BOPM Wacana

Si Tua yang Mati Muda

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Malinda Sari Sembiring

Judul: The Curious Case of Benjamin Button

Sutradara: David Fincher

Pemeran: Brad Pitt

Tahun: 2008

Durasi: 166 Menit

Genre: Drama Fantasi

Produksi: Warner Bros

Benjamin Button, seorang laki-laki yang terlahir dalam keadaan tua. Namun, tubuhnya yang semakin muda membuatnya mampu mengukir banyak pengalaman hidup. Inilah kisah tentang seorang manusia yang dianggap kutukan saat terlahir dan mati saat tumbuh menjadi bayi.

Adalah David Fincher, seorang sutradara yang mengangkat cerita pendek karya F Scott Fitzgerald tahun 1921 ke dalam visualisasi layar lebar yang mempertontonkan sebuah cerita drama fantasi tentang seorang yang terlahir tua dan hidup semakin muda di pengujung 2008.

Film yang diproduksi oleh rumah produksi sekelas Warner Bros ini diisi oleh pemain kelas atas seperti Brad Pitt yang mengambil peran utama sebagai Benjamin Button disandingkan dengan cinta sepanjang usianya, Daisy diperankan dengan apik oleh Cate Blanchett.

Pada menit awal, David membuka film ini dengan kisah Daisy tua di masa menjemput ajalnya yang meminta anaknya membacakan buku harian milik Benjamin Button. Buku ini didapatkan Daisy pada masa Benjamin berumur 12 tahun dan merasa bingung dengan dirinya sendiri. Tiap lembar buku harian dibacakan, mulailah David mempertontonkan kisah Benjamin yang diperankan oleh 7 orang dengan 4 wajah diantaranya divisualisasi canggih dengan wajah Brad Pitt yang asli.

Dibuka pada 1918, tahun kelahiran Benjamin yang dianggap kutukan oleh sang ayah, Thomas Button. Kematian ibunya, membuat sang ayah memilih untuk meninggalkan Benjamin di sebuah rumah jompo milik suami-istri Tizzy dan Queenie yang mengasuh Benjamin bak anak sendiri.

Terlahir sangat tua, Benjamin pun mewarisi masalah-masalah orang tua seperti katarak, reumatik, dan tak bisa berjalan pada usia mudanya dengan wajah keriput, Benjamin kerap menggunakan kacamata dan kursi roda. Barulah pada 1925, Benjamin belajar berjalan ketika Queenie membawanya ke sebuah acara keagamaan sekaligus meminta pendeta untuk mendoakan Queenie agar segera memiliki anak.

David mencoba menunjukkan sisi pertumbuhan Benjamin dengan menonjolkan tahun-tahun perubahannya. Seperti pada 1930 di mana Benjamin bertemu dengan Daisy kecil yang pada saat itu masih berusia 6 tahun dan bertemu kembali dengan Thomas Button yang diam-diam tetap memerhatikan Benjamin walaupun masih menyimpan rahasia tentang status dirinya dan Benjamin.

Tumbuh semakin muda membuat Benjamin yang tinggal di panti jompo harus melihat satu per satu jompo di tempat tinggalnya pergi. Tiap kali pula ia diajari oleh jompo yang dititipkan di rumah Queenie berbagai hal seperti membaca dan bermain piano.

David dinilai cukup berhasil menggambarkan kehidupan Benjamin yang penuh petualangan. Berpamitan dengan Queenie, Benjamin bergabung dengan seorang pemilik kapal untuk berlayar. Di tengah pelayaran dia bertemu seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta. Kemana pun ia pergi, Benjamin selalu menyurati Daisy.

Pertemuan Benjamin dan Daisy terjadi kembali ketika keduanya berada pada tubuh berusia 46 tahun. Benjamin mengajak Daisy untuk hidup bersamanya. Namun, hal ini tak berlangsung lama ketika Benjamin bertubuh semakin muda, diam-diam Benjamin meninggalkan Daisy yang akhirnya menikah dengan seorang pria.

Walaupun sempat melakukan berbagai petualangan, film ini masih terasa seperti sebuah biografi kehidupan Benjamin. David sepertinya memang sengaja membuatnya demikian, lantaran ingin menunjukkan keanehan dalam tumbuh kembang Benjamin sang tokoh utama. Efeknya adalah tidak adanya klimaks dalam film ini.

Secara visualisasi David lagi-lagi berhasil mempertontonkan tumbuh kembang seorang manusia yang berbeda namun agak tidak masuk akal. Benjamin terlahir bayi dan mati sebagai bayi pula. Memang, tak pernah diketahui harus seperti apa sebenarnya tumbuh kembang yang berbeda 360 derajat dibandingkan dengan manusia pada umumnya ini.

Bagi penikmat drama, tak salah menjadikan The Curious Case of Benjamin Button sebagai pilihan. Apalagi dengan penggarapan David dalam menunjukkan tumbuh kembang Benjamin dengan visualisasi canggih sehingga tampak nyata bagi penonton. Secara keseluruhan film ini cukup berhasil, ini terlihat dari capaian penghargaannya, antara lain masuk nominasi dalam Piala Oscar ke 81 untuk 13 kategori dengan memenangi 3 diantaranya, yaitu untuk kategori Best Art Direction, Best Make Up, dan Best Visual Effect. Lantas, tak salah ketika film ini memiliki perias yang luar biasa dalam menciptakan Brad Pitt jompo, dewasa, dan remaja dengan alami dan enak dilihat mata.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4