BOPM Wacana

FPCI USU Gelar DiploFair 2026 Dorong Generasi Muda Kenali Diplomasi dan Dampak Sosial

Dark Mode | Moda Gelap
Foto bersama panitia dan narasumber dalam DiploFair 2026 yang digelar FPCI Chapter USU di Aula Soehadji Hadibroto, FEB USU, Sabtu (29/8/2026). | Sumber Istimewa

Oleh: Muaz Alfattah Fadhani

Medan, wacana.org – Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter USU menggelar DiploFair 2026 dengan mengangkat tema “The Diplomatic Hack: Creating Shortcuts to Social Impact” di Aula Soehadji Hadibroto, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan dua keynote speaker, yaitu Consul-General of Japan in Medan, Furusawa Ken, dan Consul of Malaysia in Medan, Muhammad Amir bin Mohd Hafiz. Selain itu, Duta Besar Indonesia untuk Kamerun, H.E. Agung Cahaya Sumirat, serta Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Mr. Rod Brazier, turut hadir secara virtual sebagai pemberi opening remarks.

Ketua Panitia DiploFair 2026, Balad Akbar, mengatakan tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan awareness generasi muda terhadap isu-isu global dan pentingnya diplomasi dalam kehidupan sehari-hari. “Diplomasi bukan hanya milik diplomat atau pemerintah, tetapi merupakan keterampilan yang dapat dimiliki siapa saja untuk membangun kolaborasi, menyelesaikan masalah, dan menciptakan social impact,” ujarnya.

Balad menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye FPCI USU, “Making Global Local”. Tema diplomasi dan social impact dipilih karena tantangan global saat ini semakin kompleks dan membutuhkan kolaborasi dari berbagai sektor. Ia menilai diplomasi tidak lagi hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi dan kerja sama.

“Kami percaya diplomasi tidak lagi soal hanya hubungan antarnegara, tetapi juga tentang kemampuan membangun komunikasi, kerja sama, dan menghasilkan dampak positif di tengah masyarakat,” jelasnya.

Dalam mempersiapkan kegiatan, Balad menyebut koordinasi dengan berbagai pihak menjadi tantangan terbesar. Panitia perlu berkoordinasi dengan mitra hingga perwakilan diplomatik yang memiliki latar belakang berbeda.

“Tantangan terbesar adalah mengoordinasikan banyak pihak dengan latar belakang yang berbeda, mulai dari panitia, mitra, hingga para perwakilan diplomatik, sambil memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana. Namun, justru melalui proses tersebut kami belajar bahwa komunikasi dan kerja sama merupakan kunci keberhasilan kegiatan,” katanya.

Salah satu peserta, Nadine Angelia Manogu Sianturi, mahasiswa Fakultas Hukum USU stambuk 2025, menyampaikan kesannya setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya menikmati acaranya dari awal sampai selesai. Insight terbesar saya adalah menyadari dampak nyata dari diplomasi budaya. Melihat bagaimana Indonesia, Jepang, dan Jerman saling mengenalkan warisan mereka membuktikan bahwa pertukaran budaya adalah fondasi yang luar biasa untuk kerja sama global,” ungkapnya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus