BOPM Wacana

The Berlin File: Akhir Agen Rahasia Korut

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Fredick Broven Ekayanta Ginting

2013 - The berlin fileJudul: The Berlin File

Sutradara: Ryu Seung-wan

Naskah: Ryu Seung-wan, Ted Geoghegan

Pemain: Ha Jung-woo, Han Suk-kyu, Jeon Ji-hyun, Ryu Seung-beom

Tahun: 2013

Durasi: 120 Menit

“Yang paling dapat dipercaya adalah orang yang paling bisa dilihat paling dekat.”

Dunia spionase memang kental dengan aksi saling sadap, saling mencurigai, saling berkhianat, dan saling memfitnah. Apalagi jika sudah berbicara tentang Mossad (intelijen Israel), CIA (intelijen Amerika Serikat), serta agen-agen rahasia dari dua negara yang terlibat perang saudara dan konflik berkepanjangan, Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel). Tak ketinggalan para broker senjata ilegal dari Rusia dan Arab. Semuanya memiliki kepentingan masing-masing, dan kepentingan itulah yang diperjuangkan. Setiap saat teman bisa menjadi lawan, dan sebaliknya.

Film Berlin File sebenarnya berintikan perjalanan karir seorang agen rahasia Korut, Pyo Jong-seong (Ha Jung-woo) yang bekerja di Kedutaan Besar (Kedubes) Korut untuk Jerman. Satu hari, ia mewakili negaranya menjalankan misi menandatangani kesepakatan pembelian senjata ilegal dengan broker asal Rusia dan seorang Arab di Berlin, Jerman. Namun, pertemuan rahasia itu disadap oleh tiga kelompok intelijen sekaligus: Mossad, CIA, dan intelijen Korsel. Sebelum penandatanganan kesepakatan terjadi, agen-agen Mossad terlebih dahulu menyergap dan menyerang. Alhasil, kontak senjata terjadi.

Jung Jin-soo (Han Suk-kyu) yang merupakan agen Korsel kemudian mencari identitas Jong-seong. Intelijen Korsel menugaskan Jin-soo untuk mengungkap dan menangkap Jong-seong yang dianggap dapat membahayakan Korsel jika pembelian senjata ilegal itu terjadi. Namun, Jong-seong yang merupakan pahlawan di negaranya sulit untuk dilacak dan terlalu licin untuk ditangkap. Maka Jin-soo memutuskan bekerja sama dengan CIA dengan imbalan yang mereka sepakati. Selain dengan CIA, Jin-soo juga menangkap dan menginterogasi agen Mossad yang terlibat dalam kasus ini.

Sementara di lain sisi, Pyongyang, ibukota Korut, mengirimkan agen lain untuk menangani kasus ini, Dong Myung-soo (Ryu Seung-beom). Myung-soo dikirim karena adanya dugaan telah terjadi pembocoran informasi negara yang dilakukan Kedubes Korut di Jerman kepada Korsel dan untuk menguji loyalitas Jong-seong kepada negara.

Dari sinilah awal tuduhan pengkhianatan diterima Jong-seong. Myung-soo sebenarnya melakukan rencana jahat untuk menjebak sang duta besar agar mengaku sebagai pengkhianat negara. Untuk memuluskan rencananya, ia juga menuduh istri Jong-seong, Ryeon Jung-hee (Jeon Ji-hyun) membantu si duta besar untuk mengkhianati negaranya.

Jong-seong sempat percaya kepada Myung-soo, dan tidak memercayai istrinya. Pada akhirnya Jong-seong baru menyadari bahwa Myung-soo melaksanakan semua perbuatannya demi mendapatkan kekuasaan sebagai pejabat di Kedutaan Besar Korut untuk Jerman. Ayah Myung-soo yang merupakan salah satu petinggi militer di Korut menginginkan jabatan sebagai duta besar di Berlin untuk mendapatkan uang senilai 4 milyar Euro dari rekening yang diduga milik mendiang pemimpin Korut, Kim Jong-il. Untuk itulah, Myung-soo datang ke Berlin untuk memfitnah semua perwakilan Korut disana.

Banyak lagi konflik yang sebenarnya terjadi dalam cerita berdurasi dua jam ini. Konflik-konflik tersebut cukup rumit. Penonton dipaksa harus mengikuti semua cerita untuk menyatukan alur dan memahami jalan cerita. Semua saling berkaitan dengan akhir malangnya nasib Jong-seong. Akibat berkelahi dengan Myung-soo, ia harus kehilangan istri yang saat itu juga sedang mengandung. Di akhir cerita ia pun harus bersembunyi ke Vladivostok untuk memulai hidup baru, sebab Korut sudah terlanjur menganggapnya pengkhianat.

Film ini sebenarnya kontroversial dan dianggap sebagai film penuh konspirasi yang dibuat oleh Korsel. Dikhawatiran film ini justru akan memperkeruh hubungan Korut-Korsel. Tapi, film ini justru diterima secara positif oleh rakyat Korsel. Terbukti pada hari pertama rilisnya saja, 30 Januari lalu film ini langsung menduduki urutan teratas Box Office Korsel dan bertahan selama beberapa pekan. Film yang menghabiskan biaya 9,7 juta Dollar AS inipun berhasil meraup keuntungan mencapai 48 juta Dollar AS.

Di tengah perang saudara yang tak kunjung berhenti di kedua negara ini, film-film yang dibuat mengenai keduanya justru mampu menarik perhatian rakyat Korsel dan dunia. Meski kontroversial dan sensitif, justru hal itu menjadi daya tarik tersendiri. Sebelum Berlin File, film The Front Line yang juga mengambil tema kedua negara meraih sukses besar pada 2011 lalu.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).