BOPM Wacana

Kampus Merdeka, Apa Kata Mahasiswa USU?

Dark Mode | Moda Gelap

Kampus Merdeka pertama kali diluncurkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemindukbud) pada tahun 2020. Kampus Merdeka muncul sebagai salah satu bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang diusung oleh Kemendikbud dengan harapan melalui program-program yang disediakan nantinya mahasiswa dapat mengasah minat dan bakatnya hingga dapat pengalaman kerja sebagai pegangan sebelum terjun langsung ke dunia kerja nyata.

Ada sebelas program yang ditawarkan oleh Kemendikbud melalui program Kampus Merdeka: Wirausaha, Studi Independen, Riset dan Penelitian, Proyek Kemanusiaan, Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Pejuang Muda Kampus Merdeka, Membangun Desa, Magang, Kementrian ESDM – GERILYA, Kampus Mengajar, Indonesia International Mobility Awards.

Melalui program-program ciamik tersebut, banyak mahasiswa yang tertarik untuk ikut serta menyukseskannya. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah peserta salah satu program Kampus Merdeka yaitu Magang dimana pesertanya lebih dari 13.000 mahasiswa.

Namun sayangnya program dengan ide-ide cemerlang tersebut tidak dibarengi dengan eksekusinya yang mulus. Melalui sosial media, banyak mahasiswa yang mengeluhkan kendala-kendala yang mereka hadapi. Mulai dari masalah konversi SKS yang mengalami kendala hingga yang paling ramai diperbincangkan yaitu permasalahan uang saku.

Kampus Mengajar, Magang, Pertukaran Mahasiswa, dan Studi Independen. Peserta keempat program tersebut belum mendapatkan uang saku sesuai dengan rentang waktu telah mengikuti program tersebut. Namun, dikabarkan masih ada program Kampus Merdeka diluar keempat di atas yang pesertanya belum mendapatkan uang saku semestinya.

Lalu, seperti apa sih kata mahasiswa USU tentang Kampus Merdeka ini? Yuk, baca selengkapnya di bawah ini.

Alleru Salomo Artahsasta Simanjuntak – Fakultas Hukum 2020

Program Kampus Merdeka khususnya Pertukaran Mahasiswa merupakan program yang menurut saya sangat bagus. Hal ini dikarenakan mahasiswa bisa memperluas kesempatannya dalam mempelajari ilmu yang tidak ada di fakultasnya atau pun hanya ada di kampus tertentu. 

Mengenai manfaat dalam memperluas peluang belajar, salah satu teman saya yang merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU, namun dia memiliki ketertarikan terhadap filsafat. Dengan memanfaatkan program Kampus Merdeka ini, dia pun berkesempatan untuk mengambil salah satu mata kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Selain itu, relasi yang didapatkan juga sangat membantu menambah jaringan yang lebih luas.

Dengan keuntungan-keuntungan yang ditawarkan, harapannya permasalahan-permasalahan seperti konversi SKS, uang saku dan lain-lain segera bisa dibenahi untuk program Kampus Merdeka yang lebih memuaskan.

Lina Sari Siregar – Fakultas Teknik 2018

Program Kampus Merdeka ini kan berawal di masa pandemi, program pertamanya yaitu Kampus Mengajar dimana saya mengikuti program tersebut. Banyak program-program Kampus Merdeka yang nantinya bisa ditukar ke konversi SKS sesuai dengan kebijakan masing-masing program. Jadi, secara keseluruhan Kampus Merdeka ini merupakan program yang bagus karena mahasiswa bisa tahu dan menganalisis kebutuhan masyarakat.

Saya merasa inilah tujuan pemerintah membuat program tersebut (Kampus Mengajar –red), bahwa mahasiswa bisa berbagi ilmunya kepada adik-adik. Selain itu, Kampus Merdeka merupakan salah satu ajang mahasiswa untuk berkompetensi dengan diri sendiri yaitu apakah diri mahasiswa ini mampu mengikuti program ini untuk mengembangkan dirinya atau tidak.

Sejauh ini, Kampus Merdeka bisa menjadi pintu untuk mahasiswa terjun di dunia kerja. Ketika kita ditetapkan untuk masuk di suatu company dan ternyata kerja kita bagus di company tersebut. Hal itu akan membuka peluang kita untuk direkrut oleh perusahaan tersebut. 

Di kampus kita sendiri masih ada kendala di konversi SKS, saya saat itu tidak bisa melakukan konversi SKS. Setelah ditanya ke dosen ternyata apa yang diajarkan di SD tidak selaras dengan mata kuliah yang ada di jurusan saya. Padahal saat itu Pak Nadiem pernah mengatakan bahwa harusnya tidak ada tawar menawar tentang konversi SKS ini.

Dea Hafizah – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 2020

Bagi saya kampus merdeka ini adalah program yang dimana isinya itu adalah mahasiswa yang ingin belajar dengan merdeka atau sesuai dengan minatnya tanpa ada faktor paksaan dari manapun. Tetapi hal tersebut belum cukup tereksekusi dengan benar, karena masih banyak mahasiswa sekarang yang berjalan dengan keterpaksaan. 

