BOPM Wacana

Tere Liye: Semua Orang Punya Ide Menulis

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Hadissa Primanda

Tere Liye, penulis buku-buku best seller menandatangani bukunya dalam seminar Refleksi Budaya Literasi Menuju Sumatera Berkarya di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Minggu (12/5). | Wenty Tambunan
Tere Liye, penulis buku-buku best seller menandatangani bukunya dalam seminar Refleksi Budaya Literasi Menuju Sumatera Berkarya di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Minggu (12/5). | Wenty Tambunan3BOPM WACANA – Di dunia ini, tidak ada orang yang tidak punya ide untuk menulis. Ada terlalu banyak hal yang ada di pikiran seseorang yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Hal ini disampaikan penulis buku Tere Liye dalam seminar Refleksi Budaya Literasi Menuju Sumatera Berkarya di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Minggu (12/5).

Tere Liye menjelaskan, menulis hal-hal sepele bisa menjadi sesuatu. Menulis harus dilakukan dengan senang hati dan tidak terpaksa. Ia mencontohkan seorang ibu rumah tangga yang awalnya tidak tahu ingin menulis apa, karena tidak punya latar belakang pendidikan yang tinggi, bisa menjadi penulis bermodalkan resep masakan yang dibuatnya setiap hari dan di-posting di blog. Ada juga dokter yang menghabiskan waktu 10 tahun untuk merawat ibu dan suaminya yang sakit hingga tidak bisa membuka praktik, menghasilkan puluhan judul buku mengenai kesehatan. “Intinya seberapa niat mau jadi penulis,” ungkapnya.

Pesatnya perkembangan dunia internet sekarang, seperti dijelaskan Tere Liye menyebabkan budaya menulis telah beralih menjadi sekadar menulis tweet dan status facebook. Padahal jika dikalkulasikan, berdasarkan survey tahun 2011, jumlah kata-kata yang dihasilkan melalui media sosial dan SMS di Indonesia bisa mencapai 50 juta buku.

Ichwan Azhari, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) yang menjadi pembicara lain dalam acara tersebut mengatakan, hal ini menyebabkan tradisi menulis menjadi hilang. “Menulis di media sosial itu adalah tradisi lisan, bukan menulis,” ujarnya.

Lebih lanjut Ichwan menjelaskan, memproduksi terlalu banyak kata seperti di media sosial dan SMS sama sekali tidak optimal. Media internet hanya berfungsi sebagai referensi informasi. “Menulis itu tidak boleh dikejar waktu,” katanya.

Untuk penulis muda yang ingin belajar menulis, Ichwan mengatakan dapat belajar dari penulis karya-karya sastra lama yang pernah ada dalam sejarah, karena karya yang mereka hasilkan memilih kata-kata yang baik untuk digunakan dan tidak sembarangan. Selain itu, tulisan mereka padu dan padat serta punya coretan atau draf tulisan yang banyak.

Menurut Ichwan, tulisan karya sastra lama juga mempunyai struktur tulisan yang kuat, serta selalu melakukan studi yang bagus mengenai objek yang akan ditulis, kemudian memadukannya dengan imajinasi. “Tidak perlu takut atau rendah diri untuk menulis, dan jangan terbawa arus internet,” paparnya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).