BOPM Wacana

Saatnya Komik Lokal (Inter)nasional

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Alfat Putra Ibrahim

Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim
Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim

Komik karya anak negeri pernah jadi primadona di pasar nasional. Sekarang waktunya untuk menuju internasional. Siapkan kemampuan, dukungan, dan promosi.

foto alfatAkhir-akhir ini dunia perfilman Indonesia sedang riuh dengan pegelaran film yang diadaptasi dari komik asal Amerika Serikat. Rata-rata film yang diadaptasi diangkat dari cerita super hero dari komiknya seperti beberapa perusahaan komik raksasa Amerika seperti DC comics, MARVEL comics, Image comics, dan Dark Horse comics. Adapun kisah yang diangkat seperti; Hellboy, Dead Pool, hingga yang paling baru dan cukup fenomenal Suicide Squad yang merupakan film adaptasi dari DC comics yang telah rilis beberapa bulan yang lalu dan tayang di bioskop seluruh dunia secara terus menerus.

Berdasarkan data dari Box Office Mojo, saat ini film Suicide Squad telah meraih pendapatan sebesar 718,8 juta dolar AS pada global Box Office. Angka fantastis tersebut telah menggeser jumlah pendapatan film sejenis dan menjadikan Suicide Squad salah satu film terlaris saat ini.

Sebelum merambah keindustri film layar lebar, pada mulanya perusahaan komik kenamaan tersebut memulai debutnya dari komik yang hampir seluruhnya mengangkat genre super hero yang saat ini sedang berjaya di pasar internasional. Pemasaran komiknya pun sangat eksklusif dan hanya bisa diakses melaui situs daring tertentu serta hanya ada di tempat penjualan resmi milik komik Amerika sendiri. Harga yang ditawarkan cukup besar bila dibandingkan dengan komik lainnya yaitu berkisar pada 7 hingga 15 dolar AS per eksemplarnya. Bisa dibilang komik keluaran Amerika tersebut dipasarkan untuk para pecinta komik dengan status ekonomi menengah ke atas.

Berikutnya ada komik Manga atau dalam bentuk serial film disebut Anime. Hari ini, komik keluaran negeri sakura tersebut juga sedang merajai industri komik dunia, khususnya Indonesia. Komik yang digandrungi oleh pelbagai lapis usia mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.

Bila berkunjung ke toko buku yang ada, biasanya di rak buku bagian komik didominasi oleh komik Manga dengan beragam genre dan tingkatan usia pembaca. Hal ini menandakan besarnya antusiasme pengunjung toko buku akan produk komik keluaran Jepang tersebut di dalam negeri. Dengan harga yang cukup kompetitif yaitu berkisar antara 20 hinga 30 ribu rupiah, membuat penggemar setia komik siap menggelontorkan sejumlah uangnya untuk mengoleksi komik-komik Manga dalam bentuk fisik.

Kini kita menilik perkembangan komik lokal, umpamanya komik Indonesia saat ini tak cukup terang juga tak terlalu redup cahayanya. Karya seni negeri sendiri ini memang sudah cukup dilirik oleh para penggemar komik di dalam negeri. Namun, industri komik Indonesia tak cukup sebanding dengan raksasa lain dari industri kreatif ini. Banyak yang mencemaskan akan masa depan dari komik karya seniman lokal saat ini. Pasalnya, dominasi produk komik seperti Amerika dan Jepang yang punya begitu banyak penggemar di dalam negeri tidak memberi celah untuk komik Indonesia bersaing dengan mudahnya.

Pada masa keemasan komik Indonesia terkenal dengan ikon komik seperti; Gundala, Sri Asih, dan Sibuta Dari Gua Hantu yang pernah jaya di blantika komik Indonesia. Tepatnya pada era 70 hingga 80an, komik lokal agaknya lebih mendominasi industri komik di negerinya sendiri. Saat itu masyarakat pecinta komik sangat antusias dalam menyongsong dinamika komik lokal. Tak hanya di Indonesia, komik lokal juga sempat merambah pasar komik baik di kawasan asia dan eropa.

Dengan pesatnya industri komik lokal di mancanegara kala itu, tak terlepas dari peran serta andil komikus bangsa yang berkonribusi dalam memperkenalkan komik nasional. Diantara komikus legendaris Indonesia tersebutlah Raden Ahmad Kosasih yang pada 4 April lalu diperingati sebagai hari Kosasih atau hari kelahiran R.A. Kosasih. Beliau adalah seorang komikus asli Indonesia yang diberi gelar bapak komik nasional.

Karya-karya Kosasih sangat mencerminkan identitas komik Indonesia sesungguhnya. Dengan beragam gendre komik seperti; superhero, pewayangan, folklor, fiksi ilmiah, dan petualangan, beliau berhasil membawa komik Indonesia menjadi sebuah ciri khas lokal yang mengundang penikmat komik dan membuatnya berbeda dari komik-komik asing. Salah satu karya Kosasih yang populer adalah Mahabharata, merupakan tokoh pewayangan yang divisualisasi secara baik oleh sang maestro dan mendapat banyak penggemar.

