BOPM Wacana

Sejarah Kemanusiaan Paling Kelam di Amerika Serikat

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Fredick B E Ginting

Sumber: Istimewa
Sumber: Istimewa

Judul: Twelve Years a Slave

Sutradara: Steve McQueen

Naskah: John Ridley

Pemain: Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Lupita Nyong’o, Brad Pitt

Tahun: 2013

Durasi: 134 Menit

Setiap manusia berhak untuk hidup, bukan sekadar bertahan hidup. Abraham Lincoln pernah berujar: orang yang menghalangi kebebasan orang lain adalah orang yang tak pantas mendapat kebebasan.

Inilah film bergenre drama pemenang Academy Awards atau yang lebih populerdengan penghargaan Oscar pada tahun ini. Dengan jeli, Steve McQueen memvisualkan kisah hidup salah satu korban perbudakan di Amerika Serikat (AS), Solomon Northup. Solomon Northup, seorang Afro-Amerika, menuliskan kisahnya dalam buku 12 Years A Slave yang terbit pada 1953.

Cerita diawali tahun 1853 dengan Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) seorang tukang kayu yang juga ahli memainkan biola ditawari tampil selama dua pekan di Washington dalam sebuah pertunjukan. Diiming-imingi honor beberapa ratus dolar ia menyetujui dan segera berangkat meninggalkan keluarganya di Saratoga, New York.

Setiba di Washington jalan hidup Solomon berubah. Di sinilah ia mengawali dua belas tahun masa perbudakan sesuai judul buku dan film ini.

Ia sesungguhnya diculik dan kemudian dijual ke New Orleans. Ia dijadikan budak, di mana masa itu adalah masa perbudakan di AS. Namanya diganti menjadi Platt dan dipaksakan mengakui bahwa ia adalah Negro pelarian dari negara bagian Georgia. Dan pada masa itu hukum membenarkan seorang kulit putih berhak atas ras kulit hitam untuk dijadikan budak.

William Ford (Benedict Cumberbatch) adalah seorang pemilik perkebunan yang pertama kali membeli Solomon. Solomon berhasil mengesankan Ford setelah menciptakan rakit kayu yang bisa digunakan sebagai alat transportasi mengangkut hasil kebunnya.

Namun, seorang mandor anak buah Ford iri padanya sehingga berniat menghabisi nyawa Solomon. Ia menganggap Solomon tak lebih dari seorang budak dan tak pantas dipuji. Akhirnya, Ford menjual kembali Solomon kepada Edwin Epps (Michael Fassbender).

Epps benar-benar tak bernurani dan berperikemanusiaan. Ia memperlakukan beberapa Negro di ladang kapas miliknya laiknya hewan. Setiap hari semua budaknya yang tak mampu memetik kapas seberat 200 pon dicambuk hingga ratusan kali.

McQueen menunjukkan dengan jelas dan frontal bagaimana luka dan rasa sakit yang dirasakan setiap Negro ketika dicambuk. Bagaimana perlakuan orang kulit putih yang semena-mena terhadap kulit hitam. Adegan tersebut didukung dengan situasi yang terkesan ‘dingin’ dan mencekam. Misal pada adegan saat Solomon bersama negro-negro lainnya tengah menunggu perintah dari mandor Ford.

McQueen seolah-olah membawa penonton merasakan bagaimana sakitnya tragedi kemanusiaan ini. Dan mengajak penonton untuk tidak melupakan sejarah kelam yang menimpa sekitar 21 juta manusia ini. Tidak melupakannya dan tidak mengulanginya kapan pun.

McQueen mengatakan saat memperkenalkan film ini bahwa setiap orang berhak hidup, bukan sekedar bertahan hidup. Ini menjadi ruh sekaligus pesan yang ia tampilkan dalam film ini. Ini juga mengingatkan kembali ungkapan mantan presiden AS yang dikenal anti terhadap perbudakan, Abraham Lincoln. Bahwa orang yang menghalangi kebebasan orang lain adalah orang yang tak pantas mendapat kebebasan itu.

Solomon akhirnya menemukan seorang kulit putih asal Kanada yang menentang perbudakan, Samuel Bass (Brad Pitt). Melalui Bass, Solomon meminta dituliskan surat dan dikirim kepada Parker (Rob Steinberg). Surat itu menjelaskan keadaannya bahwa ia seorang Negro yang merdeka telah direnggut kemerdekaannya.

Tak lama berselang, Parker bersama seorang Sheriff mengecek kebenaran surat Solomon. Akhirnya ia dibebaskan dan dibawa pulang kepada keluarganya.

Aktris Lupita Nyong’o yang berperan sebagai Patsey juga tampil apik dan berhasil memainkan peran pembantu. Perlakuan rasis yang dialami sekitar 21 juta orang masa itu terwakilkan oleh penyiksaan-penyiksaan yang dialaminya. Ekspresi, mimik wajah, dan ucapan-ucapannya menggambarkan ketakutan dan keputusasaan. “Aku tak punya semangat menjalani hidup ini,” ujarnya ketika memohon agar Solomon menghabisi hidupnya.

Satu-satunya kekurangan yang tampak dalam film ini adalah kisah di akhir yang gantung. Tak dijelaskan lebih lanjut bagaimana nasib-nasib korban perbudakan yang lain dibawah kekuasaan Epps. Hal itu disebabkan film ini merupakan adaptasi dari buku Solomon. Tapi 134 menit tayangan film ini telah cukup menggambarkan bagaimana realitas yang terjadi pada masa sejarah terkelam pelanggaran hak-hak kemanusiaan dan rasialisme di AS bahkan dunia.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).