BOPM Wacana

Ismail Usman: Memasak Adalah Ibadah

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Hadissa Primanda

“Tidak ada orang yang hijrah, tidak sukses,” -Ismail Usman

Ismail Usman
Foto: Andika Syahputra

Sebuah mobil carry warna merah berhenti di bagian belakang Masjid Raya Aceh Sepakat, Kamis sore (18/7). Seorang pria berumur 69 tahunturun dari dalam mobil, menenteng bungkusan berisikentang. Ia baru saja pulangdari pasar. Ismail Usman, priatua tersebut menjadi jurumasak masjid selama bulanRamadan. Ia dibantu 4 orang juru masak lain, dan sekitar 30-an orang yang membantu mempersiapkan tempatberbuka puasa.

Pekerjaan ini telah dilakoninya selama 20 tahun, sejak Masjid Raya Aceh Sepakat masih berbentuk musala. Hingga sekarang, masjid inimemang menyediakan makanan gratis untuk berbuka puasa selamabulan Ramadan.

Ia bercerita, setelah tamat SMA, sekitar tahun 1961, ia langsungmerantau ke Medan. Ekonomi keluarga yang sulit membuat anak keduadari enam bersaudara ini berpikir untuk mencari kerja. Baginya, merantau adalah bagian dari pada hijrah, seperti yang dahulu pernahdilakukan Rasulullah. “Tidak ada orang yang hijrah, tidak sukses,” ujarnya. Karena, saat merantau, segala sesuatunya bergantung padausaha kita sendiri untuk mengerahkan tenaga dan pikiran dalam mencarikehidupan. Hal ini tidak akan ditemui jika masih berada di kampung, karena masih ada orangtua dan sanak saudara tempat bergantung.

Alhasil, ia pun menjadi supplier barang-barang dari Medan ke Aceh. Barang yang dipasok adalah barang-barang yang dibutuhkan di Aceh, seperti mesin, perlengkapan nelayan, alat-alat bangunan, dan lain-lain.Ini juga masih ia kerjakan hingga sekarang, di luar bulan Ramadan. “Pas bulan Ramadan full di sini,” ujarnya.

Kemampuan memasak yang dimiliki Ismail sudah dimilikinya sejak dulu.Ia bilang, di Aceh, baik anak laki-laki dan perempuan diajarkanmemasak sedari muda. Ayahnya pernah mengatakan, ”Iya kalau kamuada duit bisa sewa pembantu, kalau pas-pas aja waktu istri melahirkanmisalnya, siapa yang masak?”

Bekerja sebagai juru masak selama bulan Ramadan membuat bapakdari 4 anak ini tak bisa berbuka puasa di rumah. Ia hanyaberkesempatan berbuka puasa dengan keluarganya pada awal dan akhirRamadan.

Meskipun ada yang harus dikorbankan, Ismail mengatakan keikhlasanadalah kunci dalam menjalankan aktivitas masak-memasaknya ini. Iasama sekali tidak mengharapkan apa-apa dari pekerjaannya danmenjadikan ini sebagai bentuk ibadahnya kepada Allah. “Gak ada sukadukanya, hanya ada ketenangan jiwa yang kita dapat karena di siniberbuat kebaikan kepada orang lain, sekaligus bisa beramalnya denganberjamaah,” terangnya.

Husni Mustafa, Ketua Umum Dewan Pimpinan Provinsi Aceh Sepakat Sumatera Utara mengaku langsung cocok dengan sosok Ismail saatbertemu sembilan tahun silam. Ia mengaku, Ismail banyak membantudalam kegiatan ini. Apalagi kegiatan ini bernilai amal ibadah dan bukansemata-mata mengharapkan sesuatu. “Gak semua orang maumelakukan ini selama sebulan penuh,” ujarnya.

Ditambah lagi, banyak apresiasi yang datang dari masyarakat.“Lidahnya juga cocok, manajemennya juga cocok, Alhamdulillah-lah.”

Kini, Ismail telah dikaruniai 4 orang cucu. Keempat anaknya telahberkeluarga dan memiliki pekerjaan. Anaknya yang pertama adalahseorang kontraktor pada PT Kesayangan.

Anak keduanya adalah pengusaha mandiri yang bergerak di bidangpertanian. Kemudian anaknya yang ketiga adalah seorang apoteker, sementara yang bungsu berprofesi sebagai akuntan. Istrinya sendirimembantu pekerjaannya sehari-hari sebagai supplier.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).