BOPM Wacana

Jurnalis Perubahan

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Angga Pratama

 

Sudah sekian lama bangsa ini dijajah oleh pemimpin sendiri. Tidak ada yang berani mengungkap kezaliman. Semua diam dan memegang  prinsip ‘cari aman’.

Saat itu situasi sedang tidak baik-baik saja. Keadaan yang sangat mencekam terjadi di sebuah negara. Pemberontakan terjadi dimana-mana, satu liter darah menetes tiap harinya. Tatanan negara hancur berkeping-keping tanpa ada bagian yang utuh.

“Bagaimana ini bisa terjadi!?” teriak senator tua dan membanting kertas-kertas tak bersalah yang ada di mejanya.

Dari arah pintu yang masih terbuka, terlihat seorang pria ingin mendekati senator tua itu. “Ini semua akibat ulah kita Pak,” sanggah pria itu sembari merapikan kursi beroda yang ada di dekatnya dan mengutip kertas-kertas yang berjatuhan di lantai ruangan itu.



“Apa katamu!? Pikiranmu sangat primitif, jika kita tidak melakukan hal itu, bagian-bagian kita akan hengkang dari kursi pemerintahan ini. Kamu tahu kan akibatnya apa!?” kata senator tua mencoba mengintimidasi pria itu.

“Tapi Pak, setelah semua rencana hancur begini, kebijakan apalagi yang Bapak lakukan untuk mengamankan posisi kita di pemerintahan ini?” tanya pria itu menatap sinis wajah khawatir dari senator tua.

“Sudah, kamu tenang saja. Besok pagi, kamu panggil jurnalis-jurnalis terbaik di negeri ini, perintahkan dia untuk menghadap saya,” seru senator tua itu. “Untuk apa ?” tanya pria itu mengerutkan dahinya menandakan rasa penasaran pada dirinya.

“Sudahlah, besok kamu akan tahu,” kata senator tua  menambah rasa penasaran pria itu.“Baik Pak,” kata pria itu dengan raut wajah yang masih terlihat bingung.

Pria itu pun keluar dari ruangan tersebut dengan rasa penasaran tingkat tinggi. Ia menerka-nerka apa yang ingin disampaikan senator tua kepada jurnalis itu esok hari. Di sepanjang perjalanan pulang, pria itu masih bertanya tanya dalam hati apa maksud dari senator tua tadi. Di waktu yang sama, pria itu masih melihat kekacauan yang terjadi di negerinya, banyak demonstran dan bentrokan dengan aparat keamanan.

“Kasihan masyarakat di negeri ini, akibat pemimpin yang haus akan kekuasaan dan rela mengorbankan nasib rakyatnya seperti ini, sungguh miris,” kata pria itu dalam hati.

“Tapi biar bagaimanapun aku harus menuruti perintah senator tua, kalau tidak… posisiku yang akan terancam,” sadar pria itu dengan berat hati.

Sesampainya di rumah, pria itu langsung membuka laptop dan mencari kontak jurnalis yang diinginkan oleh senator tua. Setelah 30 menit mencari, dapatlah dua orang jurnalis terkenal di negeri itu yang bernama Michael dan Ozak.

Michael dan Ozak adalah dua orang sahabat yang merupakan jurnalis sekaligus penulis yang buku-bukunya adalah buku yang paling diminati oleh masyarakat di negeri itu. Michael dan Ozak lebih terfokus pada tulisan-tulisan tentang keadaan negerinya dari waktu ke waktu. Hampir semua tulisannya masuk media massa.



Mendapat nomor telepon Michael dan Ozak, pria yang merupakan staf dari senator tua langsung menghubungi keduanya. Namun, hanya Michael yang dapat menerima panggilan dari senator tua. Sedangkan Ozak masih sibuk mengurus proses penerbitan bukunya yang berjudul ‘Kebijakan Membawa Petaka’, buku ini merupakan buku yang isinya berupa sindiran keras kepada senator di negeri itu.

Keesokan harinya, di ruangan yang dingin dan bersih terlihat senator tua sangat tenang menanti akan kedatangan seseorang, sesekali ia mengetuk-ketuk kakinya ke lantai seiring dengan alunan musik klasik bernada rendah yang sengaja ia putar untuk menenangkan pikirannya. Sepertinya senator tua itu sudah mempersiapkan diri untuk menyambut seorang jurnalis terbaik di negeri itu. 

Selang beberapa waktu, masuklah staf senator bersama Michael ke ruangan yang sangat tenang itu. Ingin terlihat lebih serius, senator tua itu segera mematikan alunan musiknya dan membuka percakapan dengan Michael.

“Selamat pagi Michael,” sapa senator tua dengan hangat dan senyum yang tidak biasanya.

“Selamat pagi, Pak,” jawab Michael.

Melihat hal itu, staf senator tua  lantas bingung dengan sikap senator yang ramah, tidak seperti biasanya yang ia pernah lihat sebelumnya. Hati pria itu terus bertanya-tanya ada apa dengan senator. 

“Ada perlu apa ya Pak, sehingga memanggil saya kesini?” tanya Michael mencoba masuk ke inti pembahasan.

“Oh, tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin berbincang sedikit dengan kamu,” kata senator tua masih dengan senyum hangatnya.

