BOPM Wacana

Tikaman Ketulusan

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

Oleh: Ummul Wardah Juniko*

Jujur? Tulus? Ahh, kata-kata itu hanya sebatas ilusi. Kau tau? Tak ada yang benar-benar seperti itu di dunia malang nan menyedihkan ini. Miris. Miris sekali, bukan?

Matahari pagi bersinar terik. Sinarnya sesekali mengintip di celah pepohonan rindang. Menyapa semua makhuk tanpa pernah berharap disapa balik. Dia membagi keceriaannya dengan tulus. Dengan jujur tanpa maksud tersirat. Hari yang cerah atau mungkin tidak.

Aku sedang berjalan-jalan pagi. Bukan untuk menikmati cuaca hari ini, melainkan mencari makanan demi mengisi perutku yang kosong.

Nama ku Deko, hidup sebatang kara. Ibuku mati ketika berusaha menyelamatkan saudara-saudaraku dari terkaman seekor kucing yang mencoba memangsa ayam-ayam seperti kami. Dan ya, tak ada satu pun dari mereka yang selamat. Hari itu, hanya aku yang lolos dari kejahatan kucing bengis itu. Aku merasa bersalah karena pergi meninggalkan mereka demi menyelamatkan diri. Kalau saja semuanya bisa diulang kembali, aku lebih memilih bersama mereka. Karena aku baru menyadari bahwa hidup tak pernah sederhana dan aku merasa sangat kesulitan.

Aku masih mematuk-matuk tanah. Memakan apa saja yang ada untuk mengisi perutku. Aku berusaha hidup dengan bahagia walaupun jujur saja aku sangat kesepian. Hidup yang sulit untukku. Beberapa kali juga aku diserang oleh makhluk lain yang berusaha memangsaku. Aneh. Mengapa aku harus melawan dan meloloskan diri? Bukankah aku ingin menyusul ibu dan saudara-saudara ku? Sangat membingungkan, memang.

««««

Hari yang cerah, tapi tak secerah hati dan hidup ku. Aku berteduh dibawah pohon rindang. Berusaha mencari kedamaian untuk diriku.

“Hai,” kata seekor hewan dibelakangku.

Aku menoleh kebelakang dan kaget bukan kepalang. Tubuhku gemetar saking takutnya.

“Hai,” ulangnya lagi.

“A.. a.. apa yang ingin kamu lakukan? Pergi! Jangan dekati aku,” ucapku terbata.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Mengapa kamu ketakutan seperti itu?” tanya Domi si kucing dengan heran.

“Kamu pasti ingin memakanku kan?” jawab Deko masih dengan gemetar.

Domi tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

“Hey! Apa yang kamu tertawakan, hah?”, teriak Deko dengan geram namun masih ketakutan.

“Ah, tidak, tidak. Kenapa aku ingin memakanmu? Tenang saja. Aku tak berselera memakanmu. Tubuh kecilmu ini tak akan membuat perutku kenyang,” jawab Domi dengan santainya.

Deko memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Domi. Ayam itu hanya diam. Tidak menjawab lagi perkataan Domi. Dia masih waspada dengan kehadiran Domi.

“Huh, bisanya hanya menghina makhluk kecil saja.Tapi, ada bagusnya juga dia tak berselera memakau. Jadi aku bisa sedikit lebih tenang,” batin Deko.

“Kenapa kamu hanya sendirian? Apakah kamu tidak memiliki keluarga ataupun teman?” tanya Domi lagi setelah hening beberapa saat.

“Tidak. Ibu dan saudara-saudara ku sudah mati dimangsa oleh kucing sepertimu,” jawab Deko.

“Itukah sebabnya kau ketakutan saat melihatku? Ah ya, akhirnya aku mengerti. Aku juga hanya hidup seorang diri. Kesepian. Kita senasib. Mungkinkah kita bisa jadi teman yang akrab?” tanya Domi dengan riang.

Deko hanya bisa diam. Diam sambil memikirkan sesuatu yang tak ia temukan jawabannya.

««««

Domi selalu mengikuti kemanapun Deko pergi.  Walaupun selalu diusir oleh Deko, tapi Domi tetap tak menyerah.

Semakin lama mereka semakin akrab. Deko pun mulai nyaman berteman dengan Domi tanpa ada lagi rasa curiga. Mereka hidup saling membantu. Saling mengisi satu sama lain. Domi memperlakukan Deko seperti adiknya, begitupun sebaliknya. Deko selalu tidur dipelukan Domi dengan nyaman karena bulu-bulu lembut Domi menghangatkannya.

