BOPM Wacana

Mama Herlin: Saya Pemulung Sampah, Kelak Anak Saya Pemulung Ilmu

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Franky Febryanto Banfatin

Tidak Pernah Malu Jadi Pemulung

Sore itu langit jingga tampak cerah memayungi bumi. Di antara lalu lalang para mahasiswa USU yang tampak lelah selepas kuliah, tampak satu dua orang membawa karung plastik besar. Wajah mereka dua kali lipat lebih lelah dengan peluh yang bercucuran membasahi baju longgar kumal yang dikenakan. Kulit mereka hitam terbakar matahari, rambut mereka begitu kusam memberi kesan bahwa mereka adalah pekerja di bawah terik. Langkah mereka terkadang pelan dan lambat ketika mengoreki tempat sampah dan parit namun seketika dapat tergesa-gesa ketika melihat mahasiswa membuang sampah yang mereka cari. Dengan lihai mata mereka pun tak lepas menyisir tiap sudut kampus untuk barang incaran mereka. Barang yang bagi kita hanyalah sampah namun bagi mereka adalah berkah.

Merekalah para pemulung botol atau gelas plastik air mineral bekas yang biasa disebut pemulung botot. Salah satu di antara mereka adalah Mama Herlin.

Hampir setiap hari tanpa jeda wanita ini mengelilingi setiap fakultas di USU. Tak peduli panasnya matahari maupun dinginnya guyaran hujan, dia tetap bekerja demi kelangsungan hidup keluarga yang dicintainya. Pekerjaannya sebagai seorang pemulung botot baginya bukanlah pekerjaan hina. “Selama pekerjaan ini halal, bagi saya itu baik Koruptor bagi saya itu lebih hina,” ungkapnya.

Senyum manis yang terhias di wajah mungilnya cukup memaparkan kesungguhan hatinya dalam bekerja. Baginya pekerjaan ini sangat menyenangkan karena Mama Herlin dapat sekaligus membersihkan USU. “Saya tidak pernah malu. Buat apa malu? Pekerjaan saya ‘kan membersihkan sampah bukan menambah sampah,” kata wanita kelahiran 3 Maret 37 tahun silam ini.

Ibu yang bernama lengkap Mardelin Batubara ini setiap harinya bekerja selama dua kali untuk menjadi pemulung botot di USU. Dimulai dari jam enam pagi, istirahat jam sebelas siang, lalu dilanjutkan pada pukul dua siang hingga sore hari. Berjalan menyusuri USU lalu memulung botot sudah dilakukannya sejak awal tahun 2007. Lagi-lagi faktor ekonomi menjadi pemicu utamanya. “Maklumlah, suami saya kan hanya tukang becak. Anak saya tiga. Kami orang miskin pula, jadi inilah yang saya lakukan untuk membuat keluarga kami lebih sejahtera,” terangnya.

Istri dari bapak Duhut Telambanua ini mengakui pendapatannya dengan menjual botot yang dia kumpulkan secara rata-rata dapat mencapai 30 ribu per hari. Pendapatan itu didapat dari jumlah kiloan botot yang diperoleh. “Satu hari saya dapat mengumpulkan sekitar 5 kilogram. Satu kilogram botot dihargai enam ribu,” jelasnya.

Ilmu Dapat Diambil dari Sampah

Wanita asal Kutacane ini tergolong penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Disebut PMKS karena Mama Herlin termasuk ke dalam keluarga fakir miskin dengan rumah tak layak huni yang ditinggalinya bersama seorang suami dan tiga orang anaknya di daerah Kampung Susuk 7. Rumah kontrakan yang mereka tinggali hanya berukuran 5 x 5 meter berdinding kayu namun uang bulanan yang harus dibayar mencapai 100 ribu rupiah per bulan. “Bagi saya ini berat, anak saya semuanya sekolah. Asuransi kesehatan masyarakat miskin dan bantuan langsung tunai saja kami tidak dapat. Padahal kami mengharapkan dan membutuhkannya. Orang rumah gedung di lokasi rumah kami bisa dapat, kok kami tidak,” ungkap dia.

Walau begitu Mama Herlin yang memiliki prinsip semangat dalam hidupnya ini tidak terlalu memprotes pemerintah. Dia hanya berdoa dan tetap bekerja dengan jujur. “Salah saya juga, mengapa dulu saya tidak mau sekolah, mengapa saya tidak mau belajar. Akhirnya begini, saya jadi bodoh dan miskin. Saya tidak ingin anak-anak saya seperti saya. Mereka harus sekolah, belajar, dan jadi pintar. Syukur-syukur kalau jadi orang kaya,” ungkap wanita lulusan SMP Kutacane ini diselingi tawa jenakanya yang renyah.

Mayoritas orang tua keluarga miskin yang bekerja di jalanan ataupun sebagai pemulung selalu menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti jejak orangtuanya. Namun Mama Herlin berbeda. Dia tidak ingin anak-anaknya seperti dia dan tidak meyarankan ketiga anaknya untuk menjadi pemulung juga. Dia belajar dari pengalaman. Lebih baik dia bekerja apa saja yang halal dan jujur asalkan anak-anaknya dapat terus belajar dan tidak putus sekolah. “Anak saya yang paling besar sudah kelas dua SMP dan yang paling kecil kelas empat SD. Saya ingin mereka semua dapat gelar sarjana dan sukses,” tutur Ibu dari Lina, Devi, dan Yosua Telambanua ini.

Mama Herlin adalah ibu yang selalu menjadi terang bagi keluarganya. Pendidikan yang baik menurutnya adalah obat ampuh kemiskinan di negeri ini. Dia selalu menyuruh ketiga anaknya untuk rajin membaca buku dari buku-buku bekas yang juga dia sering dapatkan di tempat sampah dan menyarankan anaknya untuk berlatih bahasa inggris dari sumber apapun termasuk sampah.

Jiwa seorang pemimpi positif memang dapat terpancar dari tindakan beliau yang dimulai dari sebuah harapan. Mama Herlin memancarkannya. Aroma keringat menyengat serta semerbak aroma lembab kumpulan botot dari karung besarnya membuat itu tidak berarti karena semangat hidupnya itu.

“Ilmu juga bisa didapatkan dari sampah. Walaupun saya pemulung sampah, saya ingin ketiga anak saya jadi pemulung ilmu,” katanya menutup pembicaraan di selasar kantin FISIP USU yang mulai menggelap sore itu.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).