BOPM Wacana

Tabulampot Jadi Alternatif Pertanian Kota

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Ferdiansyah

Panitia Seminar Nasional Tabulampot: Si Kecil Berbuah Besar Alternatif Pertanian Kota persiapkan stan bibit dan tanaman yang menggunakan sistem tabulampot di Gema, Sabtu 10 Mei. | Ferdiansyah
Panitia Seminar Nasional Tabulampot: Si Kecil Berbuah Besar Alternatif Pertanian Kota persiapkan stan bibit dan tanaman yang menggunakan sistem tabulampot di Gema, Sabtu 10 Mei. | Ferdiansyah

BOPM WACANA | Sistem tanaman buah dalam pot (tabulampot) bisa jadi solusi untuk pertanian kota saat ini. Sebab, minimnya lahan pertanian seperti halaman rumah yang bisa dimanfaatkan untuk berkebun jadi kendala utama dalam pertanian perkotaan. Hal ini disampaikan Rahman Pinem, Direktur Budidaya dan Pascapanen Buah Kementerian Pertanian RI, pemateri dalam Seminar NasionalTabulampot: Si Kecil Berbuah Besar, Alternatif Pertanian Kota di Gelanggang Mahasiswa USU, Sabtu (10/5).

Dijelaskan Pinem, belakangan memang tabulampot mulai naik gengsi di kota-kota besar menjadi tanaman kegemaran sekaligus pengindah halaman rumah ataupun taman. Sebab sistem ini sangat cocok dan efisien di daerah perkotaan yang padat penduduk. “Tabulampot enggak butuh lahan yang luas kok,” tuturnya.

Syukur F Telaumbanua, mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) 2013 sepakat dengan yang disampaikan Pinem. Menurutnya, mahasiswa USU yang notabene tinggal di Medan bisa menerapkan sistem ini di tempat tinggalnya masing-masing. “Pertama kalau kita tanam itu di kos pasti udara jadi segar. Terus, jadi ada kesibukan lain juga di kos,” ujarnya.

Hal ini juga didukung Parlindungan Purba, anggota DPD RI yang juga jadi pemateri. Ia bilang, ini juga bisa jadi acuan Indonesia untuk membantu mencegah krisis pangan dunia. “Tentu langkah pemerintah ini positif. Melihat acara hari ini, mungkin kami akan panggil Menteri Pertanian ke Senayan nanti,” imbuhnya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).