BOPM Wacana

Filsafatian, Musik Jalan Perlawanan

Dark Mode | Moda Gelap
Restu Purba, Ando Banurea, dan Santus Sitorus (kiri ke kanan). | Dokumentasi Filsafatian

 

Oleh: Adinda Zahra Noviyanti

“Kami melawan dengan musik, kalian—Pers Mahasiswa—dengan tulisan dan kegiatan jurnalistik. Orang lain silakan cari dan pilih jalan perlawanan kalian!”—Filsafatian Band.

Wajah penonton hanya celingak-celinguk tanpa reaksi. Tak ada gerakan tangan, iringan suara mengikuti lagu, ataupun hentakan kaki. Padahal lantunan musik yang dibawakan mengajak untuk bergoyang riang.

Gelanggang Mahasiswa USU saat itu sedang penuh pada acara yang diadakan oleh Pemerintahan Mahasiswa USU dalam Closing USU Spot War pada 27 November 2017 yang yang dihadiri mahasiswa dan para dekan. Saat Filsafatian mulai berdendang malah menjadi seperti milik mereka saja. Dalam orasinya, mereka mengkritik kampus yang terlalu membatasi mahasiswa. Tak bisa ditarik kesimpulan, diam mereka berarti setuju atau takut diselentik dekannya.

Lain halnya saat mereka mengisi di beberapa tempat lain seperti diskusi di Degil House, Litercy Coffee, ataupun acara Klinik Musik Antikorupsi oleh KPK. Penonton wajahnya sumringah. Sebagian bernyanyi seperti berteriak-teriak tanpa memperhatikan nada melontarkan emosinya. Bahkan berdiri di dekat panggung sambil jingkrak-jingkrak mengatur irama gerakan tubuh.

Tak bisa dipungkiri, lagu-lagu yang dibawakan Filsafatian memang sulit dinikmati kebanyakan masyarakat Indonesia. Sepertinya apa yang dikatakan Efek Rumah Kaca dalam lirik salah satu lagunya tentang musik indonesia yang selalu mengarah pada tema cinta menjadi hal yang benar. Atas nama pasar semuanya begitu benar… Lagu cinta melulu.

Band yang terbentuk pada 2010 lalu ini memang berkomitmen untuk menyuarakan ketidakadilan, sosial, politik yang perlu dikritik, hingga kebangsaan yang selama ini jarang oleh band lain. Tapi menurut mereka hal tersebut tak muluk-muluk soal menyuarakan keadilan rakyat namun sekadar menyuarakan keresahan pribadi yang kebetulan sama dengan masyarakat lain rasakan.

Nama Filsafatian tercetus dari pemikiran bahwa manusia setiap hari berfilsafat, lantas bukan hanya yang mengaku kaum inlektual saja yang berfilsafat. Menurut mereka bahkan tukang becak pun berfilsafat. Kata filsafat memang terkesan berat namun mereka yakin nama tersebut bisa melebur dan tidak hanya dianggap sebuah kelompok musik melainkan tapi juga pergerakan. Siapapun yang menyukai filsafat dengan demikian dia adalah seorang Filsafatian.

Mengulik band sebenarnya tak begitu menarik bila membahas genrenya. Namun lain halnya dengan band yang sudah bongkar pasang personil sebanyak sembilan kali ini. Ketika ditanya genre mereka, jawabnya musik. Di situlah bentuk pemberontakan filsafatian. Menurutnya, tidak perlu menetapkan diri pada satu genre. Meraka berharap nantinya bisa mempunyai album dengan lebih banya gendre musik.

Sedangkan, lagu-lagu band yang kerap mengisi acara-acara kolektif dan aksi sosial ini bawakan kebanyakan—hampir semua—bernada satire. Keberadaannya memang bertujuan untuk menyentil kondisi sosial yang mereka rasa sedang karut marut. Misal, lagu mereka dengan judul Revolusi Mental yang menyentil para aparatur negara yang bebal karna tak mau diubah mentalnya.