“Baiklah, bicara tentang apa ya Pak?” tanya Michael lebih dalam lagi.

Senator tua menanyakan tentang suasana yang terjadi di negeri itu. Sebagai seorang jurnalis, Michael tahu persis apa saja keluhan masyarakat belakangan ini, kerusuhan yang terjadi, bahkan dampak buruk nya juga dirasakan Michael. Di tengah-tengah penjelasan Michael yang begitu rinci, senator langsung menimpali tanggapan Michael seolah tanggapan Michael tidak ada benarnya.

“Kenapa Pak? Kan memang seperti itu faktanya,” sanggah Michael dengan penuh percaya diri.

Suasana mulai rumit, staf senator tua yang masih mendengar obrolan mereka lagi-lagi bergumam dalam hati “Sepertinya akan terjadi hal yang tidak beres sebentar lagi”. 

Senator tua mengeluarkan segepok uang dari saku dan laci mejanya.

“Kamu ini seorang jurnalis, tapi bicaranya sangat berlebihan seperti itu”.

“Berlebihan? Maksud Bapak?” Tanya Michael dengan nada penasaran.

“Ini ada uang yang tidak sedikit, ambil uang ini dan buatlah berita yang sangat berlebihan lagi, bahkan lebih dari apa yang kamu sampaikan tadi,” seru senator tua sembari menggeser uang itu ke hadapan Michael.

“Eh, tidak! tidak! Saya sama sekali tidak mengerti maksud Bapak dengan uang sebanyak ini,” Kata Michael curiga.

“Kamu aku perintahkan untuk membuat berita yang membalikkan fakta–fakta yang ada agar masyarakat kembali kondusif…” kata senator tua dan langsung dipotong oleh Michael.

“Dan membiarkan semua kebijakan busuk anda terus dijalankan? Dengan menyuap saya? HAHAHA…. Tentu saya tidak akan menuruti perintahmu wahai senator keparat,” kata Michael seolah-olah sedang berbicara dengan pelaku kriminal.

“Oh… Jadi begitu? Bagaimana saya menyuap anda dengan  ini?” ungkapnya dengan mengacungkan pistol ke arah kepala Michael.



Melihat hal itu, suasana menjadi sangat tegang, ekspresi cemas dari staf senator dan Michael pun terlihat jelas. Sontak mereka berdua langsung berdiri panik dan menelan air ludahnya, tentu mereka sangat khawatir dengan keadaan saat itu. Senator itu tidak juga menurunkan pistolnya. Mungkin jalan satu-satunya adalah jika Michael menuruti perintah senator tua itu.

Selang beberapa detik kemudian, “HENTIKAN!!!” 

Suara dari luar ruangan bergema keras, ada yang mendobrak pintu ruangan kaca itu. Pintu langsung terbuka dan masuklah beberapa polisi bersenjata mengepung ruangan senator tua.

“Turunkan pistolmu!” seru salah satu aparat kepada senator tua.

Dengan ekspresi takut, senator tua langsung menurunkan pistolnya dan mengangkat kedua tangannya.

“Jangan bergerak!” teriak Polisi itu menginstruksikan kepada rekannya untuk memborgol senator tua sekaligus dengan stafnya. 

Polisi memborgol keduanya dan membawa mereka ke ruangan itu. Michael yang menjadi target senator itu pun lega dan ikut keluar ruangan.

“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Ozak yang melihat Michael menghampirinya.

“Tentu tidak, Sob” jawab Michael dengan senyumnya.

“Syukurlah” kata Ozak.

“Waktu yang tepat dan kerja yang bagus” puji Michael kepada Ozak.

“Keberanianmu juga bagus hehehe” ledek Ozak.

“Untung saja tidak jadi ditembak, bisa mati aku tadi” kata Michael .

Michael dan Ozak pun ikut polisi untuk menjadi saksi kejahatan senator dan stafnya.

Di hari itu juga, media sangat digemparkan dengan aksi heroik dari Michael dan Ozak, aksi mereka banyak diperbincangkan di seluruh media elektronik maupun cetak. Masyarakat masih bertanya-tanya dengan kejadian  sebenarnya yang dialami dan dilakukan mereka berdua. Namun, akhirnya rasa penasaran itu hilang setelah mereka menjelaskannya di salah satu stasiun TV nasional. 

Masyarakat dan pihak kepolisian sangat mengapresiasi kinerja Michael dan Ozak dalam mengungkap masalah ini. Sehingga mereka dijuluki sebagai “Jurnalis of Change“, karena  pada saat itu mereka berhasil mengubah situasi krisis di negeri itu menjadi lebih kondusif . 

Masyarakat sangat berharap akan muncul pemimpin-pemimpin  baru yang bertanggung jawab di negeri itu, mengembalikan tatanan negara telah hancur, dan meredakan emosi masyarakat sehingga kehidupan di negeri itu akan kembali normal.

Komentar Facebook Anda
Angga Pratama

Angga Pratama

Penulis adalah Mahasiswa Ekonomi Pembangunan FEB USU Stambuk 2020. Saat ini Angga menjabat sebagai Staf Pengembangan Sumber Daya Manusia BOPM Wacana.