BOPM Wacana

86: Tahu Sama Tahu

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Guster C P Sihombing

Foto: Andika Syahputra
Foto: Andika Syahputra

Judul Buku: 86

Penulis: Okky Madasari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 256 Halaman

Tahun Terbit: 2011

Harga: Rp 45.000

Membiasakan yang benar pasti lah lebih nyaman daripada membenarkan yang biasa.                          

Apa yang saya pikirkan mungkin sama dengan yang Anda pikirkan. 86—lapan enam—adalah istilah kepolisian yang memiliki arti sama-sama mengerti atau memahami. Istilah ini pun mencuat kepermukaan, hingga sekarang maknanya “beres bersyarat”. Tahu sama tahu. Isu sosial ini lah yang membuat Okky Madasari mengangkat isu 86 dalam bukunya yang berjudul sama.

Adalah Arimbi, seorang anak petani asal Ponorogo yang ia jadikan tokoh utama. Berprofesi sebagai juru ketik dan tukang fotokopi di sebuah pengadilan negeri di Jakarta. Ia tinggal di sebuah gang sempit yang lumayan jauh dari kantornya. Berjalan kaki sekitar lima menit menuju simpang jalan besar Mampang, kemudian menaiki Kopaja sekitar 20 menit saat jam macet menuju kantor.

Gang tempatnya tinggal penuh sesak dan keringat ketika pagi dan sore menjelang. Bagaimana tidak, di sanalah buruh-buruh pabrik dan pegawai-pegawai rendahan tinggal. Mereka mengawali hari dengan keburu-buruan, begitu pula mengakhiri rutinitas dengan hal yang serupa.Alasan utamanya memilih rumah kontrakan ini adalah harga. Ada harga ada pula kualitas. Rumah ini hanya bisa diisi sebuah kasur, kamar mandi, dan sebuah dapur kecil di sampingnya.

Awalnya ia bekerja normal tanpa embel-embel 86. Sama seperti ketika ia melamar pekerjaan tanpa harus bayar dan diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil. Mungkin nasib. Ya nasib jugalah yang sedang berpihak padanya ketika sebuah air conditioner (AC) tiba di rumah kecilnya suatumalam. Setelah empat tahun menjadi juru ketik, baru kali ini lah ia dikagetkan pemberian orang.

Berawal dari AC yg datang secara “tiba-tiba”, menjadi pintu gerbang ia menemui “AC-AC lainnya”. Mempunyai penampilan menarik, memiliki rumah pribadi, dan hidup bahagia menjadi impian semua orang. Tak terkecuali Arimbi. Arimbi secara tak sadar telah memasuki tahap lupa diri. Awalnya, ia dengan sukarela mengetik semua berkas-berkas persidangan yang akan disidang. Sekarang semuanya bisa beres asal ada pelicin. Dengan 86 semua urusan beres.

Saya rasa, hal seperti ini lah yang membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga saat ini masih sulit mengungkap banyak kasus korupsi. Apalagi dengan adanya istilah 86 ini. Siapa sangka juru ketik saja bisa masuk penjara? Setelah masuk penjara pun ia tetap lupa diri.

Di dalam penjara, ia menyukai sesama tahanan wanita, dan memulai 86 lain. Ia bergabung dengan jaringan produsen sabu-sabu terbesar di Indonesia. Mungkin karena didukung Ananta, suaminya. Suaminya turut menjadi kurir di luar penjara, sementara ia masih mendekam dalam penjara.

Sebenarnya mereka melakukan hal ini demi ibu Arimbi yang sakit ginjal. Di mana membutuhkan biaya satu juta per-minggu untuk cuci darah. Sampai pada suatu hari ibunya meninggal. Ya yang namanya manusia, mereka juga tak pernah puas. Setelah keluar dari penjara pun, mereka masih melakoni profesi sampingannya sebagai kurir sabu-sabu. Hingga suatu hari mereka menemui “ajalnya”.

Di bukunya yang lain Okky juga mengangkat isu kemanusiaan yang berjudul Entrok dan Maryam. Sepertinya, Okky memang fokus mengangkat isu-isu yang menyangkut idealisme, pluralisme, kaum minoritas, hingga korupsi. Ia juga selalu mengangkat tokoh perempuan di setiap bukunya. Okky menyajikan cerita ini mengalir dan mudah dimengerti. Didukung dengan deskripsi yang jelas. Barangkali karena ia pernah menjadi wartawan untuk kasus-kasus korupsi dan hukum. Sama seperti kita memahami lokasi-lokasi kejadian dalam cerita. Karena di halaman awal buku disajikan peta lokasi cerita.

Judge this book from the cover. Bagi saya, daya tarik awal buku ini ya pada sampul depannya.Terlebih kalau diperhatikan detail gambarnya.Sampai buku ini selesai saya baca, saya tak menemui kekurangan. Mungkin karena saya terbawa emosi saat membacanya. Buku ini menjadi salah satu buku terbaik pada Khatulistiwa Literary Award 2011, sama seperti buku Okky yang lain.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).