BOPM Wacana

Peroleh Suara Terkecil, Prof Subhilhar: SA Terbagi Dua Kubu

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amanda Hidayat

Peroleh Suara Calon Rektor USU yang dipilih oleh Senat Akademik, Pemilihan ini dilaksanakan di Ruang Rapat SA, Selasa (19/1).  | Nurhanifah
Peroleh Suara Calon Rektor USU yang dipilih oleh Senat Akademik, Pemilihan ini dilaksanakan di Ruang Rapat SA, Selasa (19/1). | Nurhanifah

BOPM WACANA | Prof Subhilhar menjadi calon rektor yang lulus tahap penyaringan bakal calon rektor oleh Senat Akademik (SA) dengan perolehan suara terkecil. Dari total 94 suara SA, ia mendapat tujuh suara. Sedangkan Prof Runtung Sitepu memperoleh 45 suara dan Prof Zulkifli 42 suara. Ia mengatakan perolehan tersebut sesuai dengan prediksinya yang disebabkan konflik dua kubu dalam SA yang membuat suara SA terbelah ke dua calon lain. Menurutnya pemilihnya bukan berasal dari dua kubu tersebut. Hal ini dikatakannya usai pengumuman hasil penyaringan SA, Selasa (19/1) di Biro Rektorat.

Meski begitu, Prof Subhilhar tak ambil pusing perolehan suaranya di SA dan bilang hasilnya sudah bagus. “Saya biasa saja, kita kan tahu sejarahnya, sudah setahun lebih konflik itu terjadi. Saya bukan dari kelompok-kelompok itu,” katanya. Konflik apa, Subhilhar tak mau menjelaskan.

Raja Bongsu Hutagalung Wakil Rektor III yang juga anggota SA mengatakan hasil perolehan suara di SA memang tidak lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok, tapi ia katakan pastinya anggota SA juga ada yang memilih dengan alasan program kerja yang ditawarkan calon rektor. “Penentu terakhirnya kan ada di MWA,” katanya. Bongsu juga tak mau menjelaskan kelompok yang dimaksud.

Prof Subhilhar tetap optimis menang karena penentu akhir tetap tergantung pada Majelis Wali Amanat (MWA) dan tak ada pengaruh perolehan suara SA di MWA. Ia yakin tidak ada kubu-kubu dalam MWA sehingga suara akan terbelah karena kepentingan suatu kelompok.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).