Seharusnya program ini bisa menjadi manfaat yang besar, karena jika kita belajar dengan merdeka atau dengan kata lain sesuai dengan tingkat diri kita masing-masing, saya yakin itu akan berdampak positif sekali. Karena sesungguhnya semua yang diawali dengan keterpaksaan itu akan menimbulkan dampak negatif. Namun program ini belum tersosialisasikan dengan benar. Hal tersebut bisa dilihat dari mahasiswa yang kurang menangkap makna dan tujuan langsung dari Kampus Merdeka ini sendiri.

Valencia Zebua – Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 2018

Manurut saya Kampus Merdeka ini merupakan program unggulan dimana bisa digunakan sebagai wadah mahasiswa berkembang. Sejalan juga dengan tujuannya yaitu merdeka belajar bagi mahasiswa di Indonesia. Mitra-mitra yang bekerja sama dengan Kemendikbud juga bagus dan program yang diusung juga jelas, manfaatnya nyata.

Tapi, mungkin karena ini pilot project, masih banyak kendala yang perlu dijadikan catatan sih, supaya kedepannya program Kampus Merdeka bisa berjalan sesuai dengan ekspektasi mahasiswa dan pihak Kemendikbud juga. Contohnya sistem konversi SKS yang belum jelas, antara pihak Kemendikbud dan universitas ternyata tidak satu suara. Adapula permasalahan uang saku sebagai hak yang harusnya diterima oleh peserta Kampus Merdeka. Terutama untuk mahasiswa magang yang WFO tentunya memerlukan biaya hidup dan transportasi di tempat rantau.

Agus Kurniawan – Fakultas Ilmu Budaya 2019

Kampus Merdeka ini merupakan program baru yang diluncurkan oleh Kemendikbud. Melalui program ini mahasiswa dibebaskan belajar tiga semester di luar program studi untuk menempah diri mahasiswa untuk siap bekerja setelah lulus dari kehidupan kampus. 

Disini saya ikut program Kampus Mengajar. Di program Kampus Mengajar ini sangat bermanfaat bagi saya karena disini saya bisa menjadi pengajar meski saya berasal dari nonpendidikan. Selain bisa mengajarkan ilmu-ilmu yang saya punya, disini saya mendapat ilmu tentang manajemen siswa, cara mengontrol siswa dan lain-lain. Namun, sangat disayangkan masalah konversi 20 SKS hingga saat ini belum ada kejelasannya, yaitu antara Kemendikbud dan universitas ternyata tidak sejalan dalam eksekusinya. 

Salsabila Bunga Purwina – Fakultas Pertanian 2021

Kampus Merdeka sendiri sangat bagus karena nantinya mahasiswa diberikan kesempatan untuk memilih mata kuliah yang ingin mereka ambil, lalu mahasiswa juga boleh melakukan berbagai kegiatan di luar kampus yang nantinya akan diperhitungkan sebagai SKS. 

Dengan di terapkannya Kampus Merdeka ini sendiri, mahasiswa dapat mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat yang mereka sukai dan dapat terjun langsung ke dunia kerja nantinya sebagai persiapan karir untuk di masa depan mahasiswa.

Mikhael Rajagukguk – Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 2018

Terkait Kampus Merdeka, menurutku dari segi pelaksanaannya pastinya ada lebih dan kurangnya, apalagi ini salah satu program baru dari Kemendikbud juga.  Khususnya di magang yang aku tahu, ada uang saku yang diberikan dari LPDP dan mitra terkait. 

Menurutku ini adalah suatu langkah yang bagus. Apalagi sekarang banyak kita temukan kasus-kasus bahwa anak magang tidak digaji atau diberi uang saku. Padahal sebenernya ada UU dari Permenaker yang mengatur tentang ketentuan bahwa mereka yang melaksanakan magang haruslah mendapatkan haknya yaitu berupa uang saku/uang trasportasi/uang makan dan sebagainya. Jadi dengan adanya Kampus Merdeka ini adalah salah satu langkah yang cukup maju untuk merealisasikan UU tersebut.

Namun ada juga kekurangannya, salah satunya dari pelaksanaan teknisnya seperti pengisian formulir data diri dari peserta yang salah dan terhubung dengan sistem informasinya. Seharusnya data yang di-input oleh mahasiswa bisa langsung disinkronisasikan dengan data yang dimiliki Kemendikbud. Seperti saya ini salah memasukkan data dan akhirnya diproses dalam waktu yang lama. Biasa kalau dalam pemerintahan kan kesalahan seperti ini bisa dibenahi dalam seminggu kerja bisa terselesaikan, tidak harus menunggu berbulan-bulan.

Komentar Facebook Anda
Chalista Putri Nadila

Chalista Putri Nadila

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU Stambuk 2018. Saat ini Chalista menjabat sebagai Pemimpin Redaksi BOPM Wacana.