Jika menelaah lirik lagu dari revolusi mental, bisa saja kita mengira lagu ini mengejek konsep revolusi mental ala Pemerintahan Joko Widodo yang banyak dirasa semu.

Lihat perusuh perusuh dibayar orang, berani-berani pada yang maha

Pegawai-pegawai negeri yang malas, menarik-menarik gaji bulanan

Revolusi mentel….

Lihat pelajar pelajar yang kurang ajar, memaki tak tau diri

Polisi yang gila uang, menunggu duit setoran

Hukum lindungi maling kotor

Wakil rakyat wakil koruptor di persidangan malah molor

Revolusi Mentel…

Filsafatian saat mengisi acara Medan Juang: Solidaritas untuk Kulon Progo di Degil House, Senin (30/7). | Adinda Zahra Noviyanti

 

Lirik lagu tersebut mengantarkan Revolusi Mental menjadi official lagu Komisi Pemberantasan Korupsi. Beberapa lirik lagu diubah agar kontennya dikuatkan untuk lebih gencar ‘menghina’ tingkah laku koruptor. Jika menelaah lirik lagu dari revolusi mental, bisa saja kita mengira lagu ini mengejek konsep revolusi mental ala Pemerintahan Joko Widodo yang banyak dirasa semu. Ternyata tidak.

Dalam lagu tersebut juga mempertanyakan lemahnya negara dalam penanganan korupsi. “Pemimpin kan nyuruh yang direvolusi mental, kenapa kalian—aparatur negara— mentel? Lagunya nyerang DPR juga yang suka tidur. Selain itu, adapula tentang pertemanan, kritik maraknya kelapa sawit tapi sawah mulai berkurang,” singgungnya.

Begitupun pada Extended play (EP) pertamanya, Jejak Awal, juga tak jauh berbeda dengan album Revolusi Mental. Album yang memperkenalkan awal keberadaan Filsafatian in berisi suara sosial, kemarahan, ajakan saling perduli, tidak membenci antaragama, juga menjaga hutan. Dan konsisten dengan kondisi sosial pada EP yang baru dirilis pada Sabtu (13/10).

Lewat lirik lagu yang satire mereka tegas menolak acara yang memiliki unsur politis. Salah seorang personil, Santus bahkan pernah mengalami langsung. Filsafatian pernah diminta untuk mengisi kampanye pasangan calon gubernur-wakil gubernur, Djarot-Sihar. Mereka menolak. Bukan main, ada keluarga yang ‘ngambek’. “Kenapa kau enggak mau isi acara Djoss, Sitorus itu keluarga kita”. Ia hanya tertawa.

Untuk eksistensi mereka memang tak setenar Nosstress, Jason Ranti, ataupun Iksan Skuter apalagi Efek Rumah Kaca jika dilihat dari penonton mereka di Youtube. Tapi mereka tidak peduli sebab yang terpenting adalah bagaimana menyerukan suara hati mereka dengan musik ketimbang harus ketenaran ataupun penghasilan dari manggung yang diharapkan. “Kami Cuma mau berkarya, masalah ada yang mau dengar syukur enggak yaudah,” sentil Restu yang merupakan alumni Satra Jepang USU 2011. “Malah kami yang sering nyumbang kalau acaranya aksi sosial,” tambah sambil tertawa Santus.

Santus Sitorus, Ando Banurea, Kuncoro Helwani dan Restu Purba, merekalah orang-orang yang “pusing, pening, dan berang”—lirik lagu Pusing dan Beram—melihat korupsi. Terlebih pada mahasiswa yang ‘pukul-pukulan’ dengan polisi gara-gara “presiden” tapi diam saja lihat Medan jadi kota terkorup di Indonesia. Meraka putuskan melawan dengan musik.

Bagaimana dengan kita? Kita dongkol lihat rasuah berkeliaran lantas pantaskan kita diam saja atau mencaci dan meminta Presiden Jokowi Dodo turun. Ayo cari, kita bisa melawan dengan apa!

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4