BOPM Wacana

Kedutaan Besar Australia Gelar Festival Sinema Australia Indonesia di Medan

Dark Mode | Moda Gelap
Para tamu undangan dalam kegiatan FSAI berfoto bersama Duta Besar Australia untuk Indonesia sebelum penayangan di CGV Focal Point, Medan, Rabu (13/5/2026). | Dwi Yolanda Naro Situmorang
Para tamu undangan dalam kegiatan FSAI berfoto bersama Duta Besar Australia untuk Indonesia sebelum penayangan di CGV Focal Point, Medan, Rabu (13/5/2026). | Dwi Yolanda Naro Situmorang

Oleh: Dwi Yolanda Naro Situmorang

Medan, wacana.org – Kedutaan Besar Australia menggelar Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 di CGV Focal Point, Studio 6 Focal Point Mall Medan, Rabu (13/05/26).

Penyelenggaraan FSAI di tahun ini sudah memasuki tahun ke-11. Festival ini menghadirkan film-film kontemporer terbaik dari Australia dan Indonesia untuk ditayangkan di 11 kota di Indonesia, termasuk Medan.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, mengatakan bahwa FSAI merupakan bentuk komitmen dan konsistensi kolaborasi kreatif antara Indonesia dan Australia. “Setiap tahun FSAI hadir dengan kemitraan, audiens, dan lokasi baru, termasuk Medan,” ujarnya.

Rod juga menyatakan selain pemutaran film panjang, FSAI juga menampilkan film-film pendek karya peserta Short Course Australia Awards yang mengikuti produksi film di Australia pada tahun lalu. “Melalui karya mereka, terlihat bagaimana pendidikan dan pengalaman lintas budaya berkontribusi pada lahirnya pencapaian kreatif,” ujarnya.

Festival ini menayangkan dua film sekaligus. Dibuka dengan penayangan Beyond The Reef, film dengan gaya dokumenter yang menceritakan petualangan Shuang Hu ke salah satu lokasi paling indah di dunia, Great Barrier Reef. Serta satu film lain karya alumni asal Medan, Bulan di Tepian Surga.

Salah satu alumni Short Course Australia Awards di bidang film, sekaligus produser film pendek Bulan di Tepian Surga, Yuh Rohana Meliala, menyebutkan film adalah salah satu hobi yang mahal, sebab butuh puluhan juta untuk memproduksi satu film pendek.

Yuh juga menjelaskan film ini merupakan award project sutradaranya, Rai Pendet, saat bertemu di Short Course Australia Awards. “Film ini menceritakan penari tradisional Bali yang melestarikan budayanya, tetapi mendapati dirinya terjebak dalam kehidupan yang penuh kesulitan,” paparnya.

Seorang guru sekaligus alumni BRIDGE Australia-Indonesia, Lince Nainggolan, menyampaikan rasa bahagianya saat turut menyaksikan kedua film tersebut. “Semoga kita dan seluruh masyarakat dapat menjaga dan tetap melestarikan ekosistem daratan dan lautan,” ungkapnya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus