BOPM Wacana

Pesan Cinta dari Cikeusik

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Debora Blandina Sinambela

Judul: Romi dan Yuli dari Cikeusik

Sutradara: Hanung Bramantiyo

Naskah: Denny J A

Tahun:2012

Pemeran: Zaskia Adya Mecca dan Ben Kasyafani

Durasi: 43 Menit

Mengapa aku tak bisa memiliki keduanya? Ah, yang seorang umat Ahmadiyah, seorang lagi muslim garis keras.

Yuli tersungkur di atas sajadahnya. Sejak dini hari ia lantunkan doa-doa sambil menggerakkan butiran tasbih. Air matanya terus mengalir seolah melepaskan gundah di hatinya. Sesekali terbayang di benaknya wajah dua orang yang ia kasihi. Romi calon suaminya, dan Ayahnya sosok yang menyayanginya sejak kecil. “Ya, Tuhan gerakkan hatiku. Berikan aku isyarat menuju cahaya. Kebimbangan ini menyiksaku,”  lirinya dalam hati.

Rokhmat atau  biasa di panggil Romi. Ia lahir dan besar di sebuah pekampungan Jemaat Ahmadiyah. Ayahnya dikenal sebagai pengurus Ahmadiyah. Paham-paham tentang Ahmadiyah sudah ditanamkan kepada Romi sejak kecil. Tentu, Romi seorang Ahmadiyah.

Meski demikian Romi berbeda dengan lingkungannya. Romi sosok yang tidak fanatik. Ia suka belajar filsafat dan pengetahuan barat. Romi punya gagasan bahwa semua agama  warisan dunia mengajarkan yang baik. Setiap orang bebas menganutnya. Saat Romi membawa gagasan ini di lingkungannya, ia malah dianggap sesat.

Hingga suatu hari Romi bertemu dengan Juleha atau akrab disapa Yuli. Yuli tengah melafalkan puisi Khailil Gibran dalam pagelaran seni di taman kampus. Namun Yuli terlupa sajak puisi di bagian akhir. Yuli coba mengingat sajak terakhir dengan mengulang, ia tetap lupa. Romi, saat itu duduk dibagian belakang tiba-tiba menyambung puisi yang terputus.

Dan bilamana sayapnya mendekapmu, pasrah dan menyerahlah, walau pedang yang bersembunyi di sayap itu menghunusmu…,” sambung Romi.

Pertemuan inilah awal dimana cinta mulai tumbuh diantara mereka. Sejak pertemuan di kampus, mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Hingga suatu hari mereka berniat untuk menikah. Lamaran telah dilakukan, undangan pun sudah disiapkan.

Sementara keluarga Yuli dalam film berdurasi kurang lebih 43 menit ini adalah muslim garis keras. Ayah Yuli ketuanya. Baik Yuli dan keluarganya tak pernah tahu tentang keluarga Romi yang Ahmadiyah.

Romi tak pernah singgung masalah perbedaan paham agama mereka. Bagi Romi,  perbedaan paham agama tak perlu menjadi sengketa. Peristiwa 6 Februari 2011 peneyerangan jemaah Ahmadiyah, membuat semua berubah. Pernikahan mereka pun harus dibatalkan.

Meski di awal Yuli sulit menerima, pada akhirnya ia bisa menerima perbedaan mereka. Lain Yuli, lain juga dengan ayahnya.  Bagi ayahnya, perbedaan paham ini fatal akibatnya, bahkan aib bagi seorang ketua muslim garis keras seperti dirinya.

Baginya, Ahmadiyah telah menyimpang dari Islam yang benar. Senada dengan pernyataan pemerintah melalui fatwa tiga menteri yang menyatakan Ahmadiyah sesat. Awal dari tindak kekerasan yang dialami Jemaah Ahmadiyah.

Ditengah kondisi rawannya konflik menyangkut isu agama, bisa dikatakan Hanung Bramantiyo cukup berani. Hanung memvisualisasikan puisi essai Denny JA Atas Nama Cinta, cerita tentang kisah cinta antara seorang Ahmadi dan seorang islam garis keras.

Film ini mencoba mengangkat akibat dari konflik yang terjadi dari sisi Yuli yang diperankan oleh Zaskia Mecca dan Romi diperankan Ben Kasyafani. Mereka korban atas lunturnya sikap toleransi antar umat beragama. Yang pada akhirnya hanya menyisakan  perselisihan, penyesalan dan korban.

Seperti halnya di bagian akhir cerita film ini, Ayah Yuli akhirnya merestui pernikahan mereka melihat kondisi kesehatan Yuli yang memburuk. Namun sayang, belum sempat Yuli mendengar langsung restu ayahnya, ajal keburu menjemput Yuli. Ia meninggal akibat penyakit yang sudah lama ia idap.

Film berjudul Romi dan Yuli dari Ckeusik ini seolah mengingatkan kita pada cerita Romeo dan Juliet. Bahkan dari judul pun terkesan mirip. Secara penyajian, film ini bisa dikatakan bentuk baru dari film yang biasa digarap Hanung. Sepanjang film ini aktor Agus Kuncoro membacakan puisi Denny JA, menceritakan sebagian perjalanan gerakan Ahmadiyah di Indonesia.

Sejujurnya, penggarapan film ini sangat sederhana, dibandingkan film-film yang biasa disutradarai Hanung. Bahkan meninggalkan sedikit kesan film ini asal jadi. Terkesan dari dialog dan pemilihan soundtrack-nya. Mungkin Hanung tidak ingin meghilangkan originalitas dari naskah Denny.

Namun pesan penting  film inilah yang harus jadi perhatian kita. Dibalik kesederhanaan film ini, kita digugah masalah pluralisme.  Sejauh apa kita paham semboyan negara ini, Bhineka Tunggal Ika.

Makna ke-Bhinekaan ini harusnya sebagai pondasi berbangsa dan bernegara. Kita  telah diajarkan untuk saling menghargai, menghormati, dan saling membesarkan. Keberagaman bukan untuk bercerai berai, harusnya untuk saling melengkapi.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).