Kontribusi R.A. Kosasih bagi komik lokal dinilai sangat besar. Ia menjadi pelopor sekaligus teladan bagi generasi muda untuk memajukan dunia komik Indonesia. Dewasa ini, sesungguhnya tak sulit untuk menjumpai Kosasih muda yang siap untuk membangkitkan kembali kejayaan komik Indonesia.

Dalam beberapa terbitan komik selalu ada nama seniman terbaik dengan karya yang luar biasa pula. Bila diindustri komik AS saat ini nama besar seperti Todd McFarlane dan Jim lee. begitupula komik Jepang, Manga ada nama seperti Masashi Kishimoto. Mereka adalah segelintir komikus yang sukses saat ini dengan karya-karya mereka.

Perjalanan komik Indonesia hari ini, mengalami dinamika yang dianggap baik. Banyak inovasi yang sudah dilakukan baik dari segi seni menggambar, penjabaran cerita serta pengemasan yang juga menganut gaya Amerika dan Jepang. Bercerita tentang komikus Indonesia saat ini mungkin sedikit agak asing didengar. Ada Apriyadi Kusbiantoro dan Iwan Nazif komikus indonesia yang memiliki jenis dan gaya komik yang tak kalah dari AS.

Keduanya sudah banyak menerbitkan komik dalam negeri dengan beragam genre aksi dan superhero. Apriyadi telah memulai membuat komik Indonesia dengan Mahabarata yang direncanakan berjumlah 20 edisi, juga komik khas Indonesia lainnya seperti Ajisaka dan Si Buta Dari Gua Hantu. Sementara Iwan pada genre manusia super seperti Gundala, Godam, Sri Asih, dan lainnya.

Sementara itu beberapa komikus Indonesia juga mendapatkan kesempatan berkarir di industri komik Amerika MARVEL dan DC comics seperti Ardian Syaf dan Ario Anindito. Bukan hal yang salah komikus lokal memilih berkarya di pasar komik luar, mengingat industri komik sekelas MARVEL dan DC jauh lebih bergengsi dibandingka komik dalam negeri. Namun, alangkah baiknya bila anak bangsa lebih memilih untuk berkarya di dalam negeri dan memajukan produk komik lokal.

Komik lokal terus berinovasi, komikus muda Indonesia kini memilih medium alternatif dalam berkomik. Komik singkat atau disebut komik strip menjadi salah satu pilihan alternatif industri komik yang dikembangkan saat ini. Melalui media sosial, para komikus muda coba memperkenalkan produk komik mereka yang berkesan ringan dan membumi.

Ada ratusan judul komik strip dengan genre dan bentuk cerita yang berbeda-beda. Inovasi komik digital ini cukup menuai respon yang besar dari para penggemarnya di dalam negeri. Sebut saja komik berjudul Tahilalats yang dibuat oleh Nurfadli Mursyid telah mendulang sukses dengan jutaan pengikut di sosial media dan menjadi komik resmi disitus komik strip populer Webtoon. Akant etapi tetap saja industri komik raksasa milik Amerika dan Jepang tetap menjadi primadona di negeri ini.

Sesungguhnya komik Indonesia punya kesempatan yang besar untuk kembali harum. Melihat inovasi serta kemampuan komikus Indonesia yang tak kalah dengan komikus luar, Indonesia punya peluang yang sangat besar. Kuncinya adalah kerja keras serta menggali potensi lokal yang bisa membuat komik Indonesia berbeda dengan komik keluaran luar negeri. Karya R.A. Kosasih agaknya bisa menjadi contoh bagi komikus muda yang ingin serius mengembalikan masa kejayaan komik nasional. Melalui rangkaian cerita klasik yang kaya akan kearifan lokal, komik Indonesia akan berbeda dengan komik luar.

Selain itu harus ada andil serius dari para penggerak industri kreatif dan pihak eksekutif dalam menciptakan dukungan maupun dorongan secara moril ataupun finansial, dan promosi yang baik agar masyarakat dalam dan luar negeri bisa lebih mengenal karya anak bangsa dari sebelumnya.

Masyarakat juga harus membangun kesadarannya pada kreatifitas lokal dengan coba membaca dan menggali komik-komik lokal agar bisa jauh lebih berkembang. Dampak yang dirasakan tak hanya sebatas keberhasilan mengembangkan produk dalam negeri saja, tetapi juga akan memajukan industri kreatif khususnya agar Indonesia yang sebenarnya telah cukup lama tertinggal bisa sedikit mengejar ketertinggalan tersebut.

Maka, dengan menempah potensi dalam hal menciptakan karya seni yang indah dan menarik. Serta membangun dukungan dan promosi secara besar-besaran, secara terus menerus akan membawa komik Indonesia kembali kepada masa kejayannya dan bahkan lebih dari itu. Komik lokal akan melampaui pasar internasional setara komik Amerika dan Jepang.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Sosiologi 2014. Saat ini aktif sebagai Redaktur Artistik di Pers Mahasiswa SUARA USU.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).