dalamnya,” ungkapnya.

Yoel sendiri merasa kebiasaan menulis ini tidak menghambat proses perkuliahannya. “Sebenarnya kita kan gak terlalu sibuk juga, karena gak dipaksa magang atau KKN, jadi di sela-sela waktu itu bisa dipakai untuk menulis, karena aku juga mendapatkan banyak hal dari menulis ini,” ujarnya.
Sebagian besar karya ilmiah Yoel ditulis sebagai solo author atau penulis tunggal. Hal ini dikarenakan dirinya belum merasa menemukan teman yang cocok untuk melakukan penelitian bersama. Namun, Yoel juga mengaku bahwa apresiasi dari teman-temannya menjadi bahan bakar bagi dirinya untuk terus menulis.
Dalam proses menulis, dirinya akan lebih sering menghabiskan waktu untuk melakukan riset daripada menulis. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan prinsip yang ia pegang bahwa ia tidak akan mulai menulis jika belum menemukan jawaban atas permasalahan yang sedang dibahasnya.
“Untuk riset bisa makan waktu berminggu-minggu, sedangkan kalau udah tahu jawabannya dan tinggal menulis, kemungkinan hanya makan waktu tiga sampai lima hari,” jelasnya.
Yoel juga menambahkan jika dapat memutar waktu, ia ingin mengubah kebiasaannya dahulu yang sering menambahkan kata-kata rumit agar terlihat intelektual atau sekadar untuk menambah jumlah halaman saja.
Akhir kata, Yoel memberikan pesan kepada orang-orang yang ingin mulai menulis bahwa seorang penulis pasti akan menjadi lebih baik semakin ia sering menulis, sehingga jangan takut di-judge, disangka kolot, ataupun dangkal.
Bagi Yoel, menulis itu juga dapat dilihat sebagai cara menguji ide. “Ide itu waktu berada di kepala pasti kedengarannya sangat revolusioner, namun setelah ide itu ditulis pasti akan kelihatan celah dalam argumennya,” jelasnya.
Oleh karena itu, Yoel mendorong mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada suatu topik untuk mencoba menuliskannya. Sebab, ide tersebut tidak akan berkembang jika hanya disimpan di dalam pikiran.



