BOPM Wacana

Romansa Berlebih di Atas Kapal Van Der Wijck

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Rati Handayani

Sumber: Istimewa
Sumber: Istimewa

Judul: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Sutradara: Sunil Soraya

Pemain: Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahardian, dan Rhandy ‘Nidji’

Rilis: 2013

Durasi: 165 menit

Boleh acungkan jempol untuk penggambaran film ini. Namun sayang tak seperti novel adaptasinya, kisah cinta lebih dominan dibanding latar belakang adat dan masalah sosial Ranah Minang kala itu. Pun, seni peran para pemerannya timpang.

Sunil Soraya menambah panjang filmnya yang diangkat hasil adaptasi novel, selain 5 cm (2013). Kali ini, dengan judul novel yang sama yakni mahakarya budayawan sekaligus sastrawan Hamka. Maka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck hadir menutup 2013.

Hasilnya, Hamka dan Sunil hampir bisa disamakan walau keunggulan tetap milik Hamka. Bagaimanapun film adaptasi harus sukses mengadaptasi novelnya agar tak kelihatan celah. Untuk itu, Sunil belum bisa dibilang sukses besar.

Hamka mengisahkan cerita kasih tak sampai yang dihubungkan dengan adat Minang yang kental dan kondisi sosial kala itu. Istilahnya, dia menggungat kondisi waktu itu dengan sastra. Namun, inilah yang dirasa kurang dibangun film ini sampai akhir.

Dengan alur sama, Sunil memulai filmnya. Pada 1930, Zainuddin (Herjunot Ali), pemuda yatim piatu tak bersuku, memutuskan ke Batipuh untuk bersekolah. Di Batipuh ia bertemu Hayati (Pevita Pearce), gadis Minang keturunan bangsawan. Keduanya jatuh cinta. Lantaran Zainuddin tak bersuku, hubungan itu ditentang keluarga Hayati yang beradat. Zainuddin diusir. Ia pun pindah ke Padang Panjang.

Di awal film akan dibuat bertanya-tanya, kenapa Zainuddin di Makassar? Karena apa orang tuanya tiada? Atau kenapa Zainuddin kala di Batipuh tak dianggap orang Minang? Sebenarnya Hamka gambarkan ini di novelnya walau bukan fokus utama.

Sepele memang penggambaran yang demikian, namun hal kecil pun akan membangun film ini secara tak sengaja. Akibatnya, masalah adat Minang kala itu makin tak kental digambarkan film ini.

Saat pengusiran Zainuddin, konflik awal dimulai. Namun terasa memaksa pengemasannya. Lagi, tak tampak pertentangan nilai sosial dan adat yang kental. Misal, pikiran penonton tak dibangun dengan pandangan masyarakat Minang akan hubungan dua orang ini.

Tiba-tiba, setelah Zainuddin dan Hayati dilihat mamak—bahasa Minangnya paman— Hayati tengah berduaan, Hayati dimarahi, lalu Zainuddin diusir. Semua terasa begitu cepat berjalan tanpa diceritakan bagaimana gunjingan-gunjingan atau pembahasan mayarakat tentang mereka.

Di Padang Panjang, Zainuddin tinggal di rumah Muluk (Rhandy ‘Nidji’). Di sinilah ia menetap sampai akhirnya memutuskan ke Batavia—sekarang Jakarta—untuk memulai hidup setelah ia tahu Hayati telah dinikahi Aziz (Reza Rahardian). Pernikahan ini pun tak luput dari campur tangan keluarga Hayati. Aziz, pemuda Minang yang hidup secara Belanda dari keluarga terpandang.

Di pernikahan Aziz dan Hayati, ditampilkan upacara adat pesta pernikahan di Minang. Ini patut diapresiasi walau lumayan menyita durasi. Bisa dibilang usaha menampilkan latar belakang adatnya dengan pengambilan gambar langsung di Agam, Sumatera Barat.

Lanjut ke Batavia, Zainuddin sukses jadi penulis. Kemudian ia pindah ke Surabaya dan memimpin suatu penerbitan di sana. Tapi sebaliknya dengan Aziz. Ia jatuh melarat karena kena pecat. Jadilah ia dan Hayati bergantung pada Zainuddin.

Hayati yang sebelumnya pernah memadu cinta dengan Zainuddin ternyata masih punya perasaan yang sama. Tapi ternyata berpihak sebelah tangan. Zainuddin malah suruh Hayati pulang ke kampung halamannya. Hayati menurut, jadi ia pulang naik kapal belanda bernama Van Der Wijck.

Namun, jangan Anda harap adegan kapal tenggelam yang detail pada bagian itu. Dengan penilaian lumayan, rumah produksi film ini sebenarnya telah membayar mahal untuk mendatangkan replika kapal Van Der Wijck dari produsen aslinya di Belanda. Berusaha total, itulah positifnya.

Namun sayang, adegan tenggelamnya tersebut terkesan biasa saja. Di sini lebih banyak diperlihatkan bagaimana Hayati dan ingatannya akan Zainuddin. Adegan tenggelam, hanya beberapa menit saja. Lalu berlalu. Sayang jika diingat kalau ini adalah film termahal rumah produksi ini.

Memperhatikan Pevita pun, sungguh tak membuat tersentuh. Entah gaya aktingnya yang memang demikian datarnya atau memang tuntutan berakting sebagai Hayati. Hayati seyogyanya digambarkan sebagai gadis baik-baik. Hampir di keseluruhan film ia demikian.

Misal saat ia menangis saat diberitahu mamak-nya bahwa Zainuddin telah diusir, atau aktingnya saat ia menangis pada Zainuddin kala ia mengaku masih mencintainya. Bisa dibilang, mimik wajahnya tak berbicara.

Reza Rahardian justru paling sukses dalam perannya. Memerankan Aziz yang hidup secara Belanda, tampaknya bukan masalah besar buatnya. Juga perannya sebagai suami yang harus dituruti perintahnya, ia sukses membuat jengkel. Seluruh anggota tubuhnya seolah bicara. Mulai dari perannya dengan dengan orang asing, menjadi suami yang pemarah bahkan berhenti jadi antagonis di akhir.

Namun sayang dengan Herjunot Ali. Penonton malah tertawa saat beberapa adegan yang harusnya memecah tangis. Entah karena logat, atau aktingnya yang belum maksimal. Misal saat ia menangisi kematian Hayati. Sempat ia berkata-kata, namun penonton malah tertawa.

Pun Hayati yang digambarkan terlalu kekinian dari pakaiannya pun jauh dari gambaran gadis Minang kala itu. Ditambah lagi foto sampul film ini, juga ditampilkan gambarkan yang demikian. Memakai gaun lengan pendek.

Keseluruhan, predikat mahal layak dipegang fillm ini. Ini tergambar dari mobil antik yang lalu lalang sepanjang film. Juga karena kostum yang memang dirancang khusus untuk membangun mode pakaian zaman cerita. Sunil Soraya total untuk film ini.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).