BOPM Wacana

Menjadi Orang Tua Cerdas Demi Masa Depan Anak

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Aulia Adam

Foto: Aulia Adam
Foto: Aulia Adam

Judul: Mencetak Superman Masa Depan (Revolusi Mindset, Peranan & Cara OrangTua/Guru dalam Mendidik Anak)

Penulis: Hartono Sangkanparan

Halaman: 218 halaman

Penerbit: Visi Media

Hartono Sangkanparan adalah seorang lulusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung yang malah fokus bergerak sebagai pembicara dan pelatih dunia pendidikan. Melalui buku ini, ia mencoba memberikan pesan penting bagi orang tua di seluruh dunia: Andalah yang paling bertanggung terhadap siapa anak Anda kelak!

Mencetak Masa Depan Superman ialah buku ketiga Hartono. Seolah masih fokus dengan misinya mencerdaskan kehidupan anak bangsa, Hartono mencoba memotivasi para orang tua untuk lebih dalam memelajari teknik mendidik anak dengan mengembangkan pengetahuan tentang betapa luarbiasanya otak manusia. Persis seperti apa yang coba ia sampaikan di buku-bukunya sebelum ini, yakni Dahsyatnya OtakTengah dan Sinergi 3 Otak.

Dalam buku ini, Hartono membagikan sebagian besar pengalaman pribadinya sejak kecil hingga menjadi orang tua. Setidaknya untuk mengomparasikan pemikirannya tentang bagaimana seharusnya orang tua mendidik anaknya secara tepat.

Untuk memudahkan pembaca memahami gagasan-gagasan yang ingin ia sampaikan, Hartono membagi buku ini ke dalam delapan bagian penting. Di antaranya tentang ulasan dasar mendidik anak, cara melihat potensi mereka, mencontohkan para jenius yang ada di dunia, perbedaan Abad Industri dan Abad Informasi, penggunaan internet, sekolah, pembentukan karakter anak dan cara-cara tambahan dalam mendidik yang sering diabaikan. Semuanya ia kemas dalam 70 bab, yang masing-masing bab diisi dengan potongan-potongan artikel ringandan singkat. Setiap bab tak lebih berisi satu hingga tiga halaman saja.

Pada dasarnya, Hartono ingin menekankan pada para pembacanya—khususnya para orang tua—untuk mengenali minat sang anak terlebih dahulu. Dan meskipun minat tersebut tak sesuai dengan minat sang orang tua, mereka tak boleh marah dan justru menjauhkan sang anak dari minatnya. Hal ini secara tegas diulang-ulang Hartono dalam tiap bab singkat di buku ini. Pun ia memberikan contoh-contoh nyata dengan memampangkan tokoh-tokoh dunia yang sukses berhasil karena dididik sesuai minatnya.

Di bagian keempat buku ini, Hartono juga menyelipkan sebuah kejutan. Pada bab Tempat Belajar yang Paling Baik Ia seolah menyampaikan bahwa institusi pendidikan formal yang selama ini diyakini para orang tua di Indonesia sebagai jalur ampuh mendidik anaknya tak selamanya bagus.

Sekali lagi, Hartono mengingatkan para orang tua bahwa mereka lah guru terbaik bagi sang anak. Kali ini dengan embel-embel, rumahlah lingkungan ideal untuk belajar. Menurut Hartono, rumah adalah laboratorium terlengkap untuk belajar. Orang tua dapat membangun spiritual, hubungan kekeluargaan, kegiatan finansial, sosial dan pemeliharaan kesehatan mulai dari rumah (hal 65).

Bahkan Hartono beranggapan ada kalanya homeschooling adalah cara yang tepat mendidik anak. Ia mengajak para orang tua untuk tidak terlalu bergantung pada institusi pendidikan formal dalam mengemas masa depan sang anak.

Mungkin, sebagian orang tua yang masih bergantung pada presepsi kuno tentang ‘sekolah’ akan terkejut di beberapa bagian buku ini. Sementara para orang tua yang telah memakai metode homeschooling dalam mendidik anak mereka, akan semakin terbuka tentang pendidikan anak di rumah.

Secara keseluruhan buku ini memang konsumsi ringan bagi para orang tua. Namun cukup menohok bagi mereka yang masih terlalu konservatif dalam mendidik. Terlebih lagi pada bab Apakah Orang Tua Dapat Dididik?

Hartono juga terang-terangan mengatakan buku ini sengaja disusun secara acak, sehingga tak perlu dibaca sesuai urutan di Yahoo! Group.

Buku ini juga dilengkapi beberapa riset kecil Hartono tentang hidupnya pribadi, serta beberapa kisah menginspirasi yang ia selipkan sebagai intermezzo klasik. Namun sayang, buku ini tak dilengkapi riset-riset khusus pendukung opini-opini pribadi Hartono.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).