BOPM Wacana

Kesaksian Gamblang ‘Mata’ Seno Gumira

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Nurhanifah

Judul : Saksi Mata
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Bentang
Tahun terbit : April 2016
Jumlah halaman : 158 halaman
Harga : Rp44.000

 

Foto: Nurhanifah

Tidak ada cara lain bagi saya, yang kebetulan mengetahui semua faktanya (di Timor Leste), datanya (tindak kekerasan oleh aparat) untuk mengungkapkapnya. – Seno Gumira

Peristiwa The Dili Massacre pada 12 November 1991 merupakan peristiwa penting bagi Seno Gumira Ajidarma. Sebagai wartawan ia menyaksikan semua kisah dengan nyata, mendapat jawaban-jawaban dari penguasa dengan jujur. Walau akhirnya Jakarta Jakarta—media saat ia meliput kejadian itu—telah tak terbit, kebenaran tetap ia ungkapkan melalui cerpennya.

Ia sadar dan paham kala itu jurnalisme sedang dibungkam, maka ia ungkap dengan gamblang kejadian tersebut melalui cerpen. Uniknya dalam enam belas cerpen tersebut tak ada satu kata maupun penjelasan tersirat mengenai lokasi kejadian. Pembaca hanya disuguhkan kisah tragis dan berdarah tanpa tahu di mana kisah ini bermula.

Semangatnya untuk melawan ketakutan atas nama harga jiwa manusia, menjadi alasan terciptanya cerpen-cerpen ini. Pun, cerpen-cerpen ini telah dimuat di berbagai media massa, di antaranya Kompas (delapan cerpen), Suara Pembaruan (dua cerpen), Republika (dua cerpen), dan Majalah Matra, Horison, Basis, dan Hidup (masing-masing satu cerpen). Sebelum akhirnya diterbitkan menjadi satu dalam Saksi Mata.

Dimulai dengan cerpen Saksi Mata, sebuah kisah di pengadilan tentang kesaksian seseorang yang tidak memiliki mata. Dituturkan melalui percakapan-percakapan antara saksi dan hakim. Jawaban-jawaban jujur dari saksi justru membuat kita mengangkat alis atau justru tertawa. Tapi, sungguh sisi tragis sebuah kehidupan tergambar jelas di dalamnya. Apalagi saat membaca penutupnya, bisa jadi kita meringis.

Lalu ada kisah surat menyurat dari sepasang kekasih mengenai keadaanya di medan perang. Hadiah manis yang bikin kita meringis diceritakan dalam Telinga. Sungguh Seno membuat kita berperang mengartikan bagaimana pahlawan itu sebenarnya? Ia meminta kita jujur pada hati nurani.

Berikut potongan tulisannya: Kukirim telinga ini untukmu, Dewi, sebagai kenang-kenangan dari medan perang. Ini adalah telinga seseorang yang dicurigai sebagai mata-mata musuh. Kami memang biasa memotong telinga orang-orang yang dicurigai sebagai peringatan atas risiko yang mereka hadapi jika menyulut pemberontakan.

Surat yang manis sekaligus menyakitkan. Perlakuan tak pantas tapi justru diagungkan, sebab di medan perang beberapa orang menganggapnya pahlawan. Hanya beberapa.

Belum lagi kesakitan yang dialami seorang ibu menunggu kepulangan anaknya dari medan perang dalam ‘Maria’. Betapa ia selalu berharap dan berdoa akan keselamatan buah hatinya, meski beberapa orang menganggap harapannya sia-sia. Ia tetap setia menunggu, tak peduli pada waktu. Yang ia tahu dan mau hanya anaknya akan kembali. Kapan? Biar waktu yang menjawab.

Tuhan tak buta, harapan Maria terkabul pertemuan itu terlaksana. Namun sayangnya perang membiaskan cinta dan kasih sayang pada mereka—Maria dan Antonio.

Seno paham kesaksian ini harus diungkap sejelas-jelasnya. Baik korban maupun penguasa punya tempat yang sama. Mereka punya andil sejajar dalam sejarah untuk bersaksi.

Maka berkisahlah seorang pensiunan Jendral dalam Darah Itu Merah, Jendral. Sang Jendral menceritakan bagaimana perasaannya lewat dialog dengan wartawan, keluhannya ketika membaca media massa, kisahnya di medan perang yang penuh dengan perjuangan, serta pembelaan atas kehilangan yang dialami keluarganya saat berperang.

Seno sertakan juga cuplikan percakapan yang sebelumnya telah dimuat dalam rubrik Sebagian Kehidupan majalah Jakarta Jakarta, Juli 1993. Begini cuplikannya: Lho jujur saja memang begitu. Sekarang saya punya rumah, punya mobil, itu semua dikasih. Saya tidak malu. Ada orang datang sambil bilang, “Pak, ini mobil, terima kasih saya dikasih proyek.” Saya terima saja, tidak malu.

Meski Seno bilang ini hanya sebuah cerpen, tapi sungguh saya merasa ini seperti sebuah pengakuan yang memalukan. Semoga tak ada lagi kisah seperti ini di negeri khatulistiwa. Semoga.

Seno terlalu pandai merangkai kisah menjadi perpaduan yang memikat. Penyampaian yang jujur dan gamblang membuat kita mudah memahami keadaan masa itu, merasakan sakit yang dialami korban. Bahkan tanpa sadar kita ikut menjadi saksi lewat cerpen-cerpen Seno. Atas kepiawaiannya tersebut, buku ini mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 1995 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan serta dalam terjemahan bahasa Inggris-nya berhasil mendapatkan Dinny O’Hearn Prize for Literaty Translation.

Kepiawaian tersebut juga dapat Anda nikmati lewat cerpen Manuel, Salvador, Rosario, Listrik, Pelajaran Sejarah, Misteri Kota Ningi (Atawa the Invisible Christmas), Klandestin, Seruling Kesunyian, Salazar, Junior, Kepala di Pagar Da Silva, dan Sebatang Pohon di Luar Desa.

Enam belas cerpen tersebut merupakan kisah lalu, tapi tetap tidak bisa dibiarkan begitu saja berlalu. Keadilan berhak diperjuangkan. Selamat bersaksi!

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).