BOPM Wacana

Perjalanan Mencari Kesembuhan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Hadissa Primanda

2013- GlassJudul Buku: The Girl with Glass Feet (Gadis dengan Kaki dari Kaca)

Pengarang: Ali Shaw

Penerjemah: Tanti Lesmana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2011

Jumlah Halaman: 425 halaman

Harusnya, petualangan dalam buku ini bisa lebih mendebarkan dan romantis. Namun hanya kebingungan dan tanda tanya yang disajikan hingga akhir cerita.

Ini adalah cerita petualangan Ida MacLaird yang sedang mengalami metamorfosis dirinya menjadi kaca. Ia datang ke St. Hauda’s Land untuk mencari kesembuhan. Fokusnya terpecah saat ia bertemu Midas Crook, seorang fotografer yang sangat tertutup dan hanya mendefinisikan dirinya lewat hasil jepretannya yang didominasi foto alam. Mereka pun saling jatuh cinta dan Midas bersedia membantu Ida untuk mencari kesembuhannya.

Namun ternyata, bukan itulah yang menjadi pokok utama dari buku ini. Petualangan Ida mencari kesembuhan hanyalah alibi dan pertemuannya dengan Midas adalah gerbang masuk menuju cerita sebenarnya. Sesungguhnya yang diceritakan justru petualangan kesembuhan ‘batin’ dari para tokoh di buku ini yang punya konflik sendiri-sendiri dan menemukan penyelesaian pribadinya di akhir cerita.

Sebut saja Midas si tokoh utama, yang ternyata membenci ayahnya yang sama sekali tidak bisa membuka diri untuk nafsunya. Pasalnya, kebenciannya itu diwariskan pada Midas, hingga ia merasa seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengan wanita. Ida pun mati-matian membuka lagi naluri alamiah Midas itu, hingga akhirnya mendapat pengakuan cinta dari Midas.

Lain lagi tokoh Henry Fuwa dan Carl Maulsen yang punya cerita yang sama. Keduanya sama-sama jatuh cinta pada seorang gadis, namun gadis itu menikahi pria lain. Malangnya, mereka berdua sama sekali tidak bisa melupakan si gadis bahkan setelah puluhan tahun dan hidup dalam bayang-bayang serta kenangan. Pasalnya, cinta itu sama sekali tak terungkap hingga ia terkungkung dalam diri mereka.

Sebenarnya, Ida dan Midas tak bisa dibilang tokoh utama, karena semua tokoh dalam buku ini punya porsi yang sama dalam cerita, saling terhubung lingkaran cerita masa lalu yang rumit dan saling berkaitan. Hingga kebingungan akan mewarnai usaha untuk memahami cerita tiap tokoh.

Henry Fuwa adalah orang terakhir yang ditemui Ida sebelum kakinya berubah menjadi kaca. Ia adalah cinta lama dari Evaline, ibu Midas yang akhirnya menyesal menikahi ayah Midas yang juga bernama Midas Crook karena jarang sekali punya kontak fisik, terutama setelah Midas lahir. Midas tua adalah seorang ilmuwan yang karyanya dibenci namun dijadikan acuan oleh Carl Maulsen, lelaki yang jatuh cinta setengah mati pada Freya, ibu Ida. Carl malah mencari sosok Freya dalam diri Ida, yang kebetulan tinggal di rumahnya selama proses mencari kesembuhan tersebut. Carl bahkan menolak cinta dari Emiliana, seorang ahli pengobatan alternatif yang pernah menangani kasus serupa Ida.

Buku ini habis untuk menceritakan mereka saja, sehingga ruang yang tersisa untuk Ida dan Midas sangat sedikit. Cerita juga tidak disusun secara kronologis, dan bolak balik dari masa lalu dan masa kini, dari satu tokoh ke tokoh lain. Sehingga membacanya seperti menyusun kepingan puzzle terlebih dahulu untuk kenal dengan hubungan personal para tokoh tersebut.

Hal lain yang tak kalah membingungkan dan mempersempit ruang cerita Ida dan Midas adalah latar cerita. Penulis mendeskripsikan ‘terlalu’ detail setiap wilayah dan perjalanan yang dilakukan tiap tokoh hingga latar tersebut menjadi kabur karena terlalu banyak sudut yang diceritakan. Namun deskripsi yang terlalu detail ini cukup membuat beberapa bagian terasa nyata, seperti saat perubahan tubuh Ida menjadi kaca. Selain itu, terlalu banyak diksi-diksi yang bermakna kiasan dan sarat perumpamaan serta tidak transparan hingga pembaca harus berpikir lebih dalam untuk memahaminya, dan lagi-lagi, membingungkan.

Sebenarnya, buku ini punya ide cerita yang menarik. Hanya saja penulis mungkin memang tidak ingin memberikan cerita sesederhana cerita petualangan sejenis biasa, hingga mengalihkan fokus ceritanya pada konflik batin tiap tokoh hingga makna ceritanya lebih dalam. Hanya saja, fokus itu menjadi terlalu fokus hingga melupakan tujuan awal cerita buku ini, yakni petualangan Ida mencari kesembuhan. Karena hingga akhir, perubahan diri Ida yang perlahan-lahan menjadi kaca malah hanya sebatas pemanis cerita, bukan lagi sebagai lakon utama.

Bahkan hingga akhir pun, buku ini terasa anti-klimaks dan masih menyisakan banyak pertanyaan, seperti mengapa tubuh Ida berubah menjadi kaca pun tidak dijelaskan. Karena sulit dimengerti, mungkin buku ini memang cocok dibaca bagi mereka yang terbiasa melahap buku-buku berat agar pesannya lebih sampai. Mungkin juga, pembaca pemula perlu membaca ulang buku ini hingga paham tiap benang merah dari alurnya. Namun, mengingat ada 425 halaman dalam buku ini bisa jadi mengurungkan niat tersebut. Lalu setiap kebingungan yang diberikan buku ini tetap menjadi tanda tanya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).