BOPM Wacana

Max Havelaar, Suara Antikolonial dalam Bayangan Prokolonial

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Rati Handayani

Judul : Max Havelaar
Penulis : Multatuli (Eduard Douwes Dekker)
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : Cetakan Kelima, Januari 2015
Tebal : 477 halaman
Harga : Rp 65.000,00

Lewat tiga pandangan tokoh utama dan struktur naratifnya, Max Havelaar coba mengungkap kebenaran yang plural tentang kolonialisme dan antikolonialisme. Namun akhirnya pandangan antikolonialisme masih dibayangi prokolonialisme.

Amanda Hidayat
Foto: Amanda Hidayat

Novel berlatar Amsterdam dan Lebak ini memiliki tiga tokoh utama: Batavus Droogstoppel, seorang makelar kopi Belanda; Stern, pemuda Jerman pecinta sastra; dan Max Havelaar, Asisten Residen Belanda di Lebak.

Lewat tiga tokoh utamanya, Max Havelaar membahas kolonialisme di tanah Jawa. Droogstoppel adalah representasi seorang Belanda, sedangkan Stern dan Max Havelaar digambarkan antikolonial.

Multatuli membagi novel ini ke dalam sembilan narasi. Narasi disajikan berselang-seling tergantung pada perbedaan pandangan ketiga tokoh tentang kolonialisme di tanah Jawa. Ketika seorang tokoh sedang menyajikan narasi dan pandangannya, tokoh lain menghentikannya dengan menyatakan ketidaksetujuan. Begitu tokoh terakhir selesai, tokoh terdahulu mengambil posisi kembali.

Pembaca dibawa berpindah-pindah dari satu pemikiran tokoh ke pemikiran tokoh lain. Sehingga yang lahir adalah kebenaran yang plural tentang kolonialisme, bukan kebenaran mutlak.

Cerita diawali dengan Droogstoppel yang menceritakan pandangan-pandangannya. Sebagai makelar kopi, ia cinta kebenaran dan akal sehat, namun membenci sastra. Lalu ia bertemu teman lamanya yang dalam keadaan miskin, dinamainya Sjalmaan—pria bersyal.

Sjalmaan adalah mantan pejabat Belanda di Hindia Belanda. Ia meminta Droogstopple menerbitkan tulisannya tentang Hindia Belanda. Droogsstoppel yang awalnya enggan, pada akhirnya setuju karena kepentingannya akan perdagangan kopi.

Droogstoppel meminta Stern menyusun tulisan-tulisan itu. Lewat cerita yang disusun Stern-lah kita dikenalkan dengan tokoh Havelaar. Cerita ini ada dalam bab keenam hingga awal bab kesembilan.

Sepanjang bab tersebut diceritakan Lebak adalah negeri di pedalaman Jawa yang subur namun penduduknya hidup miskin karena kesewenang-wenangan pejabat pribumi. Pejabat Belanda yang menganggap pejabat pribumi ‘adik’ tak kuasa melawan. Sebab untuk mengabadikan kekuasaan di tanah jajahan, Belanda harus bekerja sama dengan mereka. Orang Jawa masih menganut sistem feodal, rakyat patuh terhadap perintah adipati.

Itulah narasi Stern, pembaca dihadapkan oleh pandangan Stern tentang kolonialisme. Namun setelahnya kita akan dikaburkan oleh pandangan Droogstoppel. Menurutnya kemisikinan di Jawa ialah karena orang Jawa kafir sehingga tidak diberkahi Tuhan. Selain itu juga mereka tidak bekerja keras sebagaimana perintah Tuhan. Karenanya, menurut Droogstoppel Belanda harus punya misi menyebarkan agama Kristen di Jawa.

Pada bagian selanjutnya Stern ceritakan Havelaar yang tidak sepakat dengan sistem kerja paksa. Melalui sistem itu sesungguhnya Belanda mendapat biaya perang. Di sisi lain sistem ini menyengsarakan rakyat. Oleh karenanya Havelaar menyebut Lebak miskin bukan karena tanahnya yang tidak subur, bukan karena kemarau, namun karena pemerintahnya salah urus.

Akhirnya diceritakan Havelaar mengundurkan diri karena laporannya tentang kesewenang-wenangan (rodi) oleh Bupati Lebak, Adipati Karta Nagara terhadap penduduk Lebak tidak digubris Residen Banten.

Tentang pemakaian tenaga kerja rodi ini pun ditanggapi berbeda oleh Droogstoppel. Ia bersikukuh bahwa pemakaian tenaga kerja yang banyak (bahkan sampai beratus-ratus) untuk pemeliharaan rumah adalah sukarela. Sedangkan Stern berpandangan sama dengan Havelaar.

Namun ada yang seharusnya ditambahkan Multatuli dalam bagian ini. Yakni ruang bagi adipati untuk berbicara atau ruang bagi rakyat sebagai korban bersuara. Sehingga kita tak hanya disajikan dengan pikiran-pikiran Havelaar saja. Sebab dengan itulah akan lebih tidak berat sebelah tuduhan ini.

Sikap antikolonial memang diperlihatkan Havelaar dan Stern, namun dengan tidak memberi ruang orang Jawa bersuara sedikit pun dalam novel ini sama saja menganggap mereka lemah hingga suara mereka pun harus diwakilkan pada Havelaar. Ini memperlihatkan bagaimana Timur dalam pandangan Barat dalam pikiran penulisnya.

Walau demikian, novel ini mengajak kita memperdebatkan benarkah orang Jawa dianiaya pada masa pemerintahan Hindia Belanda? Benarkah kebijakan tanam kopi di Jawa? Benarkah residen dan pejabat pribumi menggunakan tenaga rodi? Benarkah telah terjadi perampasan dan penyalahgunaan oleh pembesar/pejabat terhadap rakyat Jawa. Dengan pandangan dan argumennya masing-masing tokoh saling berbantah-bantahan dengan mengemukakan bukti-bukti.

Mereka membenarkan pendapat dan pemikirannya masing-masing tentang Timur dan orang-orangnya. Cara ini membawa pembaca pada pengertian tentang pluralitas kebenaran daripada kemutlakan kebenaran. Meski demikian, novel ini akhirnya membenarkan pandangan Multatuli.

Pandangan Multatuli hadir di akhir cerita. Ia muncul tiba-tiba mengambil alih cerita dan di akhir ia mempertanyakan apakah memang kekaisaran Belanda melegalkan kesewenang-wenangan di Hindia Belanda.

Secara keseluruhan, Max Havelaar memang bercerita tentang antikolonialisme. Namun antikolonialisme yang diperjuangkan masih pada sebatas pembebasan kelas. Ya, hanya tentang dihapuskannya rodi. Belum pada protes tentang pendudukan Belanda di Hindia Belanda. Sebab Max Havelaar lewat sudut pandang Stern sempat dinyatakan perlunya kenaikan gaji untuk pejabat jika mereka tidak ingin penyalahgunaan tenaga masih terjadi, bila masih ingin menegakkan kekuasaan.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).