BOPM Wacana

Penalaran Ringan Sisi Lain Klaim Misteri

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Ika Putri Agustini Saragih

Sumber: Istimewa
Sumber: Istimewa

Judul: Enigma 2

Penulis: Sam

Penerbit: Tangga Pustaka

Tahun Terbit: 2014

Jumlah Halaman: 284

Bagi yang enggan baca buku seputar mitos karena bahasa yang menjemukan, baiknya melirik buku ini untuk dijadikan referensi. Di sini Sam berusaha menulis dengan gaya penulisan narasi. Sehingga dalam beberapa cerita kita seolah-olah terlibat di dalamnya.

Enigma 2 ini merupakan seri kedua dari Enigma 1. Beberapa isi di dalamnya disadur ulang dari blog pribadi milik penulis dengan penambahan informasi baru. Buku ini menuntun kita melihat sisi lain dari sebuah peristiwa tak lazim dengan penalaran sederhana yang lebih ilmiah.

Di awal, dipaparkan sejarah Unidentified Flying Object (UFO) atau dikenal dengan alien. Tak ada tahun pasti kapan alien mulai dikenal, tapi penulis mengulas buku Chariots of the Gods (1968), buku paling berpengaruh yang berkaitan dengan teori ancient alien. Buku yang ditulis Erich von Daniken itu mengklaim kisah UFO ada sejak 326 Sebelum Masehi (SM).

Pun dituliskan insiden The Battle of Los Angeles, sebuah peristiwa di tahun 1942 yang mendebarkan. Dikisahkan serangan angkatan darat Amerika melawan benda terbang tak dikenal. Penduduk di Culver City diminta tetap tinggal di rumah, listrik dipadamkan total, ribuan personil tentara diturunkan, 1.400 peluru anti pesawat ditembakkanserta serangan secara sporadis militer selama hampir satu jam. Sehingga ini jadi rangkaian peristiwa paling termahsyur dalam sejarah UFO.

Saya merasa seolah-olah menjadi saksi atas peristiwa itu. Deskripsi yang dituliskan cukup membolak-balik imajinasi. Namun dalam kisah alien, penulis belum bisa menjawab pertanyaan apakah alien ada atau tidak.

Setelahnya, kita akan berkenalan dengan peninggalan masa lampau yang membingungkan. Yakni peta yang dibuat Piri Reis, laksamana dari Ottoman, di tahun 513 SM yang menggambarkan pantai utara Antartika. Padahal Antartika baru ditemukan 300 tahun setelahnya.

Daniken menuduh Reis dibantu alien dalam pembuatan petanya. Di sinilah penulis berusaha memberikan fakta yang lebih logis tentang kesalahan sangka Hapgoods dan Daniken yang menganggap wilayah Tierra del Fuego yang dibuat Piri Reis sebagai Antartika. Hal ini hanya karena kesamaan kontur pada dua wilayah itu.

Yang menarik adalah pembahasan Indonesia yang merupakan benua bernama Atlantis yang hilang. Hal ini mencuat ke publik setelah 2005. Terbit sebuah buku Atlantis : The Lost Continent Finally Found. Buku yang ditulis Prof Arsyio Nunes dos Santos dari Brazil ini meyakini Benua Atlantis yang hilang sesungguhnya terletak di Indonesia.

Juga peradaban-peradaban besar di dunia sesungguhnya bermula dari kaum Atlantis (Indonesia) yang bermigrasi ke seluruh dunia karena bencana Katastropik. Singkatnya seluruh peradaban hebat pada masa lampau sesungguhnya berasal dari Atlantis.

Prof Santos berkesimpulan demikian bermula ketika sebuah kaum yang berasal dari dataran semi Gurun Sahara bermigrasi mencari iklim yang ideal. Mereka menemukannya di Indonesia. Peradaban yang terbangun di tempat ini berkembang pesat namun kemudian luluh lantak karena diguncang bencana maha dahsyat: meletusnya Gunung Krakatau. Atlantis tenggelam.

Tentang Atlantis yang ditemukan, ini karena kepercayaan Prof Santos pada Plato yang menyebutkan lokasi Atlantis berada di hadapan pilar-pilar Herkules. Menurut beberapa sumber Romawi, pilar tersebut adalah Selat Giblatar. Berbeda, Prof Santos meyakini pilar-pilar Herkules sebenarnya adalah Selat Sunda. Maka terpecahkanlah misteri tentang Atalantis yang hilang itu menurut Prof Santos.

Namun benarkah demikian? Kesimpulan Prof Santos banyak menuai kritik dari sejarahwan dan pemikir Indonesia.

Ada juga kisah tentang makhluk cryptid seperti Jenglot yang populer di Indonesia pada tahun 1990-an. Juga tentang mermaid yang dikenal sebagai wanita bertubuh manusia.

Dalam buku ini kita akan terkejut betapa sederhananya penjelasan beberapa misteri yang sebenarnya sangat membingungkan. Seperti peta Piri Reis, ternyata klaim penemuan Atlantis itu hanyalah persoalan pengambilan perumpaan yang keliru. Prof Santos menemukan wilayah yang hilang dahulu, baru menentukan patokannya yakni literatur mengenai wilayah tersebut. Padahal ini adalah metode pengambilan yang keliru.

Di sini kita diajak untuk awas melihat satu fenomena misterius dari sisi yang lain dengan penalaran lebih ilmiah.

Penulis menyajikan buku ini dengan bahasa ringan. Padahal beberapa pembahasan di dalamnya cukup berat seperti tentang sejarah dan wilayah zaman dahulu. Tapi tetap bisa dimengerti. Misalnya dalam pembahasan mengenai sejarah Piramida Gunung Padang dan kontroversinya.

Penulis beberapa kali menyinggung tulisannya di jilid pertama. Baiknya kita membaca jilid pertama agar lebih paham. Buku ini juga tidak monoton dengan adanya gambar yang memperkuat fenomenanya. Ini memperkuat fakta-fakta yang coba dikuaknya. Selain itu bahasa yang digunakan penulis juga terkesan atraktif.

Seperti judulnya, Enigma, buku tentang kisah-kisah ini laiknya sebuah teka-teki. Tentu ada yang bisa terpecahkan dan tidak. Untuk misteri yang belum terpecahkan, kata Sam marilah kita membiarkannya apa adanya sebagai hiburan bagi rasa ingin tahu kita.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).