“Apakah yang kuat akan selalu memangsa yang lemah? Tak bisa kah kita saling membantu dan hidup berdampingan?” Deko bertanya suatu hari, ketika keduanya mulai tumbuh dewasa.

“Ntah lah. Aku juga tidak mengerti kenapa hal itu terjadi,” jawab Domi.

“Mereka yang kuat dan punya  kekuasaan selalu saja menyusahkan yang lemah. Merampas hak dan kebahagiaan makhluk lemah begitu saja. Aku sangat heran. Mengapa mereka begitu buas dan serakah?” Deko mendadak teringat dengan keluarganya.

“Ya, benar sekali. Banyak dari mereka yang bersikap manis untuk menarik simpati. Tapi ternyata kebaikannya tidak tulus,” jawab kucing itu.

“Perkataan dan perilaku manis mereka itu sampah. Aku sangat muak melihat dan mendengarnya,” ucap Deko.

Hening.

Mereka kembali diam dan berkutat dengan pikirannya masing-masing.

««««

Hari yang menyenangkan kembali menyapa mereka. Hangat sinar mentari itu menembus kulit.

Deko dan Domi sedang bermain seperti biasanya. Menikmati sejuknya udara di bawah pepohonan rindang itu. Persahabatan yang indah. Layaknya dua sejoli yang tak terpisahkan lagi.

Deko tak pernah menyangka kejadian apa yang akan menimpanya sesaat kemudian. Tawa bahagia itu berhenti. Pupus. Sirna terbawa damai dan lembutnya hembusan angin kala itu. Langit cerah itu akhirnya mendung juga.

Bughhh..

Deko terjatuh menghantam tanah. Dia berteriak sambil menahan rasa sakit yang tak tertahankan lagi.

Domi? Dimana Domi? Deko membutuhkan kucing itu. Apakah dia meninggalkan Deko sendirian?

“Aaarggghh.. Domi, apa yang kamu lakukan?” Deko berteriak kesakitan ketika kuku-kuku Domi menembus kulitnya.

Domi bergeming. Tak bergeser walau sesenti. Ayam itu berusaha melepaskan lehernya dari cengkraman Domi yang semakin kuat, bersamaan dengan darah yang mengalir deras.

“Domi. Domi. Tolong lepaskan aku. Mengapa kamu melakukan ini? Apakah aku pernah menyakitmu sampai kamu tega melakukan ini padaku? Bukankah kita sudah menjadi keluarga?” Deko masih tidak percaya bahwa yang dihadapannya adalah Domi.

“Hei. Ayolah kawan. Kenapa aku harus menjadi teman atau keluargamu jika tubuhmu ini bisa membuat perutku kenyang?

“Kau tahu, bukan? Banyak penguasa atau pun makhluk kuat lainnya yang akan menyengsarakan makhluk lemah. Tapi kau bodoh, Deko. Kau percaya dengan mudahnya. Anak polos yang Malang. Sayang sekali Deko, hari ini kamu akan berakhir masuk ke perutku. Aku bukan makhluk baik. Aku serakah seperti mereka. Apapun akan ku lakukan agar perutku tetap kenyang dan hidupku nyaman. Tak peduli kalaupun harus merugikan yang lainnya,” Domi berucap panjang.

“Aku tak percaya kau melakukan ini padaku. Kupikir kau benar-benar tulus menjadi sahabatku ketika aku kesepian. Tapi ternyata, kau sebusuk ini. Kau tau? Semesta tak akan pernah berpihak pada penjahat,” meski dengan napas yang tersenggal, Deko merasa harus mengatakannya. Dia jelas marah.

“Apakah semua makhluk di dunia ini menjijikkan sepertimu? Cih, dasar penipu! Pengkhianat!” Itu pertanyaan terakhir yang hanya didengar Deko seorang. Suaranya tak bisa keluar. Pertanyaan sederhana itu tak pernah menemukan jawabannya, tak ingin rahasianya terbongkar.

*Penulis adalah anggota magang BOPM Wacana, Mahasiswa Fakultas Pertanian 2020

Komentar Facebook Anda

Ummul Wardah Juniko

Penulis adalah Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan FP USU Stambuk 2020.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4