
Oleh: Putri Salwa Assyifa
“Membangun gerakan sosial bukan hanya soal ide bagus, tapi juga komitmen jangka panjang yang membutuhkan pertimbangan matang dan effort berkelanjutan.”
Semua gerakan besar berawal dari langkah kecil. Kalimat inilah dapat menggambarkan Perempuan inspiratif lulusan alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2012.
Siti Suci Larasati, yang lahir 3 September 1994 ini akrab dipanggil Larasati. Kini ia menjadi pelopor gerakan food bank di Sumatra Utara melalui organisasi yang dipimpinnya yang dinamai Aksata Pangan.
Aksata Pangan berawal dari gerakan semasa kuliah bernama Food Truck Sedekah (FTS) yang dilakukan bersama teman-temannya tahun 2018 lalu. “Dulu masa kuliah namanya masih Food Truck Sedekah. Jadi masih memberikan makanan dari masjid ke masjid dan kegiatan belum fokus dalam isu sosial yang bisa diselesaikan,” tuturnya.
Saat itu mereka mendapatkan donasi telur-telur kecil dari distributor. Dari sinilah, Larasati dan teman-temannya mulai mengulik terkait kesenjangan nyata bahwasannya masih banyak orang menahan lapar karena makanan yang berlebih di satu tempat dan tidak pernah sampai ke tangan mereka. Maka muncul konsep food bank di Medan sebuah sistem yang menyelamatkan makanan berlebih yang berpotensi terbuang untuk didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Pada tahun 2021, Aksata Pangan resmi berdiri. Nama “Aksata” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “tidak terputus” sebuah filosofi yang mencerminkan harapan mereka untuk menjaga sistem pangan yang berkelanjutan. Logo mereka menampilkan bulir padi berbentuk tak terhingga (infinity), melambangkan keberlanjutan sistem pangan yang mereka ciptakan.
Aksata Pangan bertindak sebagai jembatan. Mereka bekerja sama dengan hotel dan perusahaan food and beverage untuk menyelamatkan makanan berlebih yang masih layak misalnya makanan sarapan hotel yang berlebih atau produk yang mendekati masa best before.

Proses yang dimiliki harus melalui Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat, tim Aksata Pangan menjemput makanan menggunakan minivan khusus dan menyalurkannya kepada organisasi penerima manfaat (Frontline Organization) yang sudah bermitra juga menjaga transparansi dan keamanan pangan (food safety). Hingga saat ini, Aksata Pangan telah mencapai angka distribusi yakni lebih dari 100 ribu paket makanan dan menjangkau 19 kecamatan di Kota Medan.

Melalui inovasi yang dihadirkan Aksata pangan ini telah diakui melalui berbagai apresiasi yakni; penghargaan dari DAAI TV sebagai Inspirational Award 2022, penghargaan Unilever Indonesia sebagai ”Every U Does Good Hero 2022”, selain itu juga mendapat penghargaan dari YSEALI Seeds the Future 2022 pada program Food Heroes. Kemudian penghargaan dari Badan Pangan Nasional sebagai Mitra Komunitas Terkonsisten dalam Penyelamatan Pangan 2024, serta penghargaan dari Provinsi Sumatra Utara.
Mengelola organisasi non-profit memiliki tantangan tersendiri. Larasati mengaku tantangan terbesar adalah konsistensi dan edukasi. Di Indonesia, food bank masih baru dan dukungan kebijakan pemda masih tahap awal dan keterbatasan stok donasi dari sektor manufaktur. Selain itu, pihaknya masih harus mengedukasi masyarakat guna meluruskan miskonsepsi yang menganggap gerakan sosial profesional ini sekadar kegiatan amal keagamaan biasa.

Namun Larasati terus mendorong tim tidak menyerah. Mereka terus melakukan pendekatan ke berbagai perusahaan, audiensi ke pemerintah, dan memperluas jaringan. Kini, Aksata Pangan didukung oleh 6 orang tim inti yang akan bertambah dalam masa perekrutan untuk mencapai 10 orang, saat ini memiliki lebih 300 volunteer yang aktif, sebagian besar adalah mahasiswa yang membantu dalam berbagai kegiatan.
Untuk pendanaan, Aksata Pangan tidak lagi bergantung pada dana pribadi. Pendanaan utama yang mereka dapat melalui hibah (grants), penggalangan dana publik, dan dukungan korporasi. “Sekarang Aksata Pangan sifatnya sudah profesional, semua tim di sini dapat hak dan kewajibannya berupa kompensasi atau gaji,” jelasnya.
Lebih menarik lagi, Larasati menceritakan bahwa Aksata Pangan memiliki strategi pengembangan untuk mendapatkan eksposur dari tingkat internasional dulu, baru kemudian nasional, dan akhirnya lokal, hal ini menunjukanl kebalikan dari strategi biasanya. Ini menunjukkan bahwa solusi lokal bisa menarik perhatian global terlebih dahulu.
Larasati sangat menekankan dan mempercayai pada generasi muda yang ingin bergerak di bidang sosial. “Menjalankan ini butuh konsisten dan waktu yang lama. Memulai dan melanjutkan itu butuh effort yang besar. Jika di level lokal belum ada respon, jangan menyerah. Kita harus punya usaha untuk mencari jalan, bahkan hingga ke level internasional untuk mendapatkan eksposur, lalu membawanya kembali untuk memberi dampak di tingkat lokal,” tuturnya.
Meskipun Aksata Pangan baru saja pindah lokasi ke tempat baru yakni di Jl. Panglima Denai No.26 Blok C, Medan Amplas yang dulunya berada di Jl. Karya Wisata No.25, Medan Johor. Larasati sangat berambisi Aksata Pangan dapat berjalan lebih masif dan memberikan dampak yang lebih besar. Visi jangka panjangnya adalah menjadikan
Aksata Pangan sebagai gerakan berkelanjutan yang terus berkembang seiring dengan inovasi dan teknologi yang bermunculan. Larasati berharap gerakan ini akan terus tumbuh dan berkembang. “Gerakan penyelamatan dan distribusi makanan kepada masyarakat yang membutuhkan ini harus terus tumbuh dan berkembang, semoga tidak hanya berjalan di Medan saja, tetapi juga di seluruh Indonesia,”tuturnya



