BOPM Wacana

Lampuki, Kampung Aceh Penuh Pergolakan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Fredick Broven Ekayanta Ginting

2013 - LampukiJudul Buku: Lampuki

Penulis: Arafat Nur

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Jumlah Halaman: 433 Halaman

Tahun Terbit: 2011

Harga: Rp 49.000

Pasca jatuhnya era Orde Baru, Aceh memasuki masa-masa penuh gejola, di mana Aceh menginginkan terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Secuil gejolak terjadi di sebuah kampung bernama Lampuki.

Novel ini bercerita tentang kisah kehidupan di kampung bernama Lampuki (berada di wilayah Pasai), yang perangai masyarakatnya sangat buruk. Keburukan itu diperparah dengan kondisi Aceh yang sungguh tidak kondusif pada masa itu, saat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memberontak dan berperang dengan Tentara Nasional Indoneisa (TNI).

Sang tokoh utama, Teungku Muhammad, menyebut manusia-manusia di Lampuki beringas, rangah, pongah, angkuh, dan berhasrat untuk saling menghancurkan diantara mereka.

GAM yang dipimpin Hasan Tiro juga memiliki wakil atau bisa disebut pemberontak di Lampuki. Adalah Ahmadi, seorang pria bermuka sangar dan berkumis tebal yang sangat berhasrat meniadakan TNI dan pemerintah Indonesia di Aceh. Ia menginginkan Aceh berdiri sendiri. Dalam pikirannya Aceh dahulu adalah kerajaan yang agung dan gemilang.

Kemasyhurannya itu sampai ke belahan penjuru dunia manapun. Aceh juga sangat berbaik hati dengan Indonesia – disebut dengan kampung seberang pulau dalam novel ini. Emas dan pesawat terbang diberikan oleh Aceh, namun kampung seberang pulau itu malah menyerang Aceh dengan cara menduduki Aceh sehingga menghasilkan kekhawatiran bagi Aceh. Hal tersebut menimbulkan dendam yang mendalam dalam hati Ahmadi.

Sejarah panjang kegemilangan Aceh dan sejarah kemunafikan kampung seberang pulau menjadi topik ceramah Ahmadi kepada anak-anak di Lampuki. Seorang anak bernama Musa terhasut dan bergabung dengan Ahmadi menjadi pemberontak. Ahmadi sebagai pemimpin pemberontak bersama pengikutnya berlatih di tengah-tengah belantara hutan Aceh selama berbulan-bulan. Walaupun kekurangan makanan, mereka masih mampu bertahan hidup.

Di sela-sela latihan mereka, Ahmadi kerap memerintahkan anak buahnya untuk menyerang para tentara yang berjaga di pos kampung Lampuki. Akibatnya penduduk desa menjadi sasaran amuk tentara yang beranggapan penduduk kampung itulah pemberontak yang menyerang mereka.

Puncak kisah dalam novel ini adalah ketika Ahmadi dan pengikutnya menyerang tentara secara ganas. Kejadian tersebut memantik kemarahan yang besar pada tentara. Ratusan tentara dikerahkan untuk menduduki Lampuki dan membuat kampung Lampuki semakin mencekam. Ahmadi sempat kembali ke rumahnya di Lampuki pada malam hari, dan pada waktu Subuh ia kembali menuju hutan.

Namun saat itu baku tembak terjadi dan diduga Ahmadi bersama pengikutnya tewas di tangan para tentara. Teungku menggambarkan sesudah itu seluruh penduduk dicengkram kecemasan hebat, kalut, sedih, dan pasrah. Lampuki seolah menjadi dunia tak berpenghuni, dan semua makhluk bagai sudah mati.

Sebagai novel pertama ber-genre perjuangan yang ditulis Nur, novel ini mampu menyentuh hati dan deskripsi kata-kata yang digunakannya mampu membawa pembaca membayangkan latar Lampuki dan Aceh saat itu.

Novel ini sebenarnya adalah sebuah satir cerdas tentang konflik antara tentara kampung seberang pulau dan kelompok pemberontak atau gerilyawan yang pada ujungnya menyengsarakan orang-orang kecil tak berdosa. Penulis menggambarkan kondisi di Lampuki dengan pedas dan menyentil, berkali-kaili penulis menyebut penduduk di Lampuki dengan kata-kata yang kurang pantas. Inilah yang menjadi kelemahan novel ini.

Meski demikian, novel ini juga ditulis dengan rasa humor yang cerdas dan bahasa yang lincah. Berkali-kali pembaca akan tersenyum dan tertawa dengan diksi yang dipilih penulis. Tidak terlihat penggambaran hitam-putih walaupun kental terasa keberpihakan kepada penduduk Lampuki, yang berperangai buruk dan lemah. Nur dengan Lampuki-nya ini sendiri adalah pemenang unggulan sayembara menulis novel yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta pada 2010.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).