BOPM Wacana

Kudeta Presiden, Paniknya SBY Hingga Pengalihan Isu

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Ridho Nopriansyah

Bulan Maret ini, Isu kudeta terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) santer diberitakan di berbagai media nasional. Seperti dilansir Majalah Tempo edisi 18-24 Maret, isu ini pertama sekali muncul setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan akan adanya aksi besar-besaran oleh Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) yang dipimpin aktivis Ratna Sarumpaet pada 25 Maret lalu. Info ini diperoleh presiden berdasarkan laporan dari Badan Intelijen Negara (BIN). Namun, aksi yang disebut-sebut akan menurunkan Presiden SBY ini gagal dilakukan. Dikutip dari metrotvnews.com, batalnya aksi tersebut karena MKRI tidak mengantungi izin aksi dari pihak kepolisian. Oleh berbagai kalangan, pelemparan bulat-bulat isu kudeta ini terhadap publik mendapat respon beragam. Lantas, bagaimana respon yang ditunjukkan mahasiswa Universitas Sumatera Utara?

Niko Sianipar – Fakultas Ekonomi 2008

Niko SianiparBeberapa tahun terakhir kredibilitas Susilo Bambang Yudhoyono memang menurun. Banyak hal yang menyebabkan ini, salah satunya kemelut yang sedang melanda Partai Demokrat. Seperti kasus korupsi proyek Hambalang, tersangkanya kankebanyakan oknum Demokrat. Jelas saja ada isu kudeta. Tapi saya tidak setuju kalau kudeta jalan tengahnya, malu. Lagian presiden juga jangan melempar isu kudeta begini. Rakyat jadi resah. Atau jangan-jangan ini pengalihan isu, siapa tahu?

 

 

 

Roni – Fakultas Ilmu Budaya 2009

RoniKudeta itu buruk, tidak ada yang bisa dibanggakan dari kudeta. Ibarat menang jadi arang, kalah jadi abu. Saya yakin secara nyata memang tidak akan ada kudeta. Hanya pembersihan pemerintahan saja. Di beberapa artikel memang disebutkan akan ada penggalangan massa dalam jumlah besar. Saya anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tapi enggak ada kok anak HMI USU yang turun. Saya setuju dengan pembersihan ini. Presiden terlalu panik dan berlebihan sampai mengumpulkan jenderal segala.

 

 

Martha Elnist – Fakultas Kesehatan Masyarakat 2011

Martha ElnistWajar saja jika isu kudeta menyerang presiden. Soalnya kinerja beliau yang hampir sepuluh tahun memimpin Indonesia gitu-gitu saja. Lihatlah korupsi merajalela, dari partainya pula. Rakyat masih banyak yang miskin. Angka-angka boleh bilang kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia bagus, tapi fakta di lapangan, rakyat kelaparan juga. Pendidikan mahal juga. Dua periode sebagai presiden bukannya makin baik, tapi justru kebalikannya. Kudeta saja. Turunlah saja Pak!

 

 

 

Ira – Fakultas Hukum 2012

IraPak SBY itu pilihan kita, rakyat yang memilih. Kalau dikudeta berarti rakyatnya juga tidak konsisten. Tunggu sajalah sampai masa jabatan presiden habis. Tahun depan juga bakal diganti. Sebetulnya peran MPR yang terhormat sebagai lembaga legislatif yang juga berperan sebagai korektor atas kinerja lembaga eksekutif seperti presiden. Kembalilah kepada salah satu falsafah pancasila. Diselesaikan secara diplomatis, musyawarah untuk mufakat. Jangan aksi aja. Lagian di sila ke empat sudah jelas diatur bahwa peran lembaga perwakilan rakyat itu jelas sebagai perpanjangan tangan rakyat. Sampaikan ke mereka keluh kesah kita. Harapannya juga pihak MPR RI yang terhormat juga bela rakyat lah

 

 

Khirzun Nufus – Fakultas Psikologi 2012

Khirzun NufusKudeta itu mungkin saja terjadi melihat perkembangan politik baik di Indonesia maupun dunia. Tetapi saya menyayangkan adanya isu kudeta ini. Sebenarnya ini aib loh bagi Indonesia. Kudeta itu jalan keluar terburuk dari segala macam pilihan. Dengan adanya isu kudeta ini yang resah enggak rakyat aja, bisa jadi investor, pihak kedutaan dari berbagai negara di dunia. Ini taruhannya nama Indonesia di mata internasional. Ini memang ekspresi kekecewaan rakyat akibat maraknya korupsi. Tapi perlu diingat, sekarang itu kasus korupsi terkuak loh. Ini justru kemajuan, dulu adem ayem enggak ada pemberitaan tapi dalamnya bobrok.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).