BOPM Wacana

Pilu di Balik PLTU Pangkalan Susu

Dark Mode | Moda Gelap
Bercak Luka pada Lengan Yani dan Anaknya Akibat Gatal-gatal di Dusun Panton, Pangkalan Susu, Sabtu (24/12). | Reza Anggi Riziqo.

Oleh: Reza Anggi Riziqo

Batu bara yang sangat digandrungi sebagai sumber energi listrik, jadi ihwal dari berbagai permasalahan sosial-ekonomi bagi masyarakat di sekitar PLTU. Petaka ini juga dirasakan oleh warga tempatan sekitar PLTU Pangkalan Susu.

Pangkalan Susu merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Untuk sampai ke sana, kiranya dibutuhkan waktu tempuh 4 jam ke arah utara dari Kota Medan.

Kepulan debu dan polusi kendaraan khas Lintas Timur Sumatera akan mengiringi perjalanan menuju kecamatan ini. Tidak sampai di situ, kepulan polusi yang lebih besar akan menyambut di Pangkalan Susu kepada siapa pun yang tiba di sana.

Polusi udara yang menyerbak di langit Pangkalan Susu ini berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berdiri di wilayah tersebut, tepatnya di Desa Tanjung Pasir.

Proyek pembangunan PLTU Pangkalan Susu untuk unit terbaru yaitu unit 3 dan 4 berkapasitas 2 x 200 megawatt telah rampung pada 2019 silam dan resmi beroperasi penuh setelahnya.

Dengungan turbin yang beroperasi ingar terdengar di desa-desa sekitar pembangkit listrik. Tak kenal penat, PLTU Pangkalan Susu terus menerus membakar batu bara 24 jam non-stop, begitu pun cerobong-cerobongnya yang terus mengeluarkan asap tanpa henti.

Gumpalan asap hasil pembakaran dan gemuruh turbin saling berlomba untuk mengganggu ketenangan dan mengusik segala aspek kehidupan masyarakat.

Pembakaran batu bara seperti yang terjadi di Pangkalan Susu akan menghasilkan limbah fly ash dan bottom ash (FABA).

Fly ash merupakan limbah yang lepas ke udara melalui cerobong dan akan tersebar ke wilayah sekitar. Sementara limbah sisa pembakaran yang menumpuk dan tidak terlepas disebut dengan bottom ash.

Dilansir dari laman walhi.or.id , limbah FABA mengandung berbagai bahan beracun seperti arsenik, boron, kadmium, hexavalent kromium, timbal, dan bahan berbahaya lainnya. Limbah tersebut akan berdampak buruk bagi lingkungan dan manusia.

“Siswa saya baru pulang dari rumah sakit karena sesak, sekarang dia enggak bisa ngapa-ngapain,” ujar Nurhayati, salah seorang guru yang mengajar di desa Sungai Siur.

Diduga fly ash menjadi biang keladi di balik sakit yang diderita siswanya tersebut.

Siswa sekolah menengah atas yang diajarnya tersebut berasal dari Pulau Sembilan, suatu pulau kecil yang jaraknya hanya berkisar 1 KM dari tempat PLTU tersebut berkukuh.

Perekonomian warga menyusut

Sehari-harinya Nurhayati mengajar matematika di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darussa’adah Sungai Siur. Selain mengabdi di dunia pendidikan, Nurhayati juga pernah bertani padi. Lahan pertanian seluas 12 rante pernah ia garap, sebelum akhirnya ia berhenti bertani sejak tahun lalu.

“Gaji jadi guru cuma Rp30 ribu sehari,” ujarnya.

Kecilnya upah guru menghantarkan Nurhayati untuk mencari pekerjaan lain, termasuk menjadi petani.

Pada panen terakhirnya di tahun 2021, ia hanya dapat mencicipi sekali masa panen. Padahal ditahun-tahun sebelumnya Nurhayati bisa merasakan dua kali momen panen dalam setahun. Kondisi iklim yang berubah serta curah hujan yang tak menentu diyakini Nurhayati menjadi penyebabnya.

Selain itu, ada fenomena misterius yang semakin mendorong Nurhayati untuk menanggalkan cangkulnya. Saat padi miliknya terembus angin, sontak padi tersebut akan tumbang terjatuh.

Persawahan yang Letaknya Tidak Jauh dari PLTU di Desa Pintu Air, Pangkalan Susu, Jumat (23/11). | Reza Anggi Riziqo.

“Kenapa cuma di Pangkalan Susu saja yang kena?” kata Nurhayati yang merasa heran.

