BOPM Wacana

Evolusi Disney dan Sindiran Rasisme Amerika

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Tantry Ika Adriati

Judy Hopps melerai dua warga Zootopia yang berseteru di depan gedung Walikota Zootopia. | Sumber Istimewa
Judy Hopps melerai dua warga Zootopia yang berseteru di depan gedung wali kota Zootopia. | Sumber Istimewa
Judul : Zootopia
Sutradara : Byron Howard dan Rich Moore
Penulis Skenario : Jared Bush
Pengisi Suara : Jason Bateman dan Ginnifer Goodwin
Tahun : 2016
Durasi : 108 Menit

Evolusi Disney menggunakan perangkat lunak termutakhir ini menghasilkan sebuah film animasi paling kompleks dibanding film-film sebelumnya. Zootopia, ide ceritanya menyentil rasisme Amerika.

Judy Hopps (Ginnifer Goodwin), seorang petugas polisi kelinci pertama di Zootopia merasa menyesal setelah berhasil menemukan Emmet Otterton, suami Austin yang hilang sejak dua hari sebelumnya. Judy dibantu seekor rubah bernama Nick Wilde (Jason Bateman) menangkap dalang di balik hilangnya Otterton dan hewan-hewan lainnya di Zootopia. Ia adalah Wali Kota Zootopia Leodore Lionheart.

Kenyataan ini membuat seluruh warga Zootopia merasa resah. Otterton yang asalnya seekor musang berubah menjadi buas dan memangsa hewan-hewan di sekitarnya. Dalam pidatonya, Hopps mengatakan kemungkinan penyebabnya adalah sifat alamiah hewan pemangsa Otterton yang muncul karena dipicu suatu hal. Namun belum diketahui penyebab pasti berubahnya Otterton. Hal inilah yang membuat Wali Kota Leodore mengasingkan Otterton di penjara.

Pernyataan Hopps disangkal Wilde yang kala itu berniat bergabung ke kepolisian Zootopia. Wilde percaya penyebab utamanya bukan karena hal itu. Namun Hopps kehilangan keyakinan dan tetap khawatir Wilde—yang seekor rubah—pada akhirnya juga akan berubah menjadi ganas. Ketakutan Hopps diketahui Wilde. Wilde kecewa dan akhirnya membatalkan niatnya bergabung ke kepolisian.

Sementara di sisi lain kota, semua hewan saling bermusuhan. Hewan-hewan jinak takut semua pemakan daging menjadi buas, akibatnya mereka memilih menghindar dari hewan liar. Di depan kantor wali kota, dua kelompok hewan ini saling bersiteru menuntut keamanan mereka di Zootopia.

Judy Hopps dan Nick Wilde meminta bantuan Flash untuk mencari keberadaan Emmet Otterton. | Sumber Istimewa
Judy Hopps dan Nick Wilde meminta bantuan Flash untuk mencari keberadaan Emmet Otterton. | Sumber Istimewa

Hopps yang tinggal seorang diri semakin bingung dan khawatir dengan kondisi Zootopia. Zootopia, kota yang dulunya menjadi tempat berkumpulnya semua jenis hewan menjadi kacau balau akibat kejadian tersebut. Ia merasa kasus tersebut belum berakhir sampai di situ saja. Akhirnya ia memutuskan kembali ke kampung halamannya di Bunnyburrow. Di sanalah Hopps mendapatkan ilham untuk kembali memecahkan kasus tersebut. Hopps menemui Wilde dan meminta maaf atas ketidakpercayaannya pada Wilde. Setelahnya dimulailah aksi dua sejoli ini menyelamatkan kota Zootopia.

Film animasi keluaran terbaru Disney ini mengangkat isu keberagaman dalam ide ceritanya. Majalah Tempo dalam ulasannya mengatakan Zootopia menyindir situasi Amerika Serikat akhir-akhir ini. Mulai dari kebrutalan polisi terhadap warga Afro-Amerika yang memicu gerakan Black Lives Matter hingga provokasi calon presiden Amerika Donald Trump yang kontra terhadap kaum muslim.

Hal ini terlihat dalam konflik film ini yang menyinggung perbedaan ras hewan jinak dan pemangsa di Zootopia. Misalnya alasan Leonard memenjarakan Otterton karena takut golongannya—hewan buas—jadi dirugikan. Amanat film ini pada akhirnya tetap menginginkan Zootopia kembali menjadi kota yang beragam seperti dulu lagi, laiknya Amerika Serikat.

Meski begitu anggapan ini disangkal sutradara Zootopia. Byron Howard yang pertama kali mencetuskan ide untuk menyatukan segala jenis hewan dalam satu kota bernama Zootopia. Ide ini didapatkan setelah ia menonton film Robin Hood (1973) dan riset panjangnya mengenai perilaku hewan selama sembilan bulan lebih. Bersama Rich Moore, Howard berhasil menciptakan sebuah kota baru tempat semua hewan berkumpul, tampil nyata dan tidak asal-asalan. Ialah Zootopia.

Seekor jerapah yang tingginya 97 kali tinggi tikus sedang membeli jus di Zootopia. | Sumber Istimewa
Seekor jerapah yang tingginya 97 kali tinggi tikus sedang membeli jus di Zootopia. | Sumber Istimewa

Di Zootopia tiap binatang ditempatkan sesuai dengan habitat aslinya. Unta tinggal di wilayah padang pasir bernama Sahara Square, hewan-hewan kecil seperti tikus tinggal di sebuah kota mini bernama Little Rodentia, dan pusat kotanya Savana Central dibuat seperti kota-kota pada umumnya. Terdapat mall, gedung-gedung tinggi, hingga kantor pemerintahan dan kepolisian. Uniknya, semua penduduk kota ini adalah hewan dari berbagai jenis.

Film ini tidak asal-asalan karena Moore dan Howard tetap menampilkan tabiat asli hewan. Misalnya gajah yang bisa berdiri seperti manusia tetap makan menggunakan belalainya. Tinggi hewan-hewan di Zootopia juga sesuai dengan tinggi aslinya, seperti jerapah yang dibuat 97 kali tinggi tikus. Hingga karakter kungkang yang dianimasikan lambat, sesuai sifat aslinya.

Selain mengangkat ide keberagaman, dalam proses pembuatannya Disney juga menggunakan alat animasi baru seperti Hyperion, iGroom, XGen, dan Keep Alive. XGen dan iGroom digunakan untuk menumbuhkan 2,5 juta helai bulu Hopps dan Wilde. Keep Alive dan Hyperion digunakan untuk menggerakkan lingkungan Zootopia menjadi dinamis seperti nyata. Hasilnya jauh berbeda dari film animasi Disney terdahulu seperti Big Hero 6 (2014) dan Frozen (2013). Zootopia dianggap film paling kompleks dibandingkan film-film lainnya.

Tak heran jika Zootopia berhasil mengumpulkan pemasukan sebesar Rp876 triliun setelah tiga hari tayang di bioskop. Jauh lebih besar dibandingkan pendapatan Frozen tiga tahun lalu. Film ini layak ditonton bagi Anda penggemar Disney. Sebab Zootopia merupakan wajah baru evolusi Disney sejak awal kariernya pada 1901 silam.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).