BOPM Wacana

Mencoba Jujur pada Sejarah

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Nurhanifah

Judul : Kambing dan Hujan
Penulis : Mahmud Ikhwan
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun terbit : Mei 2015
Jumlah halaman : 380 Halaman
Harga : –
Foto: Maria Patricia Sidabutar
Foto: Maria Patricia Sidabutar

Satu kampung dan satu keyakinan nampaknya tak cukup jadi prasyarat pernikahan. Perihal tradisi Islam modern dan tradisi Islam tradisional, sebuah konflik terjadi menguak sejarah penuh luka.

 

Kemenangan Mahfud Ikhwan dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 nampaknya tak perlu diragukan. Tercermin dari kisah yang ia tuturkan. Sebuah roman penuh konflik keagamaan dalam sejarah kampung yang membuat pembaca bertanya-tanya ini kisah nyata atau fiktif belaka? Ia tawarkan kehidupan sosial-politik lengkap dengan tradisi keagamaan dan aspirasi modern.

 

Ia tampak yakin dengan kisah ini, bahkan dua paham agama dengan lugas ia sebutkan. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Perjuangan mempertahankan paham dan tradisi agama keduanya dituturkan secara elok. Bagaimana sejarah satu menjadi tak ‘satu’. Bagaimana satu yang tak ‘satu’ berjuang untuk menjadi satu. Yang memilukan adalah ketika dua sahabat ingin bersatu tapi justru menutup mata, karena berpikir mereka tak lagi satu. Mereka berbeda paham, tak sama.

 

Mat dan Is dua sahabat yang berjanji untuk terus bersahabat meski harus belajar di tempat yang berbeda. Mat harus lanjutkan sekolah ke pesantren, sementara Is tak punya biaya jadi tak lanjutkan sekolah. Maka Mat berjanji saat libur nanti, ia akan pinjamkan buku untuk Is. Ah, rupanya janji ini tak berjalan mulus. Dua tahun tak berjumpa banyak yang berubah.

 

Is yang belajar mengaji di masjid, rupanya kini makin cerdas dan serius. Setiap perbincangan yang dibawa Mat selalu dikaitkan dengan dalil. Semua dibahas secara tuntas dari segi bahasa dan agama, sehingga cara bicaranya terdengar berbelit-belit. Bagi Mat, Is seakan sudah tamat kitab Fakhtul Majid sehingga paham untuk membahas syirik dan bid’ah.

Maka konflik pun dimulai. Bukan karena Is yang lebih pintar daripada Mat soal dalil. Tapi karena Ali, guru yang mengajarkan ilmu agama kepada Is. Perbedaan ushalli dan qunut saat salat, cara berdzikir, doa-doa yang dibaca, dan juga pandangannya saat memimpin pengajian membuat Ali jadi perhatian. Ia membawa paham berbeda bagi Kampung Centong. Ini jadi tantangan bagi Mat untuk mondok dengan serius biar bisa lebih hebat dari Ali.

 

Nampaknya Ali serius dengan paham yang ia bawa. Dibantu dengan anak-anak pengajiannya di masjid, mereka membangun masjid baru. Kini dalam satu kampung terdapat dua masjid. Maka konflik memuncak, tokoh-tokoh tua merasa disuduti dan yang muda merasa dilucuti. Kedua belah pihak ingin mengembangkan dan mempertahankan pahamnya masing-masing.

 

Novel ini nampak kaya dengan kisahnya, alasan-alasan paham ini datang serta perjuangan terlihat begitu jujur dan nyata. Pantas saja, Mahfud rupanya telah mempersiapkan kisah ini cukup lama, sepuluh tahun. Sebuah kejujuran untuk mencoba adil pada latar tahun ‘65 saat NU dan Muhammadiyah sedang bersekukuh dan PKI menggelayuti, jadi alasan panjangnya persiapan untuk melahirkan kisah ini.

 

Mencoba adil, ia membuat sudut pandang yang berbeda. Dengan ‘aku’ yang berdiri sendiri, Mahfud punya tiga alasan dasar menghidupkan ‘aku’-nya yaitu menggunakan teknik point of view, meminimalkan subkjektivitas dan bias pada diri sendiri, serta mengeluarkan unek-unek, prasangka, dan stereotip-stereotip-atas NU dan Muhammadiyah dan sebaliknya-secara bersamaan meyakini dan mengejek prasangka-prasangka tersebut.

 

Menurut saya menjadi adil berhasil dilakukan Mahfud, sebab segala cerita terasa begitu mengalir tanpa perlu ada yang digurui dan dikhianati. Ia benar-benar apik membungkus semua kisah layaknya paket komplet. Narasinya dibiarkan berkisah dengan lempang mengalir begitu saja.

 

Paham-paham lalu yang mengganggu dan dibiarkan menjadi luka perlahan dibuka kembali. Bukan dengan Mat dan Is, tapi dengan anak mereka Mif dan Fauzia. Kedua muda-mudi inilah yang dijadikan kunci oleh Mahfud, menjadi penawar luka yang selama ini mengaga. Surat-surat lama kembali dibuka untuk mengurutkan awal mula perkara, mencari bagaimana solusi yang bisa ditempuh bersama.

 

Mahfud menceritakan kampung halamannya begitu manis, terletak di salah satu region Pantura Jawa jadi inspirasinya. Bahkan surat kaleng antar ulama yang dituturkan Is pernah terjadi pada tahun 30′-an di Jawa Barat, nyaris sama. Mungkin Anda akan bertanya-tanya bagaimana Mahfud bisa segampang itu meramu kisah ini? Membaca koleksi buku sejarah Islam di Nusantara dan buku mengenai ‘65 PKI merupakan salah salah satu khasiatnya-begitulah yang ia sampaikan di literasi.co.

 

Membacanya membuat saya termangu, setidaknya sejarah ternyata tak membosankan seperti yang selama ini saya kira. Kita hanya perlu jujur untuk mengakuinya, dan menuturkannya perlahan biar lama tak apa asal semuanya berpadu menjadi satu.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).