Selama dua tahun belakangan ini padi kerap tumbang akibat kondisi tanah di sekitar PLTU berubah. Namun fenomena serupa tidak terjadi di wilayah kecamatan lainnya di Langkat.

Hasil panen pun kian tahunnya semakin menurun. Nurhayati menghitung perbandingan hasil panen yang dia dapatkan pada tahun 2021 dengan hasil panen di tahun-tahun sebelumnya.

“Anggap saja dulu masing-masing rante itu 300 kg, sudah 3,6 Ton. Coba sekarang 250 kg dikalikan 12 rante, berapa itu turunnya?” tanya Nurhayati.

Itu belum termasuk hutang berbunga yang harus dibayar oleh Nurhayati kepada Tauke penyedia bibit dan pestisida yang semakin menyusutkan penghasilan bertaninya. Hingga akhirnya ia pun semakin mantap untuk melepas caping, dan memilih berjualan makanan sebagai sumber pendapatan tambahannya saat ini.

Polusi partikel PM 2.5 yang dihembuskan PLTU akan menciptakan fenomena hujan asam. Riset mengenai dampak polusi PLTU yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia (2015) menunjukkan bahwa fenomena hujan asam akan memberi dampak buruk pada tanaman dan kondisi tanah. Hasil riset tersebut selaras dengan peristiwa yang dirasakan oleh Nurhayati beserta para petani lainnya di sekitar kawasan PLTU Pangkalan Susu yang mengalami masalah pada padi dan tanah pertanian mereka.

Hujan asam tidak hanya mencemari lahan pertanian saja, tetapi juga tambak udang air tawar milik warga. Kadar keasaman air tambak kini mulai tidak karuan. Hasil pun menurun drastis dan para petambak dipaksa menelan kerugian akibat fenomena ini.

Layaknya Nurhayati yang sudah setahun tidak bertani, langkah yang sama diambil oleh Hasan, seorang petambak udang dari Desa Lubuk Kertang.

Rumit dan mahalnya ongkos perawatan serta hasil yang tidak maksimal, memaksa keluarga Hasan meninggalkan pekerjaan menambak udang.

Sekarang Hasan pilih fokus bertani, walau ia sadar baik bertani mau pun menambak udang sama-sama berisiko saat ini. Tetapi, setidaknya risiko bertani tidak separah risiko yang harus ditanggungnya dalam usaha tambak.

Padahal, di tahun-tahun sebelumnya ia sempat merasakan keuntungan hingga dua kali lipat dari usaha tambaknya ini.

“Dulu kalau kita tebar bibit 40 ribu ekor modal semuanya Rp10 juta, panen nanti bisa dapat 20 juta. Sekarang buat balik modal saja sulit,” jelasnya.

“Kalau dirasa sudah memungkinkan, mungkin ke depannya bakal nyoba nambak lagi,” kata Hasan, yang masih menyimpan harap pada tambak-tambaknya.

Tidak hanya perekonomian di darat, para nelayan yang mengais penghasilan di perairan Pangkalan Susu juga terkena dampaknya.

Yah seperti contoh kalau hujan tuh, kan kenak batu bara di tangkahan terus kan air yang kena hujan langsung ke laut,” ujar Munawar, Ketua Gabungan Kelompok Nelayan (Gabokan) Pulau Sembilan.

Selain itu, ada “air bahang” yang memperparah keadaan. Air bahang merupakan air panas bersuhu tinggi yang dibuang PLTU langsung ke perairan Pangkalan Susu. Suhu tinggi tersebut dapat menyulitkan biota laut di sana untuk hidup.

Perampasan hak hidup biota laut di wilayah tangkapan nelayan memaksa para nelayan untuk berlayar lebih jauh ke tengah laut untuk mencari ikan yang tentunya akan menelan biaya lebih dalam melaut.

Meruapnya penyakit hingga kasus kematian

Dari Dusun Panton, Desa Sungai Siur Yani menunjukkan bercak luka di lengannya. Sejak pertengahan tahun ini, Yani dan ketiga anaknya mengalami gatal-gatal hebat.

“Kalau berkeringat, nambah parah lukanya,” ujar Yani.

Nizam, Putra Kedua Yani yang Menunjukkan Bercak Luka Lengannya di Pangkalan Susu, Sabtu (24/12). | Reza Anggi Riziqo.

Yani pun mengeluhkan biaya tambahan yang harus ia keluarkan tiap minggunya untuk membeli obat-obatan.

“Seminggu itu bisa habis Rp50 ribu untuk obat,” kata Yani.

Keluarga Yani dipaksa kecanduan obat. Obat-obatan tersebut pun dirasanya membawa efek samping berupa naiknya nafsu makan. Hal ini dikhawatirkannya akan menyebabkan obesitas pada anak-anaknya.

