BOPM Wacana

Minimnya Pilihan di Pilpres 2014

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Sri Wahyuni Fatmawati P

Mei lalu,mulai tanggal 18 hingga 20 dilaksanakanlah pendaftaran bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden negeri ini. Hasilnya, ada dua nama,calon presiden lengkap dengan pasangannya. Yakni Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Merekalah yang akan bertarung di Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang.

Nama-nama lain seperti Hary Tanoesoedibjo,Wiranto, Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan dan Ani Yudhoyono yang sebelumnya sempat menghebohkan media dengan menyatakan diri akan maju sebagai calon presiden dan wakil presiden tak mendaftarkan diri.  Hanya dengan dua pasang calon presiden, bagaimana tanggapan mahasiswa USU tentang hal ini?

Dhini Azhari Daulay – Fakultas Ilmu Budaya 2011

Dini Azhari DaulaySebenarnya harusnya banyak calonnya. Sekarang kelihatannya Indonesia kayak enggak punya orang yang berbobot yang memang sesuai kriteria pemimpin. Makanya yang kemarin-kemarin nyalon itu ya gitu-gitu orangnya. Nah sekarang hanya dua pula. Kalau dua sudah ada yang sreg  enggak apa-apa, ini enggak. Kan jadi gitu kesannya. Apalagi yang satu belum habis pula masa jabatannya. Kayak Indonesia enggak punya orang lain saja buat jadi presiden.

 

 

Riki Pratama – Fakultas Ekonomi dan Bisnis 2010

Riki PratomoJadi lebih mudah karena lingkupnya jadi kecil. Kalau banyak nanti jadi membuat masyarakat bingung. Ke depannya lingkupnya dibuat makin kecil saja, mungkin caranya bisa dari kriterianya yang dibanyakin, fit and proper test-nya yang dimantapin. Hanya dua pasang calon begini bukan berarti kita jadi enggak punya pilihan, toh Amerika Serikat juga biasanya hanya dua pasang. Pilihan itu kan masalah pribadi-pribadi. Enggak ada hubungannya juga dengan jumlah calon presiden dan wakilnya yang sedikit.

 

 

Agum Risnandar – Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2013

Agum RisnandarLebih baik kalau banyak pilihan. Jadinya enggak  bingung mau milih yang mana karena calonnya tadi banyak. Kalau sekarang hanya dua pasang calon, kita kayak enggak ada pilihan lagi. Padahal belum tentu kedua pasang calon itu memang baik. Pun yang sebelum-sebelumnnya mendeklarasikan diri bakal maju ke pencalonan presiden dan wakilnya ini, kesannya mereka malas dan takut untuk mencalonkan. Karena kedua pasang calon yang sekarang kan termasuk pilihan favorit kalau menurut survei-survei media sebelumnya. Harusnya mereka tetap maju sajalah. Biar pilihannya banyak dan belum tentu juga kan mereka kalah. Entahnya ternyata mereka yang lebih baik dibanding hasil survei.

 

Ahmad Yasir Nasution – Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam 2012

Ahmad Yasir NasutionLebih bagus sedikit saja, seperti dua pasang kayak sekarang. Karena enggak semua masyarakat Indonesia mau mencari terlebih dahulu profil calon presiden dan wakilnya nanti. Kalau banyak, nanti yang dipilih masyarakat ini yang keseringan nongol di publik saja, padahal kan belum tentu baik. Lagi pula dua calon kayak begini kan masyarakat juga sudah pada tahu orangnya. Sudah bisalah menyimpulkan sendiri bagaimana kriteria masing-masing calon. Memang lebih baik sedikit saja, sih.

 

 

Dian Ramadhani – Fakultas Kesehatan Masyarakat 2012

Dian RamadhaniSusah sih hanya dua pasang kayak gini. Sedikit sekali pilihan kita untuk memilih. Mau golput salah, mau milih hanya dua, pun belum ada yang menonjol. Kalau dua pasang sudah baik enggak masalah, tapi kan ini belum tentu baik. Yang sebelumnya heboh mendeklarasikan diri menjadi calon presiden dan wakilnya juga sekarang kan enggak mencalonkan lagi. Ya enggak apa-apa juga sih. Kalau di individu partai mereka saja enggak terpilih mau bagaimana rakyat Indonesia memilih. Memang pada dasarnya kita butuh banyak calon presiden sih, banyak pilihan. Kita bisa survei sendiri mana yang paling baik di antara mereka.

 

Dendi Purnama – Fakultas Keperawatan 2009

Dendi PurnamaHanya dua pasang seperti sekarang ya sudah bagus. Karena kalau banyak juga akan ribet. Masyarakat akan susah mengenali masing-masing calon. Lagian dua pasang yang sekarang juga berbeda sekali kriterianya, jadi gampang buat milihnya. Beda kalau ternyata orangnya dengan kriteria yang sama. Namun itu enggak berarti berpengaruh. Daripada banyak mending sedikit saja saja calonnya, enggak ribet.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).