BOPM Wacana

Kejutan dalam Kisah Setengah Fabel

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Nurhanifah

Judul : O
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Maret 2016
Jumlah halaman : 470 Halaman
Harga : Rp99.000
Foto: Dewi Annisa Putri

Eka Kurniawan tak pernah kehabisan akal mengenai ide. Kali ini ia hadir lewat karya setengah fabel yang penuh dengan kejutan-kejutan melalui berbagai sudut pandang.

Eka Kurniawan butuh delapan tahun untuk menyelesaikan O. Waktu yang lama, namun hasilnya sebanding dengan proses tersebut. Eka suguhkan kisah setengah fabel yang penuh kejutan. Bagaimana tidak, kritik sosial ia suguhkan begitu apik lewat berbagai sudut pandang tokoh.

Pembaca bisa mati penasaran saat membaca sinopsis di belakang buku; tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut. Lantas bertanya-tanya bagaimana bisa mereka bersatu, manusia dan monyet? Bagi Anda penggemar setia karya Eka Kurniawan selamat berpetualang.

Sungguh karya ini sangat berbeda dengan sastra magisnya–Cantik Itu Luka—maupun Lelaki Harimau. Jika Cantik Itu Luka hadir dengan campuran sejarah, maka O hadir dengan kisah setengah fabel. Dua ide yang sangat berbeda.

Kisah ini dimulai dengan ‘penembakan’ yang dilakukan Entang Kosasih ke arah Sobar si polisi. Pertunjukan menarik yang membuat monyet-monyet senang sebab Entang memiliki mainan baru, tetapi membuat Sobar pusing merebut kembali revolvernya dari tangan monyet tanpa mengancam nyawanya.

Penembakan itu nampaknya sudah direncanakan jauh-jauh hari. Entang begitu terobsesi dengan Armo Gundul, seekor monyet yang menjadi manusia. Ia bertekat ingin mengikuti jejaknya, perlu sebuah pembuktian agar impiannya tercapai. Maka dengan revolver milik Sobar ia menguatkan niatnya. Pikirnya jika berhasil menembak Sobar, ia akan menjadi manusia.

Di tengah penembakan, revolver mengajak Entang berdiskusi. Ia tak sampai hati mengeluarkan peluru untuk majikannya. Ada permainan perasaan yang membuatnya mengurungkan niat untuk menjadikan Sobar sebagai korban. Hanya saja diskusi tersebut tak berbalas, Entang tak paham bahasa revolver. Pun, revolver ceritakan hari-hari yang dilaluinya bersama Sobar.

Masih dalam waktunya yang sama, namun diceritakan melalui sudut pandang yang berbeda. Sungguh pesta yang meriah, dan membuat kita terkaget-kaget. Permulaan yang mengundang tanda tanya bagi pembaca.

Ya, Anda akan disuguhkan kisah-kisah yang saling berkaitan den penuh kejutan dalam setiap babaknya. Meski kisah utama adalah perjuangan O untuk menemukan Entang, kekasihnya yang menghilang secara misterius. Diduga telah berhasil berubah menjadi manusia. Masih ada kisah fabel lainnya yang menjadi bonus tambahan sebagai nikmat proses perjalanan yang di dapat O sebelum peroleh hasil.

Proses ini dimulai dari perjalanan O menjadi topeng monyet dengan Butalumur. Alasan O menjadi topeng monyet sederhana sebab ia akan dilatih menjadi manusia oleh sang pawang. Ia berperan sebagai ibu yang berjalan ke pasar, sekaligus serdadu yang siap menembak musuh. Bahkan ia didAndani lengkap seperti manusia, menggunakan daster dan keranjang belanja sebagai ibu, serta memegang senapan saat menjadi serdadu.

Dalam pertunjukan tersebut O bertemu dengan Kirik, seekor anjing yang membuatnya geram. Bukan tanpa alasan, Kirik memintanya untuk kabur dari pawangnya. Ah, tak tahu Kirik betapa sulit perjuangan O untuk menjadi manusia. Pertemuan berulang dengan pernyataan yang sama. Kirik ingin meyakinkan O bahwa menjadi budak manusia adalah salah.

Lagi pertemuan dengan Siti seekor burung kakatua yang selalu giat mengingatkan Betalumur untuk mendirikan salat. Ia selalu mengulang kalimat yang sama setiap waktu “Dirikan salat! Dirikan salat!”. Bisa jadi setelah mengetahui alasan Siti mengucapkan itu Anda akan geleng-geleng kepala dan berteriak edan!

Semoga Anda tidak lelah menikmati kejutan-kejutan di setiap babaknya. Sulit menemukan kelemahan buku ini, sebab Eka terlalu jeli menutupi semua celah. Ia benar-benar mengaduk-aduk pikiran kita, mengkritik segala hal yang bisa jadi kita anggap biasa lewat tokohnya.

Mengapa setengah fabel? Sebab manusia juga punya peran dalam kisah ini. berbagai babak, dimulai dengan sudut pandang yang berberda-beda. Manusia, hewan, dan benda.

Bisa jadi akhir cerita membuat Anda menganguk-angguk atau justru bergumam sial! Ah, nampaknya saya tak pantas menerka-nerka apa yang akan Anda lakukan saat dan setelah membaca kisah ini. Namun percayalah Anda tak akan menyesal menikmati kisah ini. Eka selalu berhasil membuat semua bukunya terasa berbeda tetapi tetap khas.  Selamat bertualang dan selamat membaca!

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).