Namun, jika ia dan anak-anaknya berhenti meminum obat, maka efek yang lebih parah akan terjadi.

“Ini saja sudah tiga hari enggak minum obat dia, gak bisa tidur karena gatal-gatal,” jelas Yani, mengatakan jika anaknya tidak dapat tidur dengan pulas ketika berhenti meminum obat.

Kandungan PM 2.5 merupakan partikel mikro dari limbah FABA yang dapat menembus pori-pori kulit. Rembesan PM 2.5 dari hujan asam dapat diserap oleh air yang digunakan oleh masyarakat sekitar PLTU. Hal ini diduga menjadi pemicu gatal-gatal dan infeksi kulit pada warga Pangkalan Susu.

Yayasan Srikandi Lestari (YSL) mendata jumlah kasus penyakit yang diduga akibat limbah FABA pada masyarakat Pangkalan Susu. Lembaga pemerhati lingkungan ini juga membentuk kelompok-kelompok pemberdayaan perempuan dan nelayan di sekitar PLTU.

“Kami melakukan pendataan di wilayah anggota kelompok kami,” ujar Sumiati Surbakti, Direktur Eksekutif YSL.

Berdasarkan catatan YSL setidaknya sudah ada 333 orang dewasa tercatat mengalami berbagai jenis penyakit yang diindikasi berasal dari paparan limbah FABA. Dengan rincian: gatal-gatal 243 kasus; sesak napas dan ispa 42 kasus; hipertensi 39 kasus; paru hitam 4 kasus; serta tiroid 4 kasus.

Untuk kasus anak-anak, setidaknya ada 60 orang anak dari 5 desa yang mengalami gatal-gatal akut. Beberapa di antaranya mengalami kulit berdarah serta bernanah.

Sumiati yang kerap disapa Mimi menambahkan jika limbah FABA di Pangkalan Susu diindikasi menjadi penyebab kematian beberapa warga pengidap paru hitam di sana.

“Catatan terbaru sudah ada 9 orang meninggal dunia,” kata Mimi.

Mengobral limbah

Selain fly ash dan panasnya air bahang yang secara laten dihadiahkan perusahaan kepada masyarakat, dengan terang-terangan perusahaan pun mengobral tumpukan bottom ash. Masyarakat dipersilahkan mengambil tumpukan bottom ash tersebut secara cuma-cuma.

Tumpukan Bottom Ash yang Telah Dicampur Tanah di Jalanan Depan Rumah Warga, Pangkalan Susu, Sabtu (24/12). | Reza Anggi Riziqo.

FABA awalnya masuk dalam kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Namun dengan adanya PP No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kini limbah FABA bukan lagi termasuk limbah B3. Peraturan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Cipta Kerja yang sempat menghebohkan masyarakat 2020 silam.

Penurunan status kategori limbah dapat menjadi celah bagi perusahaan PLTU untuk bertindak tidak kooperatif. Perusahaan dapat membuang limbahnya dengan sembrono seperti yang terjadi di Pangkalan Susu.

“Setelah dikeluarkannya FABA dari limbah B3, dampaknya semakin menjadi-jadi,” ujar Mimi.

Direktur Jendral Pengelolaan Sampah Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Vivien Ratnawati, menyebutkan walau pun sudah tidak lagi masuk ke dalam kategori limbah B3, pengelolaan FABA harus tetap mematuhi prosedur.

“Jadi enggak boleh dibuang sembarangan, karena memang nantinya bagaimana masyarakat lingkungan yang harus mengolah ada dalam persetujuan dokumen lingkungannya,” ucap Vivien, dilansir dari kompas.com.

Tindakan tidak kooperatif terkait PLTU Pangkalan Susu pun dikisahkan Mimi pernah dialami dirinya. Peristiwa terjadi ketika YSL minta draf Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PLTU Pangkalan Susu kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara.

Mimi mengatakan, dari AMDAL yang diberikan, ada halaman kosong yang seharusnya di situ menjelaskan pengelolaan limbah di PLTU Pangkalan Susu. “Halaman 30 sampai 35, poin pengelolaan limbah FABA itu tidak ada, kosong!”

Melihat dampak yang lingkungan dan sosial yang kian memburuk di Pangkalan Susu. Mimi pun menjelaskan bahwa YSL akan segera menyusun draf gugatan kepada PLTU Pangkalan Susu yang nantinya akan dibantu berbagai organisasi sipil lainnya.

“Januari nanti kami sudah harus mengejar proses pembuatan draf gugatannya,” pungkas Mimi.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4