BOPM Wacana

Percintaan ala Timur Tengah dari Negeri Sakura

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Bania Cahya Dewi

Judul The Bride’s Stories (Komik Berseri)
Penulis Kaoru Mori
Penerbit PT Elex Media Komputindo
Tahun 2011
Jumlah Seri 2 buku (Belum Tamat)

Aku sama sekali nggak berpikir, “seandainya, Amira lebih muda.”

Amira Hargal kaget, calon suaminya berdiri tepat di depannya. “Wah,” katanya, sewaktu menyingkap selendang dengan motif daun yang rumit dari kedua wajahnya. Amira, dengan wajah khas komik Jepang terlihat seperti perempuan asal Timur Tengah berkat keelokan pakaian dan perhiasan yang ia kenakan.

Amira baru saja dinikahkan dengan Karluk Ayhan, pria yang delapan tahun lebih muda darinya. Sejak menikah, Amira tinggal di rumah Karluk di pesisir Laut Kaspia dan mulai membiasakan diri dengan keluarga barunya yang besar. Kakek-nenek Karluk, Orang tua Karluk, kakak perempuan Karluk beserta suami dan empat orang anaknya. Sebelumnya, keluarga Amira merupakan keluarga yang hidup semi-nomaden yang hanya berpindah saat musim panas. Keluarga Amira pun terbilang keluarga kecil karena hanya terdiri dari orang tua dan ketiga saudara Amira.

Usia normal pernikahan saat itu ialah 15-16 tahun. Pernikahan dengan perempuan yang lebih tua dianggap wajar sebab, sistem pewaris keluarga berada di tangan anak laki-laki paling kecil (bungsu). Selain itu, pernikahan juga merupakan pengikat hubungan antar keluarga. Sehingga, asal-usul keluarga perempuan pun menjadi syarat penting dalam pernikahan. Kemudian, perempuan yang lebih tua dianggap lebih siap bekerja dan bisa diandalkan.

Perbedaan umur delapan tahun, Amira 20 tahun dan Karluk 12 tahun bukan menjadi masalah utama. Komik ini lebih bercerita tentang kehidupan sehari-hari keluarga Amira dan Karluk yang hidup di abad 19 di bagian Asia Tengah. Amira yang sempat hidup nomaden terampil dalam memanah dan berkuda. Keahliannya tak terbatas itu saja, ia juga mahir memasak dan menyulam layaknya perempuan-perempuan di negaranya.

Ada satu bagian di komik yang bercerita tentang seberapa pentingnya kemampuan menyulam bagi para perempuan. Setiap keluarga dan perempuan memiliki sulaman yang menjadi ciri khas masing-masing. Di keluarga Karluk sendiri, ada motif bunga, elang, juga permata yang menjadi ciri keluarganya. Hal ini menjadi penting, karena anak-anak perempuan harus mampu menyulam kain mereka sendiri yang akan dibawa saat menikah nanti.

Kain dengan sulaman indah merupakan entitas tersendiri dalam kebudayaan di cerita ini. Fungsinya bermacam-macam, sebagai penghias ruangan, bahan pakaian dan hadiah bagi pengantin baru atau bagi ibu yang baru  melahirkan.

Komik ini sendiri menang dari segi estetika dan keunikan cerita yang diangkat oleh pengarang. Detail perhiasaan, motif pakaian dan permadani, ukiran-ukiran yang ada di seluruh cerita tergambar dengan jelas dan nampak rumit. Mungkin, ini pula lah yang menyebabkan komik ini rentang terbitnya setahun sekali. Namun, anda tak perlu ragu dengan kualitas gambar yang ditawarkan oleh Mori.

Kesenangan Mori pada permadani asal Turki menjadi bibit lahirnya komik setebal 186 halaman. Riset yang mendalam pun dilakukan Mori. Sayangnya, sampai buku kedua, masih banyak hal-hal yang tidak dijelaskan di komik ini. Seperti kenapa Amira baru menikah di umur 20 atau asal-usul Smith –peneliti yang menumpang di keluarga Karluk. Tentu saja ini membingungkan pembaca yang memiliki budaya berbeda atau bahkan lain sama sekali.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).