BOPM Wacana

Urgensi Rasionalitas dalam Beragama

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Sondang William Gabriel Manalu

 

Pernahkah saudara bingung untuk menentukan mana yang lebih penting, Tuhanku atau sesamaku manusia?  

Rasionalitas dalam beragama sudah sering dimuat dalam sebuah tulisan opini. Namun tampaknya kejadian kasus pemandian jenazah wanita oleh nakes pria non-muslim di Pematang Siantar mengharuskan saya membahas kembali masalah rasionalitas dalam beragama.

Perlu saya jelaskan sebelumnya, dalam membuat tulisan ini saya dalam kondisi linglung, maka saat tulisan ini ternyata akurat, saya dapat berbangga diri karena saya juga bisa menggencarkan logika pembaca bahkan dalam kondisi linglung.

Terlepas dari keputusan Kejaksaan Negeri Pematang Siantar yang patut saya apresiasi karena menolak kasus tersebut dengan alasan tidak kuatnya alat bukti yang menunjukkan terdakwa melanggar pasal 156A jo pasal 55 UU Tentang Penistaan Agama. Sangat disayangkan karena pihak pelapor dalam kasus ini sudah tidak mampu berpikir rasional karena ditutupi sifat idealisnya dalam beragama.

Sedikit penjelasan bahwa yang dilakukan tenaga kesehatan adalah membersihkan mayat wanita beragama Islam yang divonis positif Covid-19. Di mana keempat tenaga kesehatan ini berjenis kelamin pria dan tidak beragama Islam.

Hal ini yang disoroti oleh pihak pelapor dan menuduh terdakwa melanggar Undang-undang Penistaan Agama. Terlebih terdapat pernyataan minta maaf dari keempat terdakwa yang semakin menguatkan bahwa keempatnya seakan bersalah.

Seharusnya tenaga kesehatan menjadi sosok yang dibanggakan karena merekalah yang ada di garis terdepan penanganan Covid-19. Namun dalam peristiwa ini, faktanya terbalik: aksi dari tenaga kesehatan yang dirasa masih rasional, dikatakan sebagai penistaan agama. Terlebih, jumlah tenaga kesehatan di Indonesia juga tidak banyak.

Merujuk pada data Kementerian Kesehataan, total fasilitas layanan kesehatan seluruh Indonesia berada pada angka 32.770 sementara data kasus Covid-19 per tanggal 8 maret 2021 mencapai 145.628 kasus sedangkan yang terkonfirmasi meninggal mencapai 37.574 jiwa. Khusus kasus mayat Covid-19, tidak sembarang orang yang dapat menangani mayatnya.

Dalam keterbatasan ini, jika masih ada pihak yang melihat dan memprotes gender maupun agama tenaga kesehatan yang berbeda dengan mayat, maka penulis sangat menyarankan agar pihak itu kembali memikirkan rasionalitas perbuatannya.

Sesuai dengan judul, rasionalitas dalam agama sendiri sangat diperlukan. Terdapat suatu ajaran yang mengatakan, “karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.” Dalam hal ini, penulis sedikit menjelaskan bahwa perbuatan baik terhadap Tuhan haruslah seimbang dengan perbuatan baik terhadap sesama manusia. Akan sia-sia ketika kita mengasihi dan membela Tuhan dengan sangat, tetapi menjatuhkan sesama manusia. Lagian Tuhan tidak perlu dibela oleh manusia karena Tuhan maha kuasa.

Terdapat resiko yang besar jika seluruh manusia beragama tetapi tidak memakai logika, karena sebenarnya manusia itu akan menciptakan sosok Tuhan yang baru: Tuhan yang otoriter yang tidak memberkahi umatnya pemikiran yang rasional. Agama pun menjadi media pemiskin intelegensi manusia. Sehingga, agama yang awalnya merupakan hal yang baik akan mendapatkan pemaknaan baru menjadi hal yang buruk baik dalam bidang sosial maupun bidang sains.

Seperti pendapat Ahli Psikoanalisis Sigmund Freud, dikutip Erich Fromm dalam bukunya Psikoanalisis dan Agama, yang mengatakan “agama adalah sesuatu yang berbahaya karena agama cenderung menyucikan institusi-institusi manusia yang buruk yang menjadi sekutunya sepanjang sejarah sendiri; lebih jauh lagi agama juga mengajarkan orang supaya menaruh keyakinan pada sebuah ilusi dengan melarang pemikiran kritis, maka agama menjadi bidang pemiskinan intelegensi.” Pendapat ini tidak lagi menjadi sekedar opini belaka tetapi menjadi sebuah fakta sosial.

Hal seperti ini tentu sangat tidak diinginkan terlebih bagi penulis dan pembaca. Terlepas dari agama apapun yang kita anut, tidak satupun dari kita yang menginginkan terjadinya pemaknaan buruk tentang agama. Agama adalah sesuatu yang indah sejak awal oleh karenanya penulis sangat menyarankan agar kita sebagai manusia tetap mengedepankan unsur rasionalitas dalam menganut sebuah agama dan mengedepankan aspek-aspek kemanusiaan.

Satu hal yang ingin penulis tekankan, tetaplah berpikir rasional dalam kondisi apapun, bahkan ketika Anda linglung seperti penulis, agar pembaca tidak mabuk dalam beragama dan bermasyarakat. Salam kebajikan.

Komentar Facebook Anda

Sondang William Gabriel Manalu

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Hukum USU Stambuk 2019. Saat ini Sondang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4