BOPM Wacana

Tanda-Tanda Jatuh Cinta dari Segi Biologi

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Gio Ovanny Pratama/Berbagai Sumber

Ketika jatuh cinta, pasti lah anda merasakan berbagai perasaan. Ingin selalu bertemu dengannya, bagaikan orang yang ketagihan candu, jantung yang berdetak kencang saat dekat dengan si ‘dia’ hingga mengakibatkan tak nafsu makan.

Jika dilihat dari segi biologi, perasaan cinta yang dialami oleh tiap manusia tidaklah terjadi sesederhana begitu saja. Ada peran berbagai hormon yang merangsang timbulnya semua perasaan-perasaan di atas.

Sindrom pertama, perasaan ingin selalu berjumpa dengan si ‘dia’ merupakan akibat sekresi hormon dopamine. Hormon ini bekerja selayaknya kokain yang mengakibatkan kecanduan. Dopamine juga disebut sebagai pemberi sensasi kesenangan sebab hormon ini akan disekresikan dan aktif ketika seseorang merasa senang.

Saat jatuh cinta pasti seseorang merasakan senang, ini mengakibatkandopamine aktif dan kadarnya dalam tubuh meningkat. Itu sebabnya orang yang jatuh cinta akan merasakan kesenangan dan memiliki tingkat motivasi yang tinggi.

Selain hormon dopamine, hormon endorpin juga memiliki peran yang sama dalam meningkatkan rasa gembira dan kesenangan. Hormon ini dikatakan bekerja seperti morfin, karena bisa memberikan rasa senang yang berlebihan. Makanya terkadang orang yang jatuh cinta sering salah tingkah karena terlalu bahagia.

Sindrom selanjutnya yang dialami oleh orang yang jatuh cinta adalah, denyut jantung yang semakin kencang dan napas yang terburu-buru (tak beraturan), merupakan pekerjaan dari hormon adrenalin. Fungsi utama hormon ini adalah merangsang denyut jantung dan melebarkan saluran udara sehingga secara otomatis bernafas akan lebih cepat. Secara alami adrenalin disekresikan pada saat tubuh dalam keadaan stress tinggi atau pun saat fisik dalam kondisi yang menyenangkan. Saat orang jatuh cinta produksi adrenalin akan meningkat sehingga denyut jantung makin kencang dan napas terburu-buru.

Efek dari kerja hormon adrenalin adalah menghilangkan nafsu makan karena kerja organ pencernaan jadi melambat, makanya ketika orang jatuh cinta banyak yang tak bernafsu untuk makan.

Sidrom ketiga, seorang yang jatuh cinta akan selalu memikirkan orang yang disukainya. Baik itu perasaan empati atau pun perasaan simpati. Bangun pagi, sarapan sampai tidur lagi selalu saja memikirkan si ‘dia’ merupakan hasil kerja dari hormon oksitosin. Fungsi oksitosin secara umum adalah memberikan rasa percaya diri, mengurangi rasa takut, memengaruhi kemurahan hati dengan meningkatkan empati, perasaan cinta dan koneksi pada orang lain. Nah, itu sebabnya kita selalu memikirkan si ‘dia’.

Selain oksitosin, hormon serotonin juga berperan. Walaupun kerjanya berbanding terbalik namun cukup ampuh membuat Anda takkan memalingkan pandangan ke orang lain. Rendahnya kadar serotonin akan mengakibatkan anda semakin terobesi dengan si ‘dia’. Curi-curi pandang, menyimpan fotonya di dompet sehingga anda selalu memikirkan orang yang anda taksir akibatnya anda jadi insomnia (susah tidur), inilah hasil kerja dari hormon serotonin.

Itulah reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh orang yang jatuh cinta. Ibarat orang bilang “Tak ada chemistry antara pasangan itu” benar adanya. Perasaan cinta antara dua manusia harus melibatkan reaksi kimia yang disebut dengan kecocokan atau chemistry, tanpa itu semua reaksi cinta tak akan membuahkan